Loading...

Soal Bangkrutnya 7-Eleven Indonesia, Kebiasaan Pelanggan Penyebabnya?

Chains are used to lock the front door of a 7-Eleven convenience store in Jakarta, Indonesia June 27, 2017. The signs say 'Shop Closed'. REUTERS/Agoes Rudianto

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) — Toko kelontong 7-Eleven terlihat sukses saat memulai usahanya pada 2009. Toko tersebut terus berkembang dan operator lokal Modern International mulai berekspansi untuk membuka cabang di luar Jakarta.

Namun, mulai Jumat (30/6), 7-Elevens yang terkenal dengan toko 24 jam tersebut akan benar-benar tidak tersisa. Modern menutup sisa 136 toko setelah kesepakatan Rp 1 triliun untuk menjual kepemilikan kepada konglomerat Charoen Pokphand tidak berjalan mulus pada awal Juni, hanya enam pekan sejak diumumkan.

Charoen Pokphan yang menjalani unit jaringan 7-Eleven di Thailand, kedua terbesar setelah Jepang, tidak akan memperluas usahanya ke Indonesia.

Tutupnya 7-Eleven bukanlah hal yang mengejutkan. Menurut salah seorang tukang parkir di salah satu 7-Eleven di Jakarta, Arifin, toko tersebut memang selalu ramai, namun pelanggan tidak banyak membeli.

”Mereka datang untuk nongkrong dan menikmati Wi-Fi. Mereka akan membawa laptop dan bertahan berjam-jam dengan hanya membeli sebuah minuman,” ucap Arifin, dikutip Nikkei.com, Jumat (30/6).

Hingga akhirnya, hal itu tidak cukup untuk Modern, khususnya bersaing dengan Alfamart dan Indomaret, toko retail dengan sejarah panjang dan jaringan besar di Indonesia dan kedai makanan pinggir jalan dengan cepat mengalihkan pelanggan.

”Pendapatan dari penjualan tidak menutup biaya operasional seperti listik, lampu, Wi-Fi dan lainnya,” jelas Analis Binaarta Sekurtias Reza Priyambada.

Baik Alfamart maupun Indomart bereaksi dengan meniru kesuksesan 7-Eleven. Dua perusahaan tersebut beroperasi sebagai minimarket dengan fokus pada makanan segar daripada toko kelontong dan berorientasi pada penyediaan makanan atau menjual minuman beralkohol.

Pendapatan 7-Eleven mencapai puncaknya pada 2014 dengan meraup untung Rp 971,77 miliar. Bahkan, saat itu cabang mereka tumbuh menjadi 187 outlet di tahun berikutnya.

(rol/ttc)

Berita Lainnya
TCASH Berubah Menjadi LinkAja JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Untuk menghadirkan layanan keuangan elektronik yang lebih baik, mudah dan ...
PT KCI Targetkan KMT jadi Uang Elektronik Tahun ini JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menargetkan Kartu Multi Trip (KMT) bisa...
Lion Air Group Berlakukan Kebijakan Baru Soal Bagasi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Maskapai penerbangan Lion Air dan Wings Air, yang merupakan bagian dari Li...
Kemenkominfo Terus Pantau Proses Refund ‘Bolt’ dan ‘First Media’ JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Setelah mengeluarkan keputusan pengakhiran penggunaan pita frekuensi radio...
Bank Muamalat Jalin kerja sama Pemanfaatan Data Kependudukan dengan Dukcapil JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk menjalin kerjasama dengan Direktorat Jender...
Kanal: Ekonomi & Bisnis