Loading...

Air Baku untuk Kehidupan Warga Maluku

AMBON, TAJUKTIMUR.COM – Ketersediaan air baku di Provinsi Maluku merupakan hal yang cukup krusial. Belum seluruh wilayah mendapatkan akses air baku. Bahkan di pinggiran Kota Ambon, Ibu Kota Maluku, terdapat sebagian warga yang masih mencari air di sungai. Mereka tidak mendapatkan akses air dari PDAM.

Masalah itu direspons Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku agar warga yang belum mendapatkan akses air baku, bisa mendapatkan layanan seperti halnya warga lainnya di kota.

Seperti yang dialami warga Kampung Wailete, Desa Hative Besar, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Maluku. Mereka, selama ini, harus ke bukit mencari air untuk kebutuhan sehari-hari. Pagi dan sore mereka membawa ember untuk mencari air, yang jaraknya 2 kilometer ke arah bukit. Di situlah sumber air baku Sungai Sauhuru.

Ada 16 Rukun Tangga di Desa Hative Besar yang setiap harinya harus mengambil air di atas bukit. Namun, pada tahun lalu, BWS membangun intake dan jaringan pipa transmisi air baku di Desa Hative Besar.

John Haurissa, selaku Pejabat Pembuat Komitmen Air Baku BWS Maluku, menjelaskan pembangunan intake dan jaringan pipa transmisi air baku di Desa Hative Besar, Kota Ambon untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga.

“Selama ini sebelum ada saluran air bersih ini, warga mengambil air dari sungai atau membuat sumur. Ini tentu menyulitkan warga karena harus mengambil air dari jauh,” kata John.

Saat ini sudah ada ratusan kran air komunal yang tersebar di 16 RT.

“Rata-rata satu kran ini untuk lima hingga sepuluh rumah tangga. Manfaat keberadaan air bersih ini adalah sumber air lebih dekat dengan rumah. Air mengalir selama 24 jam dengan debit air 10 liter per detik,” jelas John di Kota Ambon, akhir bulan lalu.

Pembangunan intake dan jaringan pipa transmisi air baku Desa Hative Besar, Kota Ambon ini menggunakan anggaran dari APBN 2017 sebesar Rp3.934.330.000 yang meliputi pembangunan satu intake, pembuatan satu buah broncaptering, satu buah reservoir 100 m3 dan 100 kran umum.

Adapun pembangunan sarana intake dan jaringan pipa ini berada di atas tanah desa seluas 10,12 km.

Selain untuk warga desa, saluran air bersih ini juga dipasang di sekolah dan tempat ibadah. Untuk sekolah terdiri dari satu TK, 2 SD, 1 SMP, dan 1 SMA/SMK. Kemudian untuk tempat ibadah yakni sarana air bersih ini dibangun di tiga gereja dan satu masjid.

Lary A Talahaturuson, selaku Pelaksana Wilayah Desa Hative Besar, menjelaskan, saat ini, ada 1.267 kepala keluarga yang tersebar di 16 RT mendapat manfaat air bersih yang dibangun oleh Balai Wilayah Sungai Maluku ini. Hingga saat ini warga tidak dikenai biaya apapun untuk mendapatkan air baku ini.

“Nantinya pengelolaan air baku ini diserahkan ke BUMDes,” terang Lary.

Sejumlah warga mengakui dengan adanya kran-kran air komunal di tiap RT, sumber air semakin dekat.

“Saya tidak perlu lagi naik ke bukit dan bolak-balik membawa air,” kata Arni Tuhulero, warga RT 10 RW 02 Kampung Wailete, Desa Hative Besar.

Ketua RT 011 RW 02, Petrus Tuhuleruw membenarkan bahwa setiap hari warganya bisa mengambil air dari kran-kran selama 24 jam. “Sumber air semakin dekat,” jelasnya.

Keberadaan air bersih ini juga dirasakan para siswa dan guru di SMK Negeri 2 Ambon. John Soukotta, selaku Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Ambon, mengatakan, selama ini, air yang ada di sekolah menggunakan sumber air tanah.

“Kualitas airnya tidak bagus karena dulu daerah ini bekas rawa. Kadang airnya bau. Setelah ada pembangunan fasilitas air baku ini sangat bermanfaat dan bisa berhemat,” terangnya.

Selama ini, kebutuhan air minum, sekolah harus membeli air galon. Seminggu perlu beli air tiga galon untuk kebutuhan air minum. Saat ini dengan adanya air baku, maka sekolah tidak lagi membeli air galon.

Manfaat embung dan air baku
Kepala BWS Maluku, Hariyono Utomo menjelaskan pembangunan intake dan jaringan pipa transmisi air baku ini merupakan salah satu strategi pengelolaan sumber daya air di Maluku.

Dijelaskannya, di Maluku ada sejumlah wilayah yang belum dilayani akses air baku. Seperti di sejumlah pulau terluar di Maluku, kebutuhan air baku belum terpenuhi..

“Selama ini kehadiran dan keberadaan sungai-sungai di Maluku sangatlah penting. Kami bermitra dan bersinergi dengan instansi lain untuk pengelolaan sumber daya air baku,” jelas Hariyono.

Berita Lainnya
Tradisi Toleransi di Maluku harus Dipertahankan AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Uskup Diosis Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagie menyatakan tradisi toleran...
BPOM Maluku Minta Pengusaha Penuhi Standar Kebersihan AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Maluku meminta pelaku usaha untuk m...
Harga Barang Meroket, Ini Komentar BI Maluku AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Pedagang di Pasar Tradisional Kota Ambon, diminta tidak menaikan harga terla...
Bupati Malra dukung Kebijakan Bakar Kapal Ikan Ilegal LANGGUR, TAJUKTIMUR.COM - Bupati Maluku Tenggara (Malra) M. Thaher Hanubun menyatakan pihaknya setuj...
Wali Kota Ambon: Perhargaan Apresiasi Pemerintah Pusat kepada Daerah AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy menyatakan penghargaan yang diraih dae...
Kanal: Maluku