Loading...

Relindo Maluku Bersama Kementerian PP & PA Lakukan Sosialisasi Dampak Diskriminasi Perempuan dan Anak Kepada Mahasiswa Ambon

Ambon (TAJUKTIMUR. COM) – Secara umum, kekerasan seksual yang dilakukan selama tiga tahun terakhir adalah perkosaan diikuti penganiayaan, sodomi, incest bahkan pembunuhan. Sebagaimana nasib tragis seorang YY anak Sekolah berusia 14 tahun di Propinsi Bengkulu yang diperkosa secara bergiliran kemudian dibunuh.
Kasus terbaru adalah EP seorang anak perempuan buruh pabrik di Tangerang berusia 18 tahun, yang ditemukan di dalam kamar kos dalam kondisi yang sangat tragis, sadis dan kejam, salah satu tersangkanya adalah siswa SMP berusia 15 tahun (Anak sebagai pelaku kekerasan seksual)
Mengantisipasi kejadian itu terjadi di Ambon, Relawan Indonesia Untuk Kemanusiaan Maluku bekerjama dengan Kementerian Perlindungan Perempuan (PP) dan Perlindungan Anak (PA) menggelar sosialisasi untuk para pemuda dan mahasiswa di Ambon kemarin (22/09) Kegiatan itu dilaksanakan di Balai Diklat Provinsi Maluku.
Sosialisasi yang bertujuan untuk mengajak kaum muda khususnya mahasiswa untuk peka dan mengantisipasi terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak ini dihadiri oleh sekitar seratus peserta yang berasal dari kampus, komunitas dan lembaga kepemudaan.
Kegiatan sehari ini menghadirkan dua pembicara. Yakni Bapak Chairul Walid, S. Pd., M. Pd selaku tenaga ahli Komisi VIII DPR RI dan La Adelin, S. Pd., selaku Ketua Relindo Maluku. Kedua pemateri sama-sama menekankan pentingnya pencegahan dini terhadap masalah perempuan dan anak.
La Adelin memaparkan bahwa masih banyak pola pikir dan perilaku yang menjadikan anak sebagai obyek dan properti orang dewasa (Orang tua, guru, pemerintah, dll) yang bertentangan dengan prinsip-prinsip perlindungan anak. Padahal landasan hukumnya telah jelas ditetapkan oleh undang-undang.
Maka harapanya mindset kita harus dirubah demi keberlangsungan perkembangan anak ke depan. Ini juga diamanatkan dalam aturan hukum kita seperti UUD Negara RI pasal 28 ayat 2:”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi,” tambahnya.
Salah satu peserta, Jamin Nurlette menyampaikan rasa terima kasihnya kepada penyelenggara. Dengan kegiatan ini, kami bisa paham tentang dampak kekerasan bagi perempuan dan anak. Maka lebih penting kami tau manfaat lebih baik mencegah daripada mengobati.

 

Berita Lainnya
UI Masuk di 300 Perguruan Tinggi Terbaik Dunia DEPOK, TAJUKTIMUR.COM -- Universitas Indonesia (UI) berhasil masuk dalam 300 besar perguruan tinggi ...
Aksi Pasar Murah Mahasiswa, Solusi Untuk Negeri JAKARTA (TAJUKTIMUR.CIM) - Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia Wilayah Jabodet...
Badan Usaha Kwarda Lampung Selenggarakan Investor Gathering BANDAR LAMPUNG (TAJUKTIMUR.COM) - Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Lampung melalui Badan Usah...
Indonesia Rider Quest 2018: Eksplorasi Kekayaan Indonesia Timur MATARAM, TAJUKTIMUR.COM -- Menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Padang Bai Bali menuju Pelabuhan L...
LDK IAIN Ambon Gelar Musker Ke-X AMBON, TAJUKTIMUR.COM — Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Izzah IAIN Ambon menggelar Pelantikan dan Mus...
Kanal: Info Anda