Loading...

Komisi I Pertanyakan Konsistensi KPI

JAKARTA, (TAJUKTIMUR.COM) — Anggota Komisi I DPR RI Sukamta mengaku resah dengan mulai bermunculan acara-acara di televisi yang dinilai tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Beberapa kasus yang mencuat seperti penayangan perilaku banci dan penghinaan terhadap institusi negara.

Saat Rapat Dengar Pendapat Komisi I DPR RI dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Selasa (30/1) di Jakarta, Sukamta menyebut salah seorang publik figur sebetulnya sudah berhenti dari penampilan kebanci-bancian di televisi yaitu laki-laki dengan mengenakan atribut perempuan, setelah mendapat teguran keras dari KPI periode lalu.

“Tapi belakangan ini melalui akun medsosnya, dia menyatakan sudah siap tampil lagi dengan acara yang serupa di televisi. Ada apa dengan KPI yang sekarang? Sepertinya KPI lebih longgar dalam mengawasi penampilan tayangan yang menyerupai LGBT ini,” tanya dia.

Sekretaris Fraksi PKS ini juga menyoroti kasus tayangan di sebuah televisi swasta yang menampilkan adegan permainan seseorang berseragam TNI memakan roti dengan tali yang diikatkan ke kaki para artis. “Ini jelas pelecehan terhadap institusi negara! Sangat menyedihkan,” ujar dia.

Sukamta menyebut, yang bersangkutan memang sudah meminta maaf, tetapi dia mempertayakan peran KPI. Menurut dia, KPI ada untuk mengawal hal-hal seperti ini agar para pelaku jera serta memberi peringatan bagi yang lain agar tidak mengulangi kejadian serupa. Acara-acara seperti ini tidak ada unsur pendidikan atau pun kebudayaan.

Selain itu, Sukamta menegaskan bahwa kurang tegasnya KPI dalam mengawasi hal ini dapat menyebabkan televisi-televisi yang lain berlomba-lomba menayangkan acara serupa. Masyarakat juga sudah gerah dengan penampilan LGBT di dunia penyiaran. Tugas KPI, ujar dia, adalah menjaga agar track bangsa dalam membangun budaya dan sumber daya manusia masa depan melalui dunia penyiaran berada pada jalur yang benar.

Mengutip pembukaan UUD NRI Tahun 1945 bahwa salah satu tujuan bangsa ini mencerdaskan kehidupan bangsa. Cara mencerdaskan bangsa pun berevolusi. Zaman dulu lewat ngaji di surau atau langgar. Sekarang dengan gadget dan televisi. Maka televisi ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan wajah dan karakter generasi bangsa ke depan.

“Dengan tugas yang berat seperti itu, memang rasional jika usulan kenaikan anggaran KPI kita dukung. Tapi tunjukkan dong kinerja yang serius untuk mengawasi dunia penyiaran dan memberikan sanksi tegas sesuai peraturan bagi pelaku penyiaran yang melanggar, bukan hanya memberi peringatan,” tegas wakil rakyat dari Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

(hfd/ttcom)

Berita Lainnya
F-PKS Wacanakan Bentuk Angket BPJS Kesehatan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Fraksi PKS DPR mewacanakan pembentukan Panitia Khusus Hak Angket terkait p...
Otonomi Daerah Harus Memperkuat NKRI SUMEDANG, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Fraksi Partai Golkar di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Agun ...
Komisi VIII DPR Berharap Penyelenggaraan Haji Lebih Baik JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) , Ali Taher Parasong meneg...
DPR Dorong Pemerintah Libatkan Kontraktor Lokal dalam Proyek APBN SURABAYA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi V mendorong pemerintah melibatkan kontraktor lokal dalam mengerjak...
DPR dan Parlemen Inggris Perkuat Kerjasama Di Lima Sektor Prioritas JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Delegasi parlemen yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon didampingi ol...
Kanal: Kabar Parlemen