Loading...

Jusuf Kalla: Hadapi Revolusi Industri 4.0, Tingkatkan Daya Saing

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla memberi arahan kepada pelaku industri menghadapi tantangan revolusi industri dalam forum Economic Breafing, yang menggambil tema “Meningkatkan Daya Saing Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0”.

“Indonesia saat ini baru mengambil langkah menuju revolusi industri untuk bersaing di tingkat global, namun Indonesia masih mempunyai tantangan yakni masalah sumber daya manusia yang belum baik dan merata,” kata Jusuf Kalla yang merupakan pengusaha dari Indonesia Timur ini.

Wapres Jusuf Kalla meminta untuk membangun sumber daya manusia khusus pada revolusi industri 4.0, guna mengejar ketertinggalan dengan negara lain.

Menurutnya di Indonesia masih banyak berjalan revolusi industri pertama, kedua dan ketiga, sehingga industri berbasis 4.0 perlu dilakukan percepatan pembinaan sumber daya manusia yang membutuhkan pengunaan sistem robotnik dan otomatisasi.

“Di Indonesia masih ada revolusi pertama, kedua, ketiga, keempat, pertanian tetap ada 300 tahun lalu di Inggris, kedua mass production masih berjalan, ketiga internet masih, ke empat revolusi industri sudah mulai, kalau kita tidak mulai tidak berkembang, kita ini perkembangan tidak sekaligus, dibutuhkan SDM,” ungkap Wapres Jusuf Kalla di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, pada Kamis (15/11/2018).

Wapres Jusuf Kalla menegaskan, Indonesia harus segera mengejar ketertinggalan persaingan ekonomi dan industri dari negara lain. Disebutkannya persiangan ekonomi dan industri dunia saat ini yaitu pada kualitas terbaik, harga produk yang murah, dan produksi yang cepat. Selain itu ada perubahan industri yang cenderung mengikuti gaya hidup masyarakat yang tinggal di perkotaan.

“Inti ekonomi hari ini ialah persaingan, ekonomi yang terbuka menang yang terbaik, baik, murah, cepat, selain revolusi industri tidak kalah penting revolusi enterpreneur, perubahan gaya dan sistem,” kata Jusuf Kalla.

Kondisi nyata persaingan global saat ini yakni perang dagang antar dua negara besar yaitu Amerika Serikat dan China. Menurut Jusuf Kalla kedua negara tersebut memiliki kekhawatiran berkompetisi dan berdaya saing, sehingga saling menaikan nilai produk impor negaranya masing masing. Perang dagang ini juga berdampak ke perekonomian global, termasuk ke Indonesia.

“Amerika ekonominya sekarang proteksionis, terjadi perang dagang karena menaikan pajak tinggi pada China, juga Brevit akibat kehawatiran daya saing, China justru ekonomi liberal terbuka,” tambahnya.

Turut hadir dalam forum economic breafing diantaranya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, dan para pelaku usaha industri digital.

Berita Lainnya
TCASH Berubah Menjadi LinkAja JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Untuk menghadirkan layanan keuangan elektronik yang lebih baik, mudah dan ...
PT KCI Targetkan KMT jadi Uang Elektronik Tahun ini JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menargetkan Kartu Multi Trip (KMT) bisa...
Lion Air Group Berlakukan Kebijakan Baru Soal Bagasi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Maskapai penerbangan Lion Air dan Wings Air, yang merupakan bagian dari Li...
Kemenkominfo Terus Pantau Proses Refund ‘Bolt’ dan ‘First Media’ JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Setelah mengeluarkan keputusan pengakhiran penggunaan pita frekuensi radio...
Bank Muamalat Jalin kerja sama Pemanfaatan Data Kependudukan dengan Dukcapil JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk menjalin kerjasama dengan Direktorat Jender...
Kanal: Ekonomi & Bisnis