Loading...

PBB: Angka Kelaparan di Afrika Paling Tinggi

ADDIS ABABA (TAJUKTIMUR.COM) – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Sabtu (27/1) mengatakan bahwa kerawanan pangan meningkat dan Afrika merupakan benua yang paling terpengaruh.

Guterres menyampaikan hal tersebut pada acara tingkat tinggi yang diadakan sehari sebelum peringatan 30 tahun Majelis Kepala Negara dan Pemerintah Afrika (Assembly of African Heads of State and Government).

“Afrika memiliki persentase tertinggi terkait kelaparan global,” ucap Guterres kepada pejabat tingkat tinggi dan ahli pertanian.

Menurut Guterres, ada hubungan antara konflik dengan kerawanan pangan.

“Kami butuh pendekatan komunitas yang meningkatkan kohesi sosial,” lanjut Guterres.

“Pekerja pertanian sebanyak 63 persennya adalah wanita,” ungkap Guterres, sambil menekankan bahwa kesetaraan gender dapat berdampak pada situasi keamanan pangan.

Afrika, menurut Gutteres, harus lebih berbenah untuk memastikan keamanan pangannya.

Dia menjelaskan bahwa hanya lima persen negara Afrika yang mencapai target yang ditetapkan oleh Program Pengembangan Pertanian Komprehensif Afrika (CAADP), salah satu program unggulan Afrika yang tertuang dalam Agenda 2063.

Agenda Afrika 2063 merupakan cetak biru ekonomi dan politik yang ditujukan untuk menciptakan benua yang damai dan makmur.

Pada September 2017, PBB menyebutkan dalam laporannya bahwa kelaparan dunia telah meningkat hampir lima persen secara year-on-year pada 2016 akibat meningkatnya konflik dan isu terkait cuaca di seluruh dunia.

Laporan itu juga memperkirakan jumlah penderita kurang gizi kronis di dunia meningkat hingga 815 juta jiwa, yang berarti 11 persen populasi dunia pada 2016, dari sebelumnya 777 juta jiwa pada 2015.

Sekitar 20 persen populasi Afrika (lebih dari 243 juta jiwa) dipengaruhi oleh kelaparan dalam kurun waktu yang sama, ungkap laporan tersebut.

Dilansir Anadolu, Ketua Uni Afrika dan Presiden Guinea Alpha Conde mengatakan dalam acara itu bahwa kerawanan pangan dan kekurangan nutrisi mikro merupakan momok benua ini.

Dia merekomendasikan bahwa pengembangan sumber daya hewani harus menjadi inti dari agenda keamanan pangan.

Menurut Presiden Conde, kerawanan pangan dan malnutrisi adalah penyebab konflik di banyak daerah di benua tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Etiopia Hailemariam Desalegn menginstruksikan perluasan irigasi untuk menangani masalah kemiskinan dan kerawanan pangan sebab kemiskinan sulit diberantas jika hanya bergantung kepada pertanian yang bersifat tadah hujan.

Selama satu dekade belakangan ini, dia mengatakan, Etiopia telah berhasil meningkatkan area lahan irigasi dari enam juta hektar menjadi 16 juta hektar.

(fr)

Berita Lainnya
Australia Akui Yerusalem Barat sebagai Ibu Kota Israel SYDNEY, TAJUKTIMUR.COM - Australia secara resmi mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel. Ke...
Tiga Orang Tewas, Ribuan Rumah Tanpa Listrik Akibat Badai Salju AS Tenggara ATLANTA, TAJUKTIMUR.COM - Sedikit-dikitnya tiga orang tewas dan ribuan rumah kehilangan listrik di C...
135 Orang Cedera dalam Unjuk Rasa Rompi Kuning di Perancis PARIS, TAJUKTIMUR.COM - Dilaporkan, sebanyak 118 orang dan 17 petugas polisi terluka dalam unjuk ras...
Gubernur Palestina Dibebaskan Bersyarat oleh Israel RAMALLAH, TAJUKTIMUR.COM - Pengadilan Israel memerintahkan pembebasan bersyarat bagi Gubernur Pales...
Tokoh Muslim Boikot Pertemuan dengan PM Australia MELBOURNE, TAJUKTIMUR.COM - Perdana Menteri Australia, Scott Morrison telah menuduh sejumlah tokoh-t...
Kanal: Internasional