Loading...

Biaya Pengobatan Mahal, Penderita Kanker Serviks Di Papua Enggan Berobat

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Menyikapi tingginya angka penderita kanker serviks di provinsi Papua, President LION’s Club Jakarta Centennial Cendrawasih sekaligus seksolog berdarah Papua, Dr. Rosaline Irene Rumaseuw, M.Kes menyatakan sebanyak 2,37 juta perempuan berusia 15 tahun keatas di Papua sangat beresiko terkena kanker serviks.

Menurutnya tingkat pertama penyakit kanker yang diderita perempuan di Papua adalah kanker serviks dan yang mengidap rata-rata tertinggi pada usia 15-44 tahun.
Karena itu pihaknya berharap dapat meningkatkan kesadaran untuk perempuan Papua dan keluarga yang memiliki akses terbatas terhadap fasilitas kesehatan dan medis yang layak.

Kanker serviks merupakan momok yang menakutkan bagi kaum perempuan dan membuat perempuan yang divonis mengidapnya menjadi putus asa dan enggan berobat. Mereka lebih memilih menggunakan uang yang ada untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan suaminya.

“Mereka bilang itu penyakit mahal karena butuh biaya banyak, sehingga mereka akan berpikir uang yang banyak daripada untuk berobat, lebih baik untuk anak-anaknya sekolah dan suaminya bisa berpakaian rapih,” ungkap seksolog berdarah Papua, Dr Rosaline Irene Rumaseuw, M.Kes di saat menghadiri acara gala dinner penggalangan dana bagi Perempuan Papua penderita kanker serviks dan HIV/AIDS yang diselenggarakan oleh komunitas perempuan mix mariage, SRIKANDI di hotel JW Mariot, Kuningan-Jakarta (Rabu,18/10/2017).

Rosaline menambahkan sebanyak 2,3 juta penderita kankers serviks di Indonesia, 10% berada di Papua. Dan Biak sebagai kabupaten tertua di Papua memiliki angka terbanyak. Para penderita kanker serviks di Papua umumnya terkonsentrasi didaerah pegunungan. Umumnya virus kanker serviks menular lewat hubungan seks bebas. Dan di Papua mempunyai semacam tradisi, dimana seorang kepala suku mempunyai banyak istri. Sehingga penyebaran virus kanker serviks disana bukan karena para penderita berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) atau karena rendahnya tingkat pendidikan.

“Para mama (sebutan untuk ibu di Papua) penderita kanker serviks bukanlah penjaja seks, tapi di pegunungan Papua, semakin banyak istri bagi seorang kepala suku maka status sosial yang bersangkutan semakin hebat,” jelasnya.

Penanganan kanker serviks di Papua hingga kini belum maksimal, untuk mengetahui hasil diagnosa dan laboratorium, sample materi yang diambil dari rahim penderita harus dikirim terlebih dulu ke Surabaya. Dengan demikian bisa mengirangi biaya yang harus dikeluarkan oleh penderita.

Edukasi pencegahan dan penanganan kanker serviks tidak hanya diberikan kepada para perempuan penderita, tapi juga pasangannya.

(dwisan/ttcom)

Berita Lainnya
Prana Healing, Menyembuhkan dengan Energi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Penyembuhan terhadap diri atau tubuh yang sakit hingga pikiran dan emosi y...
Dongeng Pengaruhi Perilaku Anak Ketika Dewasa JAKARTA, TAJUKTIMU.COM - Dongeng berkontribusi cukup besar dalam tumbuh kembang anak karena terdapat...
Cara Memutihkan Gigi dengan Kunyit JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Memutihkan gigi bisa dilakukan dengan cara alami dan mudah dipraktekkan di...
Orang Tua Wajib Kontrol Penggunaan Gawai Anaknya JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Menghindarkan anak dari gawai adalah hal yang mustahil. Namun orang tua di...
Anggun: Anak Muda Bangga Jadi Diri Sendiri JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Anggun C Sasmi menyampaikan agar anak muda bangga menjadi dirinya sendiri ...
Kanal: Gaya Hidup