Loading...

Indonesia Butuh Smart People untuk Mengurangi Golput dan Memberantas Hoax di Pemilu 2019

JAKARTA, Maraknya hoax menjelang pilpres 2019 ini menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Setelah Indonesia berhasil dengan pilkada serentak 2018, hoax menjadi fenomena pilpres tersendiri.

Peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI, Prof. Dr. R. Siti Zuhro, M.A mengatakan dinegara manapun pernak-pernik nuansa kompetisi tidak bisa dielakkan dalam pilpres. Maka perkataan bohong atau sepak terjang politik yang menarik pasti ada. Namun menurutnya masyarakat sekarang lebih kritis sehingga tidak bisa dibohongi lagi.

Indonesia kini membutuhkan ‘smart people’ (orang yang cerdas) sehingga peran elit tidak lagi terlalu diperlukan. Masyarakat punya daya nalar sebagai pemilih. Ketika calon (baik Capres maupun Caleg) mendemonstrasikan program-program yang membumi dan langsung menyentuh hal-hal yang paling mendasar, masyarakat (pemilih) akan tersentuh dan ikut merasakan. Dan untuk saat ini kebijakan ekonomi sangat dibutuhkan masyarakat.

“Jokowi harus mampu meyakinkan masyarakat untuk bisa mengsugesti masyarakat, dan Prabowo harus mampu menandinginya”, ujar Peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI, Prof. Dr. R. Siti Zuhro, M.A diruang kerjanya, LIPI – Jakarta (Jumat, 08/02/2019).

Jika angka swing voter atau golput masih tetap bertahan, berarti masih ada yang salah dengan kedua pasangan calon. Karena itu menurut Siti kedua calon harus mampu meyakinkan dan membuat pemilih hadir ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Bagaimanapun masyarakat diperlukan dalam demokrasi. Tidak akan ada demokrasi tanpa partisipasi masyarakat. Dan tidak akan demokrasi juga tanpa representatif wakil-wakil rakyat di DPR RI. Tanpa masyarakat demokrasi kita menjadi hambar dan tidak bermakna karena merekalah (masyarakat) pemegang kedaulatan yang sebenarnya.

Sayangnya menurut Siti Juhro hal itu jarang dikembangkan.  Masyarakat jarang dihormati sebagai warga negara karena itu elit politik harus mampu membuat masyarakat yang mempunyai ownner ship, yang kuat terhadap bangsa .

“Masing-masing capres sudah mempunyai ceruk suara, tinggal mereka harus cerdas mengambil swing voter dan undiced voter, ” ujar Siti Juhro.

Sebagai petahana, Joko Widodo (Jokowi) harusnya bisa menjawab secara detil melalui menteri-menterinya. Sehingga siapapun yang melakukan kebohongan, mereka akan mendapat kulminasi dan mendulang akibatnya masyarakat yang sekarang cerdas.

Pada kesempatan itu, untuk menjaga pemilu yang damai, aman dan kondusif, Ia juga mengajak masyarakat dan seluruh pihak untuk saling percaya dan saling menghormati. Disisi lain kita juga harus menaruh hormat (respek) kepada Polri, TNI dan semua institusi. Belajar dari pelaksanaan Pilkada serentak, tentu aparat Polri harus mampu menjaga hubungan baik dengan semua pihak.

“Hentikan ujaran kebencian, sebab setiap agama pasti mengajarkan kebaikan”, tegas Siti Juhro.

Berita Lainnya
Survei IndEX: Elektabilitas PDI-P Turun JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Survei terbaru lembaga survei Indonesia Elections and Strategic (IndEX) Re...
KPU Sosialisasi Pemilu Bagi BKMT Raja Ampat WAISAI, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Pemilihan Umum (KPU)  Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Bara...
Ini Pesan Damai Sohibul Iman di Tahun Politik JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman menghadiri a...
PKS berjanji menghapus pajak penghasilan di bawah Rp 8 juta per bulan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Juru Bicara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muda Bidang Ekonomi, Muhammad ...
Ibu Negara ajak perempuan Ambon Tes Papsmer AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengajak kaum perempuan di Kota Ambon untuk me...
Kanal: Headline Interview Pemilu