Loading...

Warga Rakhine Ingin Belajar Perdamaian dari Indonesia

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Sebanyak 10 orang yang berasal dari Negara Bagian Rakhine berkunjung ke Indonesia. Rakhine merupakan wilayah di Myanmar tempat terjadinya krisis kemanusiaan Rohingnya.

Kunjungan di Indonesia dilakukan di Jakarta dan Ambon. Tujuan kedatangan mereka ke tanah air untuk belajar bagaimana Indonesia menyelesaikan konflik antaretnis dan sektarian.

Saat berada di Jakarta, kelompok tersebut bertemu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Direktur Asia Tenggara Kemlu, Denny Abdi, yang mendampingi Menlu dalam pertemuan itu mengatakan, kelompok itu datang di fasilitasi oleh LSM Centre for Humanitarian Dialogue yang bermarkas di Jenewa, Swiss.

“Grup ini pro-rekonsiliasi dari Rakhine, ada yang Muslim dan Buddha, mereka datang karena Indonesia kan berpengalaman, Indonesia multi-etnis dan multi-agama,” ucap Denny di kantor Kemlu, Kamis (22/2).

“Ada kesamaan kita di masa lalu, yaitu di Ambon. Nah itulah alasan mereka ke sini untuk lihat bagaimana Indonesia pasca-konflik,” papar dia.

Kepada Menlu, kelompok tersebut bercerita, saat ini mereka memfokuskan diri untuk mempersiapkan Rakhine yang aman jelang repatriasi warga Rohingya.

Keamanan menjadi faktor penting menjelang kembalinya warga Rohingya. Sebab, dengan terjaminnya keamanan maka peluang terulang konflik di masa mendatang dapat diminimalisir.

“Mereka persiapkan diri sekarang, kalau pengungsi sudah pulang, tidak ada jaminan gesekan itu tidak akan terjadi lagi,” kata dia.

Untuk mengatasi itu, sambungnya, mereka ingin belajar, negara mana yang sudah pernah atasi ini, yang mereka lihat Indonesia.

Denny menyebut, Menlu menyambut baik niat kelompok itu belajar dari Indonesia. Mereka pun dipersilakan untuk belajar di Ambon yang pernah dihantam konflik.

“Dalam pertemuan tadi, Menlu sampaikan bahwa Indonesia betul-betul ingin lihat perbaikan kondisi di Myanmar, khususnya di Rakhine,” kata Denny.

“Kita akan bagi pengalaman yang kita punya. Jadi kita bagikan pengalaman yang tentu kalau mereka mau belajar dari pihak yang terlibat konflik, makanya mereka ke lapangan,” jelas dia.

Kelompok pro-rekonsiliasi tersebut rencananya akan tiba di Ambon pada Jumat (23/2). Mereka dijadwalkan bertemu tokoh masyarakat, LSM, dan Pemda.

“Pokoknya (mereka) akan bertemu orang yang paham konflik, bagaimana masalah rekonsiliasi, bagaimana cara melupakan, ini kan konflik kekerasan yang ada korban jiwa dan luka, nah itu yang coba mereka belajar,” kata dia.

(as)

Berita Lainnya
UNICEF: 1,2 juta anak di Yaman hidup di daerah konflik YAMAN, TAJUKTIMUR.COM - Sebanyak 1,2 juta anak tinggal di daerah konflik di Yaman --negara yang digu...
Perempuan Gaza berpawai bagi Pembebasan Perempuan yang dipenjarakan Israel GAZA, TAJUKTIMUR.COM - Sejumlah perempuan Palestina menyelenggarakan pertemuan terbuka di Jalur Gaza...
Ratusan orang di Barcelona protes kunjungan Raja Spanyol BARCELONA, TAJUKTIMUR.COM - Ratusan orang turun ke jalan di Barcelona pada Minggu (24/2) untuk menen...
PBB peringatkan Mesir soal eksekusi hukuman mati JENEWA, TAJUKTIMUR.COM - Badan hak asasi manusia PBB pada Jumat menyatakan keprihatinan tentang ekse...
Sedikitnya 5 orang tewas akibat serangan rezim Assad IDLIB, TAJUKTIMUR.COM - Sedikitnya 5 orang tewas akibat serangan udara rezim Bashar al-Assad yang di...
Kanal: Internasional