Loading...

Disperindag: Harga Komoditas Ternate Selalu Fluktuasi

TERNATE (TAJUKTIMUR.COM) – Harga komoditas unggulan antara lain pala dan cengkeh di Ternate, Maluku Utara (Malut), selalu fluktuatif karena mata dagangan itu memiliki ketergantuang dari daerah-daerah sekitarnya.

“Kota Ternate memang bergantung pada sejumlah daerah seperti Halmahera Barat, Halmahera Timur, Taliabu dan daerah lainnya, sehingga mempengaruhi harga, untuk jenis komoditas ini selalu mengalami penurunan, apalagi musim panen itu sering terjadi dan kebanyakan para pengumpul selalu beralasan karena dipengaruhi harga dari Surabaya atau Makassar,” kata Kepala Bidang Perdagang Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate, Chairul Saleh Arief di Ternate, Minggu.

Ia mengatakan, berdasarkan harga di pasaran, hanya komoditas yang mengalami penurunan harga untuk hasil perkebunan yakni fuli pala dari harga sebelumnya minggu lalu sebesar Rp125 ribu turun menjadi Rp122 ribu per kg atau mengalami penurunan sebanyak -2,40 persen dan cengkeh yang dari harga minggu lalu sekitar Rp 110 ribu dan pada minggu ini turun menjadi Rp 106 ribu per kg atau mengalami penurunan berkisar -3,64 persen.

Sedangkan untuk harga komoditas yang lain masih tetab stabil diharga yang sama yakni biji pala diharga Rp 6 ribu per kg, kakao atau coklat sebesar Rp 20 ribu per kg, kopra sebesar Rp 8.500 per kg, kelapa buah Rp 4 ribu per buah dan kayu manis yang perikat di harga Rp 5 ribu.

Namun, saat ini akan dilakukan kerja sama dengan instansi terkait di antaranya Dinas Pertanian Kota Ternate, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Asosiasi Masyarakat Pelindung Petani Cengkeh (AMPPC) dan juga akan membahas apa-apa saja yang mempengaruhi sampai, sehingga terjadi fluktuatif harga.

Chairul mengaku, sejauh ini selalu ada tekanan dari pengungpul misalnya pada saat panen tiba, sehingga harga komoditasnya bisa anjlok.

Oleh karena itu, kedepannya masalah seperti itu harus diatasi mengenai fluktuasi haraga seperti ini dan juga harus menutupi lubang yang dapat membuat harga turun dengan signifikan.

“Kami rencanakan akan menciptakan pasar baru, dalam hal ini BUMD akan dilibatkan untuk menampung hasil bumi langsung dari masyarakat sebagaimana isu yang dibangun ketika AMPPC, serta meminta agar BUMD menyiapkan anggaran bersama-sama, apalagi saat ini BUMD memiliki lebel yaang dapat menjual langsung,” ujarnya.

Sehingga, dengan adanya BUMD, kerja sama dapat dilakukan dengan perusahan-perusahan yang cukup besar, seperti bekerja sama langsung dengan PT Gudang Garam atau PT Djarum untuk dapat menjualnya langsung ke sana tanpa perantara lagi.

(ant/and)

Berita Lainnya
PT KCI Targetkan KMT jadi Uang Elektronik Tahun ini JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menargetkan Kartu Multi Trip (KMT) bisa...
Lion Air Group Berlakukan Kebijakan Baru Soal Bagasi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Maskapai penerbangan Lion Air dan Wings Air, yang merupakan bagian dari Li...
Kemenkominfo Terus Pantau Proses Refund ‘Bolt’ dan ‘First Media’ JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Setelah mengeluarkan keputusan pengakhiran penggunaan pita frekuensi radio...
Bank Muamalat Jalin kerja sama Pemanfaatan Data Kependudukan dengan Dukcapil JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk menjalin kerjasama dengan Direktorat Jender...
Selama Liburan Natal dan Tahun Baru, BCA Tetap Buka JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Selama periode libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, layanan kantor PT Ban...
Kanal: Ekonomi & Bisnis