Loading...

BI: Rupiah Relatif Stabil dan Menguat

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM — Bank Indonesia menyebut pergerakan nilai tukar saat ini sudah relatif stabil dan bahkan cenderung menguat.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Jumat, menegaskan BI terus berkomitmen menggunakan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki dengan fokus kepada kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Berbagai kebijakan yang kita tempuh, alhamdulillah, memberikan suatu confidence ke pasar dan juga membuat imbal hasil pasar keuangan indonesia, khususnya SBN, berdaya saing,” jelas Perry.

Kebijakan yang sudah dilakukan BI antara lain menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi 5,25 persen dan melonggarkan kebijakan makroprudensial dengan pelonggaran LTV properti.

“[Kebijakan] itu semakin menumbuhkan arus inflow modal. Pasar valas juga bekerja sangat baik, suplai dolar cukup besar dan cukup untuk memenuhi kebutuhan permintaan yang ada,” ujar Perry.

Dia mengungkapkan, dari tanggal 2 hingga 12 Juli, arus modal yang masuk berjumlah Rp7,1 triliun yang umumnya diserap SBN berjangka panjang di atas 10 tahun.

“Ini menunjukkan bahwa confidence pasar dan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya di pasar SBN, cukup kuat,” klaim Perry.

Menurut Perry, koordinasi BI dengan kementerian keuangan yang semakin erat menjadi salah satu faktor yang memperbesar kepercayaan investor terhadap SBN.

Selanjutnya, Perry juga mengatakan pasokan dolar dari korporasi ke pasar valas mencukupi permintaan dengan rata-rata sebesar USD500-600 juta per hari.

“Terima kasih para korporasi dan eksportir yang juga confidence mensuplai kebutuhan di pasar valas sehingga semakin memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,” lanjut dia.

Oleh karena itu, Perry meyakinkan dunia usaha untuk tidak khawatir karena pasokan dolar di pasar dapat memenuhi kebutuhan.

BI juga berpesan kepada korporasi yang kebutuhan dolarnya tidak mendesak, agar tidak memenuhi kebutuhan dolarnya dari pasar spot, karena bisa dipenuhi dari mekanisme swap.

Swap rate ke BI cukup rendah, yakni sekitar 6,2 persen untuk swap 1 bulan dan 7,3 persen untuk swap 3 bulan, ujar Perry.

Berita Lainnya
First Media dan Bolt Dicabut Izinnya oleh Kemkominfo JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT First Media Tbk dan PT Internux (selaku operator penyedia layanan inter...
Garuda Indonesia Group Luncurkan Wifi Gratis di Pesawat JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Mulai tahun 2019, penumpang Garuda Indonesia dan Citilink dapat menikmati ...
Indonesia Ikuti Pertemuan Dewan Bisnis APEC PORT MORESBY, TAJUKTIMUR.COM - Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan Dewan Bisnis Asia-Pacific E...
Kemenkeu Siap Luncurkan Portal Lelang JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Keuangan siap meluncurkan domain portal lelang Indonesia "lela...
Jusuf Kalla: Hadapi Revolusi Industri 4.0, Tingkatkan Daya Saing JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla memberi arahan kepada pelaku industri ...
Kanal: Ekonomi & Bisnis