Loading...

Film “Pendayung Terakhir” Juarai UCIFEST-UMN

AMBON (TAJUKTIMUR.COM) – Film Pendayung Terakhir garapan Ali Bayanudin Kilbaren, mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon berhasil menjuarai ajang Animation & Film Festival Universitas Multimedia Nusantara (UCIFEST-UMN) ke-8, digelar di Jakarta pada 23 November 2017.

Husni Mubarak Tokomadoran, penata kamera film Pendayung Terakhir, saat dihubungi melalui telepon selulernya dari Ambon, Jumat, membenarkan informasi tersebut.

“Iya, tadi malam pengumuman sekaligus penganugerahannya,” kata Husni.

Ia mengatakan dirinya dan Jusuf Samanery (penata teks bahasa Indonesia) yang hadir mewakili tim produksi film Pendayung Terakhir di malam penganugerahan UCIFEST-UMN yang ke-8.

“Sejujurnya saya pribadi tidak menyangka bisa menang karena ini adalah film pertama yang kami garap, baik bagi saya, Ali maupun Yusuf. Ternyata hasilnya di luar perkiraan kami,” katanya.

Sebelumnya film Pendayung Terakhir bersama lima film lainnya, yakni Arsa Bintang Candra (Ainul Fikri), Passion Before Toe (Calvionita S.), Wiwitan (Rizki Guntari Septian), dan Ojek Lusi (D. Winner M. Wijaya) dinominasikan untuk kategori dokumenter mahasiswa.

Film Pendayung Terakhir yang disutradarai oleh Ali Kilbaren berhasil menjadi juara, karena dinilai berani mengangkat perubahan dan berpihak kepada masyarakat yang menjadi korban.

“Menurut catatan juri, ide cerita film kami menarik, mampu merangkum semua masalah, berpihak pada mereka yang menjadi korban dan disajikan dengan cara yang jujur dan intim,” ucap Husni.

Ali Bayanudin Kilbaren, Husni Mubarak Tokomadoran dan Yusuf Samanery adalah mahasiswa di Fakultas Usuluddin dan Dakwah, Jurusan Jurnalistik, IAIN Ambon. Film Pendayung Terakhir adalah tugas akhir mereka bertiga untuk mata kuliah sinematografi.

Mengangkat kisah Arief Ren`el (57), pendayung perahu tradisional rute Desa Galala, Kecamatan Baguala – Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, yang terancam kehilangan mata pencaharian yang digelutinya selama hampir 40 tahun, film Pendayung Terakhir mencoba menyoroti sisi lain dampak pembangunan.

Berdurasi hampir 19 menit lamanya, sinema dokumenter itu juga cukup lugas dalam memamparkan masalah yang dihadapi para pendayung perahu jurusan Galala – Poka, setelah adanya Jembatan Merah Putih membentang dari dari kawasan Tantui hingga Poka.

(and/ttcom)

Berita Lainnya
Komedian Aa Jimmy Meninggal Akibat Tsunami JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komedian Aa Jimmy Jigo dikabarkan menjadi korban tsunami Selat Sunda yang ...
Inilah Daftar Pemenang Piala Citra FFI 2018 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Malam anugerah Piala Citra, Festival Film Indonesia (FFI) 2018 telah digel...
Inilah Daftar Nomine Golden Globes 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Ajang Golden Globes 2019 akan dilaksanakan pada 6 Januari 2019 di The Beve...
Musisi Dunia Ramaikan Konser Penghormatan Nelson Mandela JOHANNESBURG, TAJUKTIMUR.COM - Ribuan orang memadati stadion FNB Johannesburg, Afrika Selatan pada h...
Ed Sheeran Konser di Indonesia Mei 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Setelah sempat batal, Ed Sheeran akhirnya memastikan konsernya di Indonesi...
Kanal: Hiburan