Loading...

Kurs Rupiah Kamis Sore Ini Ditutup Menguat 14 Poin

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Pelemahan nilai tukar rupiah berlanjut pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Rabu (13/12/2017), meski pada saat yang sama pergerakan dolar AS terkoreksi.

Rupiah ditutup melemah 0,12% atau 16 poin di Rp13.590 per dolar AS. Pagi tadi, rupiah dibuka dengan pelemahan 0,23% atau 31 poin di posisi 13.605, setelah pada perdagangan Selasa (12/12), berakhir melemah 0,15% atau 22 poin di posisi 13.574.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak cenderung melemah di kisaran Rp13.577 – Rp13.605 per dolar AS.

Mata uang lainnya di Asia terpantau bergerak variatif dengan won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,14%, berdasarkan data Bloomberg. Penguatan won diikuti yen Jepang yang terapresiasi 0,13%.

Selain rupiah, pelemahan terdalam dibukukan ringgit Malaysia yang terdepresiasi 0,21%.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau bergerak di zona merah dengan pelemahan 0,06% atau 0,060 poin ke 94,041 pada pukul 16.50 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka turun 0,06% atau 0,057 poin di level 94,044, setelah pada Selasa (12/12) berakhir menguat 0,25% di posisi 94,101.

Dilansir Bloomberg, mata uang emerging markets di Asia cenderung bergerak mixed menjelang rilis keputusan The Federal AS, dengan ringgit Malaysia dan rupiah memimpin pelemahan.

The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya tahun ini pada pertemuan kebijakan yang berakhir Rabu (13/12) waktu setempat (Kamis dini hari WIB). Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Investor selanjutnya akan mencermati proyeksi bank sentral tersebut mengenai kenaikan suku bunga di masa depan dan pandangannya terhadap kesehatan ekonomi.

Sementara itu, dolar tergelincir dari penguatannya bersama dengan imbal hasil obligasi setelah kandidat Partai Republik Roy Moore gagal memenangkan kursi di Senat melawan kandidat Partai Demokrat Doug Jones.

Kemenangan kandidat Partai Demokrat tak ayal menjadi pukulan bagi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebabkan Partai Republik kehilangan mayoritas di Senat sekaligus mengancam masa depan agenda ekonomi Trump.

“Menjelang akhir tahun, kami menjadi berhati-hati mengenai penguatan berkelanjutan pada sejumlah mata uang Asia,” kata Wisnu Varathan, kepala pakar ekonomi dan strategi di Mizuho Bank Ltd.

“Banyak yang akan bergantung pada dua faktor – apakah pasar akan melihat kejutan hawkish pada panduan FOMC dan lainnya adalah terkait perundang-undangan pajak,” tambahnya, seperti dikutip dari Bloomberg.

(and/ttcom)

Berita Lainnya
Kemenkeu Siap Luncurkan Portal Lelang JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Keuangan siap meluncurkan domain portal lelang Indonesia "lela...
Jusuf Kalla: Hadapi Revolusi Industri 4.0, Tingkatkan Daya Saing JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla memberi arahan kepada pelaku industri ...
Pertamina Temukan Cadangan Gas Baru di Pantai Utara Jawa Barat KARAWANG, TAJUKTIMUR.COM - PT Pertamina Hulu Energi melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu En...
Pengusaha Pakistan ingin Perkuat Bisnis dengan Indonesia JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Pengusaha Pakistan ingin memperkuat hubungan bisnis dengan Indonesia dalam...
Kemenkeu Pastikan Kelola Utang dengan Hati-Hati JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan dalam menyusun Anggaran Pendapa...
Kanal: Ekonomi & Bisnis