Loading...

Hari Ini PBB Gelar Sidang Darurat soal Yerusalem

NEW YORK (TAJUKTIMUR.COM) – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan menggelar sidang darurat setelah Amerika Serikat memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menolak keputusan Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Permintaan sidang darurat Majelis Umum PBB yang jarang terjadi ini diajukan oleh Arab, Turki, dan negara-negara anggota OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) sebagai representasi suara kolektif dunia Muslim. 193 negara anggota Majelis Umum PBB akan hadir dalam sidang tersebut.

Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour mengatakan Majelis Umum akan mengadakan votingterhadap rancangan resolusi yang meminta Doland Trump mencabut keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pada Senin lalu Amerika Serikat telah menggunakan hak veto terhadap rancangan resolusi yang diinisiasi oleh Mesir kepada 15 anggota Dewan Keamanan PBB. Rancangan tersebut didukung 14 anggota DK yang lain.

Rancangan resolusi tersebut tidak secara spesifik menyebut AS atau Trump hanya mengatakan: “penyesalan mendalam atas keputusan baru-baru ini terkati Yerusalem.” Rancangan itu juga mengatakan,” Keputusan atau tindakan apapun yang mengubah karakteristik, status, atau komposisi demografi Kota Suci Yerusalem tidak memilik dampak hukum, batal dan harus dicabut.”

Palestina tentu tidak tinggal diam, mereka kemudian meminta dukungan Majelis Umum agar dapat meloloskan resolusi yang tujuannya membatalkan keputusan Trump soal Yerusalem.

Mansour mengatakan ia berharap resolusi ini akan mendapat “dukungan luar biasa” pada sidang Majelis Umum. Keputusan pada sidang memang tidak mengikat tetapi memiliki kekuatan politik cukup besar.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley, mengirimi surat kepada sejumlah negara anggota PBB, mengancam bahwa AS akan mengingat negara manapun yang mendukung resolusi yang mengkritik keputusan AS, demikian menurut dokumen yang diterima Reuters baru-baru ini.

“Presiden akan memantau secara seksama proses pengambilan suara dan meminta saya melaporkan negara mana saja yang memberi suara menolak AS. Kami akan membuat catatan setiap suara yang diberikan,” tulis Haley.

Menurut resolusi 1950, pertemuan darurat dapat diusulkan kepada Majelis Umum untuk membahas rekomendasi yang pantas bagi para anggota dalam menentukan aksi kolektif, jika Dewan Keamanan dianggap gagal mengakomodasi.

Sejak resmi berdiri pada Juni 1945, Majelis Umum baru 10 kali menggelar sidang darurat. Sidang terakhir digelar pada 2009 membicarakan pendudukan Yerusalem Timur dan wilayah Palestina.

Israel menganggap Yerusalem sebagai ibu kota abadi dan tak terpisahkan. Mereka berharap seluruh kedutaan besar akan berlokasi di sana. Sementara Palestina juga menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota kelak jika Negara Palestina resmi merdeka. Yerusalem Timur diduduki Israel pada 1967 dan pendudukan ini tidak pernah diakui secara internasional.

(dwisan/ttcom)

Berita Lainnya
DPR Optimis Hubungan Diplomatik Indonesia – Selandia Baru Meningkat Wellington, TAJUKTIMUR.COM - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo optimis pertemuan yang telah dilakukan ol...
Dubes Saudi Bantah Adanya Pelarangan Haji Palestina JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuai...
Studi Leipzig: Prasangka Buruk Terhadap Muslim di Jerman Meningkat Tajam BERLIN, TAJUKTIMUR.COM - Prasangka terhadap orang Muslim, migran dan pencari suaka telah meningkat t...
Survei: Aksi Bunuh Diri Anak Muda di Jeoang Tertinggi dalam 30 Tahun TOKYO, TAJUKTIMUR.COM - Aksi bunuh diri di kalangan anak muda Jepang telah mencapai jumlah tertinggi...
Rumah Sakit Indonesia di Gaza Kena Dampak Serangan Israel GAZA, TAJUKTIMUR.COM - Beberapa bagian Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina, mengala...
Kanal: Internasional