Loading...

Ormas Butuh Perhatian Pemerintah dalam Pengembangan Ekonomi Rakyat

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Merubah stereotip negatif yang cenderung melekat pada organisasi masyarakat (ormas) Forum Betawi Rempug (FBR) sebagai kelompok preman tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Hal ini diakui oleh Ketua Umum FBR yang juga pengasuh Pondok Pesantren Yatim Ziyadatul Muhtadi’ien & Muhtadi’at, KH. Lutfi Hakim di Jakarta.

Dengan demikian menjadi tantangan tersendiri baginya untuk dapat merubah stereotif negatif yang mekekat pada ormas FBR, yang selama ini dikenal sebagai perkumpulan preman, tukang juru parkir, dan kerap berebut lahan/setoran parkir. Menurut KH. Lutfi Hakim. MA, ormas FBR yang jumlah keanggotaannya mencapai 300 ribuan orang se-Jabodetabek ini sebenarnya ormas kebudayaan bukan ormas yang berbasis keagamaan.

Ini terbukti dari keragamaan religi para anggota dan pengurusnya yang ternyata tidak semuanya memeluk agama Islam dan tidak semuanya pria. FBR juga beranggotakan lintas etnis, sebab tidak seluruh anggotanya merupakan asli etnis Betawi, melainkan siapapun asalkan telah lama tinggal di kawasan Betawi (Jabodetabek)  dengan domisili KTP setempat dan merasa sebagai bagian dari warga Betawi.

Dibidang pengembangan dan pelestarian budaya Betawi, FBR berusaha melestarikan dan mengangkat citra Pencak Silat asli Betawi, yakni pencak silat beraliran beksi dan siliwa. Untuk itu Lutfi berkeinginan memasukkan perkumpulan silatnya kedalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

“Perkumpulan pencak silat FBR selama ini lebih bersifat sebagai perkumpulan pencak silat biasa karena itu kami ingin masuk ke dalam IPSI, sehingga bisa meraih prestasi lewat event resmi”, harap Lutfie akan keberadaan perkumpulan pencak silat FBR yang sudah dikenal luas.

Pencak silat yang digeluti oleh ormas berseragam hitam ini, memiliki dua aliran yakni pencak silat aliran beksi yang berkembang wilayah Jakarta Barat dan Depok serta pencak silat aliran siliwa yang berkembang diwilayah lainnya dikawasan Jabodetabek.

Dengan bergabungnya perkumpulan pencak silat Betawi yang selama ini dikembangkan oleh para anggota FBR ke dalam IPSI, setidaknya para anggota FBR yang memiliki hobi dibidang olahraga pencak silat bisa lebih terarah dan bisa lebih berprestasi lewat event-event resmi.

Selain bidang olahraga dan kesenian budaya, sebagai pendiri FBR KH. Lutfi Hakim berupaya untuk mengembangkan perekonomian para anggota FBR. Sehingga citra negatif para anggota FBR yang selama ini dikenal sebagai preman penguasa parkir liar dan kerap rebutan lahan bisa diminimalisir. Untuk memulai program pemberdayaan ekonomi kerakyatan tersebut, Lutfi berusaha menggandeng berbagai pihak terkait, salahsatunya Kementerian Koperasi dan UKM yang beberapa kali telah melakukan kegiatan pelatihan ketrampilan para anggota FBR. Dengan bertambahnya keahlian para anggota FBR tentu menjadi salahsatu solusi agar masyarakat Betawi mampu menggerakkan perekonomian keluarganya dan mengurangi angka pengangguran/kemiskinan.

“FBR selama ini dikenal sebagai ormas yang brutal atau sering terlibat tindak pidana dilingkungan masyarakat, padahal itu merupakan efek dari pemberitaan media massa yang cenderung lebih banyak memunculkan tindak pelanggaran yang dilakukan oleh ulah oknum FBR yang sebenarnya karena masalah pribadi namun membawa serta ormas FBR lantaran ditemukan kartu anggota FBR atau yang bersangkutan mengaku-ngaku sebagai anggota FBR,” jelas Lutfi Hakim saat ditemui wartawan tajuktimur.com di kawasan Ujung Menteng- Cakung, Jakarta Timur pada Rabu siang (21/03/2018).

Ketua Umum FBR yang juga pengasuh Pondok Pesantren Yatim Ziyadatul Muhtadi’ien & Muhtadi’at, KH. Lutfi Hakim saat ditemui wartawan tajuktimur.com di Jakarta, Rabu (21/3/2018)

Lutfi Hakim juga berharap pemberdayaan ekonomi rakyat yang disalurkan kepada para anggota FBR hendaknya jangan sebatas hanya memberikan suntikan modal sebagai stimulun, tetapi lebih pada pemberdayaan masyarakat mencakup peningkatan akses bantuan modal usaha, peningkatan pengembangan SDM, dan peningkatan akses ke sarana dan prasarana yang mendukung langsung sosial ekonomi masyarakat lokal.

“Meskipun kami sudah mendapat pelatihan untuk membuat suatu keterampilan khas Betawi, seperti boneka souvenir ondel-ondel dan bir pletok, namun kami masih mengalami kesulitan dalam pengadaan bahan baku, modal awal dan proses pemasarannya,” ungkap Lutfi Hakim.

(Dw)

Berita Lainnya
Indonesia Rider Quest 2018: Eksplorasi Kekayaan Indonesia Timur MATARAM, TAJUKTIMUR.COM -- Menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Padang Bai Bali menuju Pelabuhan Lembar Senin (7/5) sore, rombongan INDONESIA RIDER ...
LDK IAIN Ambon Gelar Musker Ke-X AMBON, TAJUKTIMUR.COM — Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Izzah IAIN Ambon menggelar Pelantikan dan Musyawarah Kerja (Musker) ke-X di Gedung Student Cent...
Universitas Budi Luhur Gelar Festival Coffee 2018 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM -- Festival Kopi yang bertajuk Budi Luhur Coffee Festival 2018 digelar dalam rangka memperingati HUT ke-39 Yayasan Budi Luhur ...
Dompet Dhuafa Luncurkan Program ‘Gerli’ untuk Sejahterakan Lansia BOGOR, TAJUKTIMUR.COM -- Peringatan hari kartini dengan mengangkat isu pemberdayaan lansia atau masyarakat berusia 65 tahun ke atas ternyata menjadi p...
PJ91 Gelar Dolanan Jadul MOJOKERTO (TAJUKTIMUR.COM) -  Puluhan mantan peserta Jambore Nasional tahun 1991 (Jamnas 91) Gerakan Pramuka mengikuti 'dolanan jadul' (mainan tempo d...
Kanal: Info Anda