Loading...

Rupiah Terus Melemah, BI akan Sesuaikan Suku Bunga

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM — Menguatnya dollar AS berskala luas berdampak terhadap melemahnya nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir ini. Bank Indonesia merilis secara year to date (ytd) per 8 Mei 2018, nilai tukar rupiah melemah 3,44 persen. Tak hanya itu tekanan pada nilai tukar mata uang negara-negara maju lainnya juga besar.

Indonesia telah mengalami beberapa tekanan yang cukup besar seperti saat ini dalam lima tahun terakhir sejak bank sentral AS melakukan program tapering off pada 2013.

“BI meyakini bahwa Indonesia akan berhasil melewati tekanan saat ini dengan baik, dengan perekonomian yang tetap tumbuh berkesinambungan dan stabil,” kata Gubernur BI, Agus Martowardojo dalam keterangan resmi, Rabu 9 Mei 2018.

Ia mengatakan, kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia tercermin dari data realisasi pertumbuhan PDB kuartal keempat 2017, serta pertumbuhan PDB kuartal pertama 2018 sebesar 5,06 persen, yang tetap stabil, kuat, dengan struktur ekonomi yang lebih baik.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini merupakan pencapaian tertinggi di pola musiman kuartal pertama sejak tahun 2015. Permintaan domestik yang meningkat pada kuartal pertama 2018 juga didukung oleh investasi yang naik dan konsumsi swasta yang tetap kuat. Sementara itu, kestabilan inflasi tetap terjaga pada level rendah sesuai target 3,5 persen plus minus satu persen.

Untuk menjaga kesinambungan pemulihan ekonomi, BI akan terus menempuh langkah-langkah stabilisasi yang diperlukan termasuk melanjutkan intervensi di pasar valuta asing secara terukur dan stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

BI juga mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter valas dan rupiah, termasuk membuka lelang forex swap untuk menjaga ketersediaan likuditas rupiah dan menstabilkan suku bunga di pasar uang untuk memastikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah terkelola dengan baik.

“BI juga tengah mempersiapkan langkah kebijakan moneter yang tegas dan akan dilakukan secara konsisten, termasuk melalui penyesuaian suku bunga kebijakan 7-day Reverse Repo Rate dengan lebih memprioritaskan pada stabilisasi, untuk memastikan keyakinan pasar dan kestabilan makro ekonomi nasional tetap terjaga,” kata Agus.

Berita Lainnya
Batik Kuasai Pasar Global JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Nilai perdagangan produk pakaian jadi dunia yang mencapai 442 miliar dolar AS akan menjadi peluang besar bagi industri batik...
Senin Sore Rupiah Tembus Rp14.610 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, bergerak melemah sebesar 124 poin menjadi Rp14....
Kementan Targetkan Ekspor 15 Ribu Ton Bawang Merah JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Pertanian intensif mendorong realisasi ekspor berbagai komoditas seperti kelapa sawit, jagung, buah-buahan, bawa...
Barter Valas ke Rupiah Mahal, Ini Kata Ketua Umum GPEI JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Mekanisme dan biaya swap atau sederhananya kegiatan barter valas ke rupiah dikeluhkan kalangan pengusaha karena dianggap mah...
Indef: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia hanya Bersifat Sementara JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2018 yang melampaui perkiraan sebelumnya, yakni sebesar 5,27% dibandingkan pe...
Kanal: Ekonomi & Bisnis