Loading...

Desainer Muda Ini Ciptakan Fashion dari Sampah Plastik

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Siapa sangka, sampah plastik yang tidak enak dipandang bisa menjadi karya high-fashion yang dijual dengan harga tinggi.

Nonita Respati, desainer muda dengan label pakaian PURANA itu, menjadi satu dari tiga desainer yang melelang sembilan karya mereka Rabu (10/1) malam lalu, di Kemang, Jakarta Selatan.

Kesembilan potong pakaian ini terbuat dari bahan bio-plastik yang mudah didaur ulang.

Acara lelang itu digelar oleh produsen bio-plastik asal Indonesia, Avani Eco. Merekalah pelopor pembuatan bahan plastik ramah lingkungan yang berasal dari pati singkong.

Beberapa waktu lalu, video Avani Eco sempat viral di beberapa platform media sosial. Video itu menunjukkan pendirinya, Kevin Kumala, mengaduk sepotong plastik Avani di gelas berisikan air. Plastik itu tampak perlahan-lahan larut, dan ketika sepenuhnya bersih dari plastik, air itu ditenggak oleh Kevin.

Terobosan Avani ini menarik perhatian Nonita, yang memang sudah lama mengkhawatirkan timbunan sampah yang sering dia temukan di mana-mana.

“Saya memang mencoba menggunakan lebih banyak produk-produk yang tidak merusak lingkungan untuk desain pakaian. Manfaatnya, ya lebih sedikit limbah yang dihasilkan,” terang Nonita seperti dikutip Anadolu baru-baru ini.

Ketika diajak berkolaborasi, Nonita yang mendirikan PURANA pada 2008 silam itu mengatakan langsung tertarik dengan inisiatif Avani.

Tantangannya adalah menggunakan bahan plastik untuk merancang beberapa potong pakaian yang bisa digunakan.

“Sebagai penyelam, saya sangat benci melihat sampah plastik bertebaran di dasar laut. Tapi ini dituntut berpikir, bagaimana cara menjadikan bio-plastik sebagai elemen fashion,” jelasnya.

Bio-plastik yang merupakan bahan teramat halus itu berhasil dijadikan pakaian modis oleh Nonita setelah proses trial-and-error.

Selain Nonita, desainer Kleting Titis Wigati dengan label KLE juga turut menampilkan keunikan produk fashion yang dibuat dari plastik.

Membawa tiga potong pakaian dengan warna merah menyala, Kleting mengaku menghabiskan lebih dari sebulan untuk menciptakan tiga potong baju plastik itu.

“Detail-detailnya yang banyak memakan waktu. Saya terinspirasi oleh terumbu karang dan keindahan alam bawah laut, khususnya,” ujar Kleting.

Menurut dia, konsumen sekarang tertarik dengan konsep sustainable fashion karena semakin banyak orang yang prihatin dengan kondisi sampah di Indonesia yang dikelola dengan buruk.

Pengelolaan sampah di Indonesia baru-baru ini kembali menjadi sorotan dunia, khususnya setelah pulau Bali mengumumkan keadaan darurat sampah bulan lalu.

Pulau yang menjadi destinasi wisata internasional itu beberapa pantainya menjadi kumuh akibat plastik yang berserakan oleh pengunjung yang tidak membuang sampah mereka di tempatnya.

Acara lelang yang diselenggarakan Avani yang menggandeng desainer-desainer muda Indonesia itu diharapkan bisa membangkitkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik yang tidak ramah lingkungan.​

(and/ttcom)

Berita Lainnya
Dongeng Pengaruhi Perilaku Anak Ketika Dewasa JAKARTA, TAJUKTIMU.COM - Dongeng berkontribusi cukup besar dalam tumbuh kembang anak karena terdapat...
Cara Memutihkan Gigi dengan Kunyit JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Memutihkan gigi bisa dilakukan dengan cara alami dan mudah dipraktekkan di...
Orang Tua Wajib Kontrol Penggunaan Gawai Anaknya JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Menghindarkan anak dari gawai adalah hal yang mustahil. Namun orang tua di...
Anggun: Anak Muda Bangga Jadi Diri Sendiri JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Anggun C Sasmi menyampaikan agar anak muda bangga menjadi dirinya sendiri ...
Peneliti: Perilaku Antisosial pada Anak Berhubungan dengan Pola Asuh Orangtua JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kurang mendapat kehangatan orangtua dan lingkungan kerja orangtua yang ter...
Kanal: Gaya Hidup