Loading...

Arcandra Tahar: Prinsip Dasar Gross Split Pikat Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar memaparkan prinsip-prinsip dasar terkait kebijakan kontrak bagi hasil migas (Production Sharing Cost/PSC) Gross Split di hadapan para Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI). Dengan adanya prinsip tersebut, gross split diyakini menjadi peluang bagi industri nasional penunjang migas di Indonesia.

“Tiga spirit gross split ini akan membawa industri migas lebih efektif dan efisien. Bukan ditujukan untuk industri dalam negeri agar tidak tumbuh. Bukan itu!” kata Arcandra saat berdiskusi dengan para CEO industri Migas di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Rabu (22/11) siang kemarin.

Ada tiga prinsip dasar, ungkap Arcandra, dalam penerapan skema gross split. Prinsip ini yang kemudian mampu mendorong perbaikan bisnis hulu migas di Indonesia ke arah yang lebih baik. Tiga prinsip tersebut, antara lain:

Pertama, kepastian (certainty), yaitu parameter pemberian insentif jelas dan terukur sesuai dengan karakter/tingkat kesulitan pengembangan lapangan.

Kedua, sederhana (simplicity), yaitu mendorong bisnis proses Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan SKK Migas lebih sederhana dan akuntabel. Dengan begitu, sistem pengadaan (procurement) tidak terlalu birokratis.

Terakhir, efiesien (efficiency), yaitu bisa menghadapi gejolak harga minyak dunia dari waktu ke waktu.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal IAFMI Taufik Aditiyawarman menyatakan mekanisme gross split dapat membawa dampak baik industri penunjang migas terutama dari peluang atas penggunaan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

Arcandra menceritakan kronologi lahirnya kebijakan baru tersebut dilatarbelakangi oleh penerimaan negara yang menyusut dibandingkan dengan biaya cost recovery yang dikeluarkan oleh negara.

“Dari tahun 1997-2014 penerimaan pemerintah lebih tinggi dari cost recovery, namun 2015 dan 2016 cost recovery lebih tinggi dari penerimaan Pemerintah,” sesal Arcandra.

Faktor lain yang jadi perhatian Arcandra atas munculnya gross split adalah Reserve Replacement Ratio/RRR atau Rasio antara Penemuan Cadangan dengan Tingkat Produksi Migas. RRR Indonesia kalah jauh dari Vietnam dengan RRR di atas 150%.

“Kita lebih banyak yang diproduksikan daripada menemukan cadangan. Indonesia hanya menang dari Thailand. Ini bagi bangsa kita, bagaimana reserve replacement ratio bisa diatas 100%?” terangnya.

Arcandra mengakui, sulitnya mengontrol harga minyak dunia jadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah. Akan tetapi, Pemerintah masih punya kendali dalam mengontrol biaya proses bisnis migas. “Yang kita bisa control adalah cost,” tegas Arcandra.

(dwisan/ttcom) 

Berita Lainnya
PT KCI Targetkan KMT jadi Uang Elektronik Tahun ini JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menargetkan Kartu Multi Trip (KMT) bisa...
Lion Air Group Berlakukan Kebijakan Baru Soal Bagasi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Maskapai penerbangan Lion Air dan Wings Air, yang merupakan bagian dari Li...
Kemenkominfo Terus Pantau Proses Refund ‘Bolt’ dan ‘First Media’ JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Setelah mengeluarkan keputusan pengakhiran penggunaan pita frekuensi radio...
Bank Muamalat Jalin kerja sama Pemanfaatan Data Kependudukan dengan Dukcapil JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk menjalin kerjasama dengan Direktorat Jender...
Selama Liburan Natal dan Tahun Baru, BCA Tetap Buka JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Selama periode libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, layanan kantor PT Ban...
Kanal: Ekonomi & Bisnis