Loading...

Alasan BI Soal Defisit Neraca Perdagangan

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2018 tercatat defisit sebesar 2,81 persen. Data BPS disebabkan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas yang lebih besar ketimbang penurunan neraca perdagangan migas.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Agusman menuturkan, bank sentral memandang defisit neraca perdagangan tidak lepas dari peningkatan kegiatan produksi dan investasi. Ini sejalan dengan membaiknya prospek perekonomian domestik dan pengaruh kenaikan harga impor.

“Ke depan, kinerja neraca perdagangan diperkirakan membaik, seiring berlanjutnya pemulihan ekonomi dunia dan harga komoditas global tetap tinggi,” ujar Agusman kepada wartawan, Sabtu 16 Februari 2018.

Perkembangan tersebut, diyakini akan mendukung perbaikan prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja transaksi berjalan. Walaupun, surplus neraca perdagangan nonmigas pada Januari 2018 tercatat 0,18 miliar dollar AS, lebih rendah dibandingkan surplus bulan sebelumnya yang mencapai 0,83 miliar dollar AS.

Rendahnya surplus neraca perdagangan nonmigas tersebut dipengaruhi peningkatan impor nonmigas sebesar 0,46 miliar dollar AS secara bulanan (mtm) yang disertai penurunan ekspor nonmigas sebesar 0,19 miliar dollar AS (mtm).

Peningkatan impor nonmigas terutama bersumber dari kenaikan impor mesin dan pesawat listrik, plastik dan barang dari plastik, kendaraan dan bagiannya, bahan kimia organik, serta senjata dan amunisi.

Sementara itu, penurunan ekspor nonmigas terutama disebabkan turunnya ekspor lemak dan minyak hewan atau nabati, besi dan baja, timah, bijih, kerak, dan abu logam, serta nikel.

Adapun defisit neraca perdagangan migas menurun seiring penurunan impor yang lebih besar dibandingkan penurunan ekspor. Defisit neraca perdagangan migas turun dari 1,05 miliar dollar AS pada Desember 2017 menjadi 0,86 miliar dollar AS pada Januari 2018.

Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi turunnya impor migas sebesar 0,42 miliar dollar AS (mtm) yang terjadi baik pada impor minyak mentah, hasil minyak, maupun gas. Sementara itu pada periode yang sama, ekspor migas juga tercatat turun sebesar 0,22 miliar dollar AS (mtm)

(as)

Berita Lainnya
TCASH Berubah Menjadi LinkAja JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Untuk menghadirkan layanan keuangan elektronik yang lebih baik, mudah dan ...
PT KCI Targetkan KMT jadi Uang Elektronik Tahun ini JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menargetkan Kartu Multi Trip (KMT) bisa...
Lion Air Group Berlakukan Kebijakan Baru Soal Bagasi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Maskapai penerbangan Lion Air dan Wings Air, yang merupakan bagian dari Li...
Kemenkominfo Terus Pantau Proses Refund ‘Bolt’ dan ‘First Media’ JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Setelah mengeluarkan keputusan pengakhiran penggunaan pita frekuensi radio...
Bank Muamalat Jalin kerja sama Pemanfaatan Data Kependudukan dengan Dukcapil JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk menjalin kerjasama dengan Direktorat Jender...
Kanal: Ekonomi & Bisnis