Loading...

Jangan Terlalu Banyak Belikan Mainan Untuk Anak, Ini Efeknya

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) — Masa kanak-kanak memang dunianya bermain. Dibelikan mainan adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bagi anak. Sedangkan bagi orang tua memberikan  mainan kepada anak memiliki arti yang luas, bisa jadi bentuk apresiasi yang diberikan orang tua terhadap pencapaian anak, bisa juga sebagai sarana belajar bagi anak. Mainan juga menjadi sarana orang tua untuk memanjakan anak. Tetapi jangan pula membelikan terlalu banyak mainan untuk anak.

Pakar pola asuh anak, Maggie Dent mengaku sering mendapat keluhan dari para orang tua yang mengaku banyak membelikan mainan untuk anak-anaknya, tetapi si anak hanya memainkan yang itu-itu saja.

Untuk itu, Dent mengatakan, cara terbaik mengelola mainan anak adalah ‘membuangnya’ tiap berapa bulan sekali.

Saran itu didasarkan pada penelitian yang dilakukan di Jerman 20 tahun lalu. Saat itu peneliti mencoba menyembunyikan mainan yang ada di sebuah taman kanak-kanak tiap tiga bulan sekali.

Baru sehari mainan itu diambil, anak-anak yang ada di sekolah tersebut tampak bosan dan kebingungan. Namun kemudian mereka mulai menggunakan imajinasinya untuk bermain.

“Keesokan harinya mereka sudah bermain-main sendiri dengan memanfaatkan furnitur yang ada, misal kursi atau karpet,” ungkap Dent.

Menurut Dent, anak-anak memang paling tak tahan bosan, tetapi jika orang dewasa atau orang tua tidak segera memberikan mainan atau sesuatu yang bisa mereka jadikan mainan, maka anak-anak masih bisa termotivasi untuk mengatasi kebosanan itu dengan menciptakan keseruan sendiri.

Tetapi bukan berarti anak tidak diberi mainan sama sekali. “Kurangi dua-pertiga mainan anak yang ada dan simpan di gudang. Setelah tiga bulan, keluarkan lagi mainan itu,” saran Dent seperti dilaporkan ABC Australia.

Dengan cara begini, Anda tak perlu membeli mainan baru setiap waktu. Lagipula anak mudah lupa jika pernah punya mainan itu sehingga ketika melihat mainan yang ‘disembunyikan’ selama tiga bulan itu, mereka merasa itu mainan baru.

Ajarkan pula kepada anak untuk terbiasa menyumbangkan sebagian mainan mereka kepada orang lain, sebagai bagian dari pelajaran berbagi.

Ketika anak diajari berbagi, mereka juga akan memahami bahwa orang tua tidak selalu bisa memberikan apapun yang diinginkan buah hatinya. Di saat yang bersamaan orang tua bisa melatih anak untuk berkontribusi ketika menginginkan sesuatu.

“Misal mereka ingin sesuatu yang mahal, akan lebih baik jika mereka ikut berkontribusi untuk mendapatkannya, misal dengan menabung. Dengan begini mereka juga lebih menghargai apa yang mereka miliki,” ungkapnya.

Orang tua pun demikian. Saat akan membelikan mainan, Dent menyarankan agar tidak sembarangan memilih mainan. Dari berbagai studi disebutkan bahwa kebanyakan dari kita membelikan mainan yang tidak merangsang kreativitas dan kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah.

“Jika tidak, daripada memberikan benda, berikan hadiah berupa pengalaman seperti mengajaknya ke kebun binatang,” imbuhnya.

(dtk/bri)

 

Berita Lainnya
Prana Healing, Menyembuhkan dengan Energi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Penyembuhan terhadap diri atau tubuh yang sakit hingga pikiran dan emosi y...
Dongeng Pengaruhi Perilaku Anak Ketika Dewasa JAKARTA, TAJUKTIMU.COM - Dongeng berkontribusi cukup besar dalam tumbuh kembang anak karena terdapat...
Cara Memutihkan Gigi dengan Kunyit JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Memutihkan gigi bisa dilakukan dengan cara alami dan mudah dipraktekkan di...
Orang Tua Wajib Kontrol Penggunaan Gawai Anaknya JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Menghindarkan anak dari gawai adalah hal yang mustahil. Namun orang tua di...
Anggun: Anak Muda Bangga Jadi Diri Sendiri JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Anggun C Sasmi menyampaikan agar anak muda bangga menjadi dirinya sendiri ...
Kanal: Gaya Hidup