Loading...

Hujan Salju Melanda China Sejak Rabu Lalu

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Hujan salju di wilayah tengah China sejak Rabu (4/1) hingga Sabtu (6/1) menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian materi dalam jumlah besar.

Biro Urusan Sosial Masyarakat Pemerintah Provinsi Hubei mencatat seorang warga setempat tewas dan 510.000 jiwa terdampak hujan lebat salju.

Pemprov Hubei terpaksa mengevakuasi 682 warga, 286 unit rumah warga rata dengan tanah, 826 unit rumah rusak, dan 31.380 hektare areal pertanian dipastikan gagal panen sehingga total kerugian akibat bencana tersebut mencapai 723 juta RMB (Rp1,5 triliun).

Ketebalan salju yang mencapai 30 centimeter masih terlihat di beberapa kota di Provinsi Hubei, di antaranya Xiangyang dan Suizhou, demikian laporan Radio Internasional China (CRI) yang dipantau Antara di Beijing, Minggu.

Di Provinsi Jiangsu, 13 jalur kereta api cepat masih ditutup karena rel dipenuhi salju dan rawan tergelincir, demikian informasi dari Dinas Perhubungan setempat.

Jiangsu merupakan jalur kereta api paling strategis dan padat karena menghubungkan dua kota besar, Beijing dengan Shanghai.

Sementara itu, 51 lokasi wisata yang tersebar di sembilan kota di Provinsi Anhui ditutup untuk alasan keamanan para pengunjung sebagaimana pengumuman Dinas Pariwisata setempat.

Kantor Pemprov Anhui menyatakan bahwa hujan salju pada awal tahun ini merupakan peristiwa terburuk sejak 2008 yang menewaskan 13 orang sehingga menyebabkan kerugian perekonomian senilai 1,26 miliar RMB (Rp2,6 triliun) dan kerugian yang diderita oleh para petani mencapai 790 juta RMB (Rp1,6 trliun).

Selain Hubei, Anhui, dan Jiangsu, beberapa provinsi lain di wilayah tengah dan utara daratan Tiongkok, yakni Henan, Hunan, dan Shaanxi juga dilanda hujan lebat salju.

Badan Meteorologi China (NMC) juga memperkirakan hujan deras terjadi di wilayah selatan, seperti Guangxi Zhuang, Jiangxi, Hunan, Fujian, dan Guangdong, mulai Minggu pukul 08.00 waktu setempat (07.00 WIB).

Beberapa provinsi tersebut akan mengalami hujan lebat dengan intensitas 120 milimeter dalam kurun 24 jam.

NMC merekomendasikan pemerintah setempat untuk mengambil tindakan yang diperlukan, seperti memutus aliran listrik di daerah rawan untuk menghindari bencana, demikian Kantor Berita Xinhua melaporkan.

(dwisan/ttcom)

 

Berita Lainnya
Australia Akui Yerusalem Barat sebagai Ibu Kota Israel SYDNEY, TAJUKTIMUR.COM - Australia secara resmi mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel. Ke...
Tiga Orang Tewas, Ribuan Rumah Tanpa Listrik Akibat Badai Salju AS Tenggara ATLANTA, TAJUKTIMUR.COM - Sedikit-dikitnya tiga orang tewas dan ribuan rumah kehilangan listrik di C...
135 Orang Cedera dalam Unjuk Rasa Rompi Kuning di Perancis PARIS, TAJUKTIMUR.COM - Dilaporkan, sebanyak 118 orang dan 17 petugas polisi terluka dalam unjuk ras...
Gubernur Palestina Dibebaskan Bersyarat oleh Israel RAMALLAH, TAJUKTIMUR.COM - Pengadilan Israel memerintahkan pembebasan bersyarat bagi Gubernur Pales...
Tokoh Muslim Boikot Pertemuan dengan PM Australia MELBOURNE, TAJUKTIMUR.COM - Perdana Menteri Australia, Scott Morrison telah menuduh sejumlah tokoh-t...
Kanal: Internasional