Tahun 2022 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Berpotensi Capai 6,2 Persen

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Bank Indonesia memperkirakan Indonesia akan mengalami akselerasi pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 – 2022. Sementara pada tahun 2018 diasumsikan berada di level 5,1% – 5,5%.

Lima tahun mendatang atau pada tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditaksir Bank Indonesia akan berada dikisaran 5,8%-6,2%. Sementara posisi inflasi diyakini akan terkendali pada kisaran 3% plus minus 1% pada tahun 2022.

Hal ini lantaran supply (pasokan) barang dan jasa yang lebih kuat dalam mengakomodasi permintaan. Adapun defisit transaksi berjalan diperkirakan bakal menurun.

Asumsi tersebut diungkapkan Gubernur BI Agus DW Martowardojo. Menurutnya bank sentral meyakini defisit transaksi berjalan tetap pada level yang sehat di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB).

“Kami berkeyakinan, kebijakan-kebijakan penguatan momentum pemulihan ekonomi jangka pendek yang mempercepat transformasi ekonomi, dapat membawa perekonomian tumbuh lebih kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif,” ujar Agus saat menyampaikan pidato pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2017 beberapa waktu lalu.

Saat ini kata Agus, momentum pemulihan ekonomi sedang berjalan dan merupakan tahapan awal yang harus dirawat dan perkuat.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat bertransformasi menjadi lebih kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif.

Menyambut tahun 2018, BI melihat pertumbuhan ekonomi akan berada dikisaran 5,1%-5,5% karena didorong permintaan domestik.

Sementara itu, jelas Agus, inflasi pada tahun 2018 diperkirakan berada pada kisaran sasaran 3,5% plus minus 1%. Defisit transaksi berjalan diperkirakan sedikit meningkat, namun tetap di bawah 3% dari PDB.

Untuk pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan Agus mengatakan akan berkisar antara 9%-11%. Adapun pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan antara 10%-12% pada tahun 2018.

“Di tengah berbagai tantangan, kita tidak dapat mengedepankan kepentingan sektoral, namun perlu menyamakan pandangan dan terus bersinergi menyatukan gerak langkah ke depan,” ujarnya.

Adapun untuk tahun 2017 ini, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1% dengan posisi inflasi berkisar antara 3%-3,5% dan defisit transaksi berjalan di bawah 2 persen dari PDB.

“Kompleksitas permasalahan yang ada menyiratkan perlunya upaya yang tersinergi untuk menjaga kesinambungan dari keseimbangan kebijakan pada tiap tahapan menuju terwujudnya cita-cita mulia bersama,” katanya.

(and/ttcom)

Berita Terkait

Penumpang Garuda di Ambon Meningkat 7 Persen
views 24
AMBON (TAJUKTIMUR.COM) -- Peningkatan jumlah penumpang maskapai Garuda Indonesia rute dari dan keluar Kota Ambon pada 2017 mencapai tujuh persen diban...
Utang Luar Negeri Indonesia Naik 9.1 Persen
views 26
JAKARTA, (TAJUKTIMUR.COM) -- Utang Luar Negeri Indonesia naik 9,1 persen tahun ke tahun (year on year) atau menjadi 347,3 miliar dolar AS per akhir No...
JK: Impor Beras Tidak Ganggu Petani Lokal
views 40
JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan kebijakan impor beras sebanyak 500 ribu ton tidak akan mengganggu harga jual petani d...
BPS: Defisit Perdagangan USD 0,27 Miliar di Desemb...
views 41
JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) - Badan Pusat Statistik Senin (BPS), melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2017 mengalami defisit sebesar USD...
Insiden Robohnya Selasar Lantai 1 BEI, Perdagangan...
views 34
JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) - Selasar atau Balkon Gedung Bursa Efek Indonsia amburuk, Senin, 15 Januari 2018 sekitar pukul 12.10 WIB. Dari pantauan ta...
Lonjakan Harga Beras Berdampak pada Inflasi dan Ke...
views 41
MAKASSAR (TAJUKTIMUR.COM) - Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kasan mengungkapkan pemerintah memberikan atensi khusus terkait lonja...
BI Larang Masyarakat Menjual, Membeli atau Memperd...
views 44
JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) - Bank Indonesia menegaskan bahwa virtual currency termasuk Bitcoin tidak diakui sebagai alat pembayaran yang sah. Untuk itu,...
Share this:

Tinggalkan Balasan