Loading...

Solidaritas Alumni 212 tidak Memiliki Kaitan dengan Politik Praktis

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Solidaritas Muslim 212 menjadi fenomenal bukan saja karena kelompok tersebut secara konsisten berhasil memobilisasi jutaan orang untuk melakukan aksi damai di pusat kota Jakarta, tetapi gerakan ini telah menjelma menjadi inspirator utama umat Islam dalam menyuarakan aspirasi perubahan di Indonesia.

Peringatan aksi solidaritas “Alumni 212” yang kedua pada 2 Desember baru-baru ini telah mengkonfirmasi soliditas umat Islam akan kerinduan memiliki peran dalam menentukan arah kebijakan negara ini.

Menurut Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, solidaritas Alumni 212 ini tidak memiliki kaitan dengan politik praktis tetapi lebih merupakan gerakan moral.

Dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (5/12/2018) Ketua GNPF-Ulama Yusuf Muhammad Martak menguraikan pandangannya.

Bagaimana Anda memaknai demo 212 yang melibatkan begitu banyak masa ini?

Jadi begini, 2018 ini adalah reuni alumni 212 yang kedua. Jadi itu bukan aksi, bukan demo. Tapi reuni 212 yang kedua. Reuni pertama adalah 2017 dan yang kedua adalah 2018.

Dan alhamdulillah ternyata animo dan alumni yang menghadiri reuni kali ini melebihi acara awalnya yaitu pada 2016 waktu ada penistaan surat Al-Maidah ayat 51 oleh salah satu calon gubernur waktu itu.

Kami memaknai acara ini suatu yang sangat fenomenal yang tanpa di-koordinir, tanpa dimobilisasi, tanpa ada bantuan apa pun baik dari sisi materi atau logistik dan lain sebagainya.

Tapi animo dan minat kehadiran sangat tinggi sekali. Nah, saya tidak tahu apa yang melatar belakangi ini. Karena kami melihat gerakan ini tidak ada kaitannya dengan politik an sich tetapi lebih merupakan gerakan moral.

Tapi memang aksi 212 pada 2016 itu dengan segala perjuangan beberapa aksi baru berhasil memenjarakan si penista agama.

Kenapa aksi ini berlanjut padahal Ahok sudah dipenjarakan?

Tapi realitas menunjukkan, tampaknya perjuangan tidak bisa berhenti sampai di situ. Harus berlanjut lagi hingga adanya pergantian kepemimpinan yang menurut masyarakat pada umumnya, yaitu umat Islam, tidak menyenangi pola kepemimpinan.

Banyaknya permasalahan, banyaknya janji-janji yang tidak ditepati. Terus, adanya ketimpangan yang sangat tentang penerapan hukum. Jadi, banyak kasus-kasus yang kami laporkan mandek di tengah jalan.

Kasus-kasus yang dilaporkan oleh orang yang tidak suka dengan kami, sesegera dan secepat-cepatnya ditindak lanjuti aparat. Ini contoh yang sangat unik sekali. Kasus yang terjadi kepada Habib Bahar. Habib Bahar ini sudah dilaporkan berapa hari sudah langsung dipanggil. Karena tidak hadir, dilakukan pemanggilan kedua.

Ada kasus yang berbeda. Seperti kasus Abu Janda. Berkali-kali menistakan agama. Berkali-kali menghina kalimat Tauhid. Berkali-kali menistakan yang ada kaitannya dengan umat Islam, sudah dilaporkan berkali-kali tidak ada tindak lanjut. Belum terlihat dipanggil.

İni yang menjadi suatu keanehan yang sangat mencolok. Belum lagi yang lain. Banyak sekali kalau mau dikemukakan. Itulah diperlukannya reuni ini agar umat Islam tetap solid bersama-sama dengan para habaib, dengan para ulama dan para tokoh-tokoh nasional yang keberpihakannya kepada masyarakat dan rakyat kecil, khususnya umat Islam sangat tinggi.

Seberapa besar Anda memperkirakan gerakan ini bisa mengubah keadaan?

Kami sebagai gerakan nasional pengawal fatwa ulama, yang memang sebagai bagian dari warga negara, saya mempunyai suatu keyakinan insyaallah kebersamaan umat Islam sangat tinggi.

Memang benar, tidak menafikan di sisi pasangan calon (presiden) yang berbeda juga di sana ada ulama, ada umat Islam dan tokoh-tokoh yang lain. Tapi kami anggap itu suatu hal yang wajar dan lumrah. Setiap ada pemilihan itu pasti ada yang mendukung yang sana ada yang mendukung yang sini.

Tapi keyakinan itu sangat tinggi. Karena, contoh soal, di 2016 katanya masa yang hadir sekitar 7 jutaan orang. Di 2017, katanya yang hadir itu waktu reuni sekitar tiga sampai empat juta orang. Tapi pada reuni 2018 terakhir kemarin, itu yang hadir sekitar 13 juta orang lebih.

Nah, itulah sebagai salah satu keyakinan akan adanya perubahan. Ini mungkin didasari oleh harapan-harapan dari pada umat Islam yang merasakan adanya ketidakadilan.

Kiyai Ma’ruf Amin, yang juga seorang ulama, mengatakan bahwa Reuni 212 ini tidak relevan lagi. Apa komentar Anda?

Begini, reuni itu adalah semacam mengenang suatu acara atau suatu aktivitas atau suatu kumpulan yang kita pernah bersama-sama. Jadi, tidak ada orang yang boleh menyatakan reuni universitas tersebut tidak boleh diadakan.

Kalau reuni tidak perlu, mengenang tidak perlu. Bagaimana nanti dengan hari Sumpah Pemuda, hari kemerdekaan, Isra Mi’raj, Maulid, semua tidak boleh. Jadi, jangan karena hanya ada rasa kekhawatiran atau kecemburuan lalu muncul perkataan itu.

Karena memang sudah menjadi isu umum, tidak ada orang selevel apa pun, organisasi apa pun yang bisa memobilisasi masa sebanyak itu, kecuali atas kekuasaan Allah.

Apakah solidaritas 212 ini tidak akan berubah menjadi gerakan yang bisa dikategorikan resistensi kepada pemerintah sekarang?

Jadi begini, kembali lagi kami sebagai warga negara yang baik, patuh dan taat pada hukum, yang kita sikapi itu bukan pemerintahannya, tapi pemimpin dari pemerintahan tersebut. Baik dari level presiden, mungkin dari eksekutifnya, maupun dari legislatifnya dan juga koalisi DPR yang boleh dikatakan hampir mandul. Tidak berperan aktif, tidak mewakili kepentingan masyarakat. Dan itu bukan diucapkan oleh saya, Yusuf Muhammad Martak, bahkan Ketua DPR sendiri yang mengatakan saat kami bertemu bahwa dia tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Nah ini, apakah kami harus diam? Tidak dong. Kepentingan masyarakat banyak ini lebih penting. Jadi jangan ada isu-isu kami anti pemerintah. Kalau kami anti pemerintah, kami tidak mau duduk bersama. Kami selama ini duduk bersama. Setiap ada masalah kami laporkan sesuai prosedur. Kita ke kepolisian, ke aparat, hanya kami tinggal menerima nasib saja. Ditindak lanjuti atau tidak. Tiba-tiba nanti yang kami laporkan diputuskan tidak bersalah. Diputus tapi tidak memenuhi unsur hukum. Begitulah, tapi kami tidak akan menyerah.

Kami terus akan berjuang menuntut keadilan. Kami tidak mau karena satu atau dua periode seorang presiden, lembaga pemerintahan akan merusak tatanan bernegara dan berbangsa.

Pertanyaan terakhir, harapan dari alumni 212 ini apa?

Harapan kami. Kami ingin bertemu dan mengadakan reuni 212 ini setiap tahun. Dan kami sampaikan langsung kepada yang hadir kemarin apakah tahun depan kita akan reuni lagi. Mereka serempak menjawab iya. Harus ada reuni lagi.

Dan prediksi saya insyaallah reuni 2019 akan lebih besar lagi dari reuni tahun ini. Karena insyaallah di reuni 2019, dengan kebesaran Allah, dengan kebesaran Allah, Habib Rizieq sudah berada di tengah-tengah umat. Jadi akan lebih besar. Dan bagi alumni yang selama 2 tahun ini tidak pernah bertemu Habib Rizieq bisa mencurahkan kerinduan dan kekangenannya.

Kami harapkan insyaallah reuni 2019 juga akan lebih tertib, lebih aman lagi dibanding sekarang. Kita harapkan semua dan insyaallah dapat berkah dan pertolongan dari Allah. Jadi itulah harapan kami.a

Berita Lainnya
Mesin Politik PKS Mengejutkan Semua Partai DEPOK, TAJUKTIMUR.COM – Pemilihan kepala daerah telah berlangsung di 171 wilayah se-Indonesia, yakni...
Komedian Panji Siap Tour Keliling Dunia JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM -- Ada info terbaru untuk para pecinta stand up comedy. Kali ini dari sang K...
Cak Imin Optimis Ulama Dukung Dirinya Sebagai Cawapres 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Partai-partai politik peserta Pemilu makin memantabkan langkahnya untuk me...
Presiden Jokowi: Kita Harapkan Tidak Hanya Sukses di Persiapan, tetapi Juga di Pelaksanaan dan Prest... JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM -- Asian Games 2018 merupakan kesempatan emas sekaligus momentum terbaik bag...
Titi Anggraini: Banyak Tantangan bagi Integritas Pilkada 2018 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM -- Mewujudkan Pilkada berintegritas merupakan pekerjaan berat. Integritas Pi...
Kanal: Interview