Loading...

20 Negara Resmi Dirikan Asosiasi Kopi Asia

YUNNAN (TAJUKTIMUR.COM) – Asosiasi Kopi Asia atau Asian Coffee Association (ACA) telah resmi didirikan pada Senin 27 November 2017 di Kota Mangshi, ibukota prefektur Dehong, di barat daya Provinsi Yunnan, Tiongkok.

Kata Ketua ACA Xiong Xiangren, asosiasi ini akan merumuskan standar-standar untuk kopi, membentuk mekanisme penetapan harga, merek-merek pendukung. “Serta pertukaran informasi dan sumber daya di antara industri kopi di Asia,” kata Xiong dilansir Xinhua, Selasa (28/11/2017).

Ia menambahkan, populasi yang besar dan konsumsi kopi yang terus meningkat, Asia diperkirakan akan menjadi mesin baru bagi industri kopi global.

Asosiasi kopi ini diprakarsai oleh lebih dari 20 negara Asia pada 2015, dan terdaftar secara di Kolombo, Sri Lanka pada Juli 2017. Sementara untuk kantor perwakilan ACA, hanya ada di Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan.

Sebelumnya, delapan pelaku usaha Indonesia duduk bersama para pengusaha China merumuskan strategi peningkatan ekspor kopi. Pertemuan itu ikut melibatkan Asosiasi Pengusaha Indonesia di China Selatan (SCIBA) dan Asosiasi Pakar Kopi Indonesia (SCAI), serta pengusaha dari Guangzhou, Shanghai, dan Hong Kong.

“Kami berinisiatif mengumpulkan mereka agar dapat mencapai rumusan meningkatkan ekspor kopi Indonesia ke Tiongkok,” imbuh Konsul Jenderal RI di Guangzhou Ratu Silvy Gayatri seperti dikutip Antara.

Ia menyebut, pada Januari-September 2017, ekspor kopi Indonesia ke China mencapai US$34,1 juta. Pencapaian itu menempatkan Indonesia pada peringkat kedua sebagai negara eksportir kopi ke China, setelah Vietnam yang sukses mengekspor hingga US$368,8 juta.

Namun demikian, Silvy meyakini, ekspor kopi Indonesia mampu mengejar Vietnam. Hal ini dikarenakan, kopi Indonesia merupakan salah satu komoditas unggulan.

“Bersama Brasil, Vietnam, dan Kolombia, Indonesia merupakan satu dari empat negara penghasil kopi terbesar di dunia,” ujarnya.

Peluang lain, pertumbuhan konsumsi kopi per kapita di China terus meningkat antara 15% hingga 30% per tahun. Padahal, peningkatan konsumsi kopi rata-rata di dunia hanya 2,3% per tahun.

KJRI Guangzhou memproyeksi, pada 2020 mendatang, nilai industri kopi di daratan China akan mencapai 300 miliar RMB atau sekitar Rp600 triliun. “Hal ini dipicu oleh perubahan gaya hidup masyarakat China. Generasi muda semakin menggemari kopi sebagai gaya hidup baru yang dinilai modern,” terang Silvy.

Di sisi lain, lanjutnya, produksi kopi China yang berpusat di Yunnan dan Hainan tidak mampu memenuhi tingginya permintaan kopi domestik sehingga impor kopi menjadi keharusan. “Kami yakin bahwa peluang tersebut hanya dapat diperoleh manfaatnya secara maksimal jika pemerintah sebagai fasilitator dan pelaku usaha kopi dapat saling bersinergi dan bekerja sama,” imbuhnya.

(and/ttcom)

Berita Lainnya
Presiden Gelar Pertemuan Bilateral dengan PM Kepulauan Solomon PORT MORESBY, TAJUKTIMUR.COM - Indonesia dan Kepulauan Solomon adalah dua negara yang memiliki beber...
Jokowi: Kurangi Ketergantungan Terhadap Satu Mata Uang SINGAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Presiden Jokowi mengatakan saat ini, kita menghadapi kondisi ekonomi glo...
Jokowi-Putin Bahas Isu Ekonomi SINGAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Pemerintah Indonesia dan Rusia melakukan pertemuan bilateral di Pusat Ko...
Presiden Jokowi Harapkan ASEAN Perkuat Sinergi SINGAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Presiden Joko Widodo menyatakan harapannya agar Perhimpunan Bangsa-Bangs...
DPR Optimis Hubungan Diplomatik Indonesia – Selandia Baru Meningkat Wellington, TAJUKTIMUR.COM - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo optimis pertemuan yang telah dilakukan ol...
Kanal: Internasional