Loading...

Krisis Ekonomi Venezuela Dan Harga Minyak Dunia

VENEZUELA (TAJUKTIMUR.COM) – Kekacauan ekonomi yang semakin parah di Venezuela dipandang bisa mengguncang kekacauan minyak global. Venezuela kini sudah jatuh ke dalam krisis ekonomi dan kemanusiaan, produksi minyak di Venezuela merupakan sumber pemasukkan terbesar, dan negara itu telah jatuh ke level terendah dalam 13 tahun.

Dikutip dari inforexnews. Dengan situasi yang semakin parah, produksi minyak di Venezuela diprediksi akan semakin merendah. Sebuah laporan terbaru dari Center on Global Energy Policy di Columbia University, Amerika Serikat, menyatakan bahwa Venezuela adalah resiko yang kian membesar dan dapat mengganggu pasokan minyak pada tahun 2017.

Sementara itu, harga minyak dunia berada pada kisaran $ 45/barrel yang turun dramatis dari $ 110/barrel 2 tahun yang lalu. Hal itu dikarenakan terlalu banyak pasokan minyak global. Namun, batasan antara kelebihan dan kekurangan pasokan sangatlah tipis. Dalam posisi Venezuela yang sekarang, dapat berada di arah yang berlawanan dari posisi sebelumnya.

Direktur Riset Komoditas di ClipperData Matt Smith memaparkan bahwa Venezuela adalah kartu as terbesar. Ekonomi disana berputar-putar tanpa arah dan kendali. Yang menjadi kekhawatiran adalah produksi minyak bisa semakin jatuh.

Meskipun seluruh anggota Organisasi Negara – negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah menahan produksi, Venezuela bersikeras untuk tetap menambang minyak. Pasalnya, Venezuela memegang fakta bahwa negara itu memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Venezuela memproduksi 2,1 juta barrel/hari pada Bulan Juni lalu, turun sekitar 30% dari 3 juta barrel/hari pada tahun 2008.

Menurut laporan yang dirilis Columbia University tersebut, ekspor minyak Venezuela selama paruh pertama 2016 cenderung stagnan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Artinya, dampak kekacauan di Venezuela belum begitu terasa. Venezuela akan menghadapi tantangan yang terbesar jika mau tetap memproduksi dan mengekspor minyak. Perusahaan minyak milik negara, PDVSA, terlilit utang hingga miliaran dolar AS dan banyak pihak yang yakin bahwa BUMN tersebut tidak dapat melunasi hutangnya.

(and/ttcom)

Berita Lainnya
PT KCI Targetkan KMT jadi Uang Elektronik Tahun ini JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menargetkan Kartu Multi Trip (KMT) bisa...
Lion Air Group Berlakukan Kebijakan Baru Soal Bagasi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Maskapai penerbangan Lion Air dan Wings Air, yang merupakan bagian dari Li...
Kemenkominfo Terus Pantau Proses Refund ‘Bolt’ dan ‘First Media’ JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Setelah mengeluarkan keputusan pengakhiran penggunaan pita frekuensi radio...
Bank Muamalat Jalin kerja sama Pemanfaatan Data Kependudukan dengan Dukcapil JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk menjalin kerjasama dengan Direktorat Jender...
Selama Liburan Natal dan Tahun Baru, BCA Tetap Buka JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Selama periode libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, layanan kantor PT Ban...
Kanal: Ekonomi & Bisnis