Loading...

Wapres: Indonesia akan terkena dampak Perang Dagang AS-Tiongkok

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM — Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan Indonesia akan terkena dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Salah satu dampak tidak langsungnya adalah menurunnya ekspor Indonesia ke negara Tiongkok.

“Industri di Tiongkok akan turun, nah otomatis kita banyak memasok bahan baku. Itu bisa menurun ekspor kita bahan baku,” ujar Jusuf Kalla di Jakarta Selatan pada Selasa.

Sementara itu, dampak langsungnya adalah produk ekspor Indonesia akan direview oleh Amerika Serikat.

“Amerika sedang mempertimbangkan untuk mengevaluasi GSP [generalized system preferences] artinya memberikan keutamaan pada negara berkembang termasuk Indonesia,” tambah Jusuf Kalla.

Menurut Jusuf Kalla, pemerintah akan memperkuat perekonomian nasional untuk merespons perang dagang ini.

“Upaya kita adalah bagaimana menstabilkan ekonomi dalam negeri sehingga bukan hanya ekspor tapi juga dalam negeri bisa tumbuh. Kedua juga mencari pasar baru,” jelas Wakil Presiden.

Pemerintah pun, kata Kalla, sedang mempelajari apakah nantinya mengeluarkan kebijakan baru atau tidak untuk menghadapi dampak perang dagang.

Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan kepada Indonesia akan mencabut tarif khusus yang diberlakukan kepada produk-produk asal Indonesia yang masuk ke AS, terutama tekstil.

Selama ini, Indonesia menerima tarif khusus dari AS karena status Indonesia sebagai negara penerima skema GSP. Manfaat dari GSP ini ditengarai membuat perdagangan Indonesia surplus sekitar USD9,5 miliar dengan AS. Surplus ini dianggap sebagai cikal bakal Trump mengeluarkan peringatan bahwa Indonesia tidak lagi perlu memperoleh GSP.

Sebagai informasi, GSP adalah sistem tarif preferensial yang membolehkan suatu negara secara resmi memberikan pengecualian terhadap aturan umum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Melalui GSP, suatu negara bisa memberi keringanan tarif bea masuk kepada eksportir dari negara-negara tertentu, biasanya dari negara miskin. Saat ini, setidaknya ada 112 negara dan 17 teritori yang mendapat GSP dari AS.

Berita Lainnya
Pertamina Siap Jadi Produsen Baterai Kendaraan Listrik JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM -- PT Pertamina (Persero) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil memproduksi Lithium Ion Battery (LIB) untuk penggerak m...
Ini Prioritas Anggaran Negara Tahun 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM -- Pemerintah dan DPR telah sepakat Rencana Kerja Pemerintah 2019 mengangkat tema pemerataan pembangunan untuk pertumbuhan ber...
Garuda Indonesia Laksanakan Kick Off Kesiapan Penerbangan Haji 2018 BANTEN, TAJUKTIMUR.COM -- Maskapai Nasional Garuda Indonesia bersama-sama dengan anak usaha Garuda Indonesia Maintenance Facility (GMF AeroAsia), Keme...
BI: Rupiah Relatif Stabil dan Menguat JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM -- Bank Indonesia menyebut pergerakan nilai tukar saat ini sudah relatif stabil dan bahkan cenderung menguat. Gubernur Ban...
Telkom dan Lemhanas-RI Raih Esri SAG Award JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM -- PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) dan Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) memenangkan pen...
Kanal: Ekonomi & Bisnis