UNESCO Akui Phinisi Sebagai Warisan Dunia Asal Indonesia

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Seni pembuatan kapal Phinisi resmi dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda asal Indonesia oleh UNESCO.

Dalam sidang penetapan warisan dunia ke-12 yang berlangsung di Pulau Jeju, Korea Selatan tersebut, budaya kapal Phinisi diakui menjadi bagian seni berlayar wilayah kepulauan yang tak ternilai. Seni pembuatan kapal asal Sulawesi Selatan dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda atau Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO.

Phinisi merupakan salah satu dari 33 warisan tak benda dunia lainnya yang masuk dalam daftar UNESCO kali ini. Sejumlah warisan dunia lainnya yang ditetapkan yakni musik Khaen dari Laos, karnaval Basel dari Swiss, seni tari dan musik Zaouli dari Pantai Gading, dan teknik memasak Pizzaiuolo dari Italia.

Dengan terpilihnya Phinisi, maka Indonesia memiliki delapan budaya yang masuk dalam daftar UNESCO sejauh ini. Warisan lainnya yang lebih dahulu ditetapkan yaitu wayang, keris, batik, angklung, Tari Saman, Noken Papua, Tiga tari Bali, dan program pendidikan batik di Museum Batik Pekalongan.

Dikutip dari keterangan resmi Kementerian Luar Negeri, Minggu (10/12/2017) Duta Besar RI untuk Prancis, Monaco dan Andora sekaligus Wakil Tetap RI di UNESCO
Hotmangaradja Pandjaitan mengatakan  komunitas dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengusulan Phinisi ke dalam daftar ICH UNESCO.

Dia mengatakan hal ini menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah serta komunitas untuk memberikan perhatian lebih dalam pengelolaan Warisan Budaya Takbenda yang ada di wilayahnya masing-masing, utamanya bagi pengembangan pengetahuan, teknik dan seni warisan budaya tak benda lainnya.

Sebagai informasi, pembuatan perahu Phinisi masih bisa ditemui di beberapa wilayah Sulawesi Selatan, yaitu di Tana Beru, Bira, dan Batu Licin di Kabupaten Bulukumba.

Rangkaian proses pembuatan Phinisi merefleksikan nilai sosial dan budaya kehidupan sehari-hari, yaitu kerja bersama, bekerja keras, keindahan, serta penghargaan terhadap lingkungan alam. Teknik pembuatan kapal pinisi juga sangat memperhatikan ketelitian dari sisi teknik dan navigasi.

(and/ttcom)

Berita Terkait

Museum Bahari Terbakar, Koleksi Bersejarah Alami K...
views 21
JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) - Koleksi bersejarah yang tersimpan di Museum Bahari mengalami kerusakan karena kebakaran yang melanda pada Selasa pagi pukul...
Kasus Joshua, Tiga Orang Jadi Saksi Pelapor
views 22
JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) - Tiga orang akan menjadi saksi pelapor dalam kasus dugaan tindak pidana penghinaan agama oleh mantan penyanyi cilik Joshua S...
Kini di Soekarno-Hatta tak Perlu Antri untuk Bagas...
views 29
TANGERANG (TAJUKTIMUR.COM) -- Memanfaatkan teknologi terkini bukan hal baru lagi bagi pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta, PT Angkasa Pura ...
Presiden: Dana PKH Dapat Dicairkan Februari 2018
views 40
BANJAR (TAJUKTIMUR.COM) - Presiden Jokowi mengemukakan, dana Program Keluarga Harapan (PKH) sudah dapat dicairkan oleh penerima mulai 1 Februari menda...
Letjen TNI Agus Kriswanto Resmi Menjabat Pangkostr...
views 30
JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) - Jabatan Panglima Kostrad resmi diganti dari Letjen TNI Edy Rahmayadi kepada Letjen TNI Agus Kriswanto dalam upacara serah t...
Masyarakat Dihimbau Tak Sebarkan Video Runtuhnya G...
views 29
JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) - Kepolisian Republik Indonesia mengimbau kepada semua pihak agar tidak menyebarkan video yang berkaitan dengan runtuhnya sel...
Menko Darmin: Beras Impor Masuk Secara Bertahap
views 30
JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan impor beras yang dilakukan pemerintah dengan kuota 500 ...
Share this:

Tinggalkan Balasan