Loading...

Pembobol Dana BRI Rp1,5 Miliar Dituntut Penjara

AMBON, TAJUKTIMUR.COM — Jauhar Usemahu (44), mantan kepala unit Bank Rakyat Indonesia di Amahai, Kabupaten Maluku Tengah yang menjadi terdakwa pembobol dana bank antara tahun 2016 hingga 2017 dituntut 8,5 tahun penjara oleh JPU Kejari Piru.

“Meminta majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 2 ayat (1) juncto pasal 18 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagai dakwaan primer,” kata JPU Rian Lopulalan dan Rambo Sinurat di Ambon, Rabu.

Tuntutan tersebut disampaikan dalam persidangan dipimpin ketua majelis hakim PN Tipikor, Jimmy Wally didampingi Hery Leliantono bersama Bernard Panjaitan selaku hakim anggota.

JPU juga menuntut terdakwa membayar denda sebesar Rp300 juta subsider tiga bulan kurungan serta uang pengganti senilai Rp1,4 miliar.

“Harta benda terdakwa akan disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti dan jika tidak mencukupi, maka yang bersangkutan akan dikenakan hukuman tambahan berupa penjara selama empat tahun,” kata JPU.

Yang memberatkan terdakwa dituntut penjara karena tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi dan belum mengembalikan keuangan negara, kecuali Rp64 juta dari total Rp360 juta yang diamankan jaksa ketika meringkus terdakwa.

Sedangkan yang meringankan adalah, terdakwa bersikap sopan dan memiliki tanggungan keluarga serta belum pernah dihukum.

Majelis hakim menunda persidangan hingga dua pekan dengan agenda mendengarkan pembelaan tim penasihat hukum terdakwa, Noke Pattirajawane, John Tuhumena dan kawan-kawan.

Terdakwa Jauhar alias Jo ditahan sejak 19 Maret 2017 lalu karena dugaan korupsi dana bank yang menimbulkan kerugian negara sebesar Rp1,5 miliar lebih.

BRI unit Amahai didirikan sejak tahun 1987 dan mendapat penyertaan modal pemerintah sebesar Rp19 juta, kemudian ada penyesuaian bentuk hukum BRI menjadi perseroan terbatas dan modal persero berasal dari kekayaan negara yang tertanam dalam bank serta kekayaan lain sesuai ketentuan yang berlaku.

Sehingga sumber keuangan bank sampai dengan posisi 13 Maret 2017 mencapai Rp1,649 miliar sesuai “vaut balance” sesuai tanggal, bulan, dan tahun yang telah disebutkan tadi.

Jumlah ini diperoleh dari hasil transaksi dengan nasabah yang mana pada posisi Jumat, (10/3) 2017 uang yang tercatat pada vaut balance senilai Rp1,153 miliar karena didapat dari hasil transaksi nasabah berupa pembayaran kredit, transfer, serta setoran tunai.

JPU mengatakan, sesuai SOP pengambilan uang pada bank BRI unit yang ditetapkan PT. BRI (Persero) Tbk Jakarta adalah kunci brankas dipegang oleh teller atau kasir, sedangkan kunci kombinasi dipegang kepala unit.

Selanjutnya untuk penarikan awal, teller atau kasir meminta kebutuhan uang untuk dana operasional bank dengan membuat kwitansi penarikan uang kemudian divalidasi dan disetujui oleh kepala unit.

Untuk awal hari, kepala unit bersama teller membuka brankas, dimana kepala unit memegang kunci kombinasi berupa angka-angka dan setelah itu teller memasukkan kunci brankas untuk membuka pintunya agar uang bisa diambil.

Selanjutnya dilakukan penghitungan uang oleh teller disaksikan kepala unit dan mencatatnya di buku register uang kemudian melakukan validasi dan transaksi pembukaan untuk kegiatan operasional harian.

Kemudian sesuai SOP batas penyimpanan di BRI unit Amahai sebesar Rp800 juta, dan kalau ada kelebihan kas induk maka harus melapor dengan membuat surat penyetoran kelebihan kas, lalu uang tersebut diantar oleh salah satu pegawai BRI, Satpam dan petugas kepolisian yang bertugas di Kantor BRI.

“Sejak terdakwa bertugas sebagai kepala unit BRI di Amahai, kunci cadangan brankas yang seharusnya tersimpan di BRI Cabang Masohi berada unit sehingga dia dengan leluasa mengambil uang di brankas,” jelas JPU.

Uang yang diambil terdakwa bervariasi antara Rp35 juta hingga Rp40 juta dengan alasan untuk uang operasional sesuai SOP, nantinya pada pengambilan kedua dan ketiga, terdakwa mengambil uang melebihi apa yang diminta oleh teller.

Misalnya, penarikan uang pada kasa induk sebesar Rp20 juta, terdakwa mengambilnya lebih Rp10 juta.

Terdakwa juga mengelabui petugas resident auditor dari Kantor BRI Cabang Masohi dengan cara membuat penarikan tanpa menyetor uang kepada teller sehingga dianggap fiktif, melakukan pembukuan tambahan kas teller tanpa disertai adanya uang tunai atau yang sebenarnya.

Cara ini dilakukan agar pada saat pengecekan fisik dengan vault balance keduanya sesuai, sehingga tim audit tidak menemukan adanya penyelewengan uang yang telah dilakukan terdakwa.

Contohnya uang pada kas induk ada Rp500 juta dan tercatat pada register uang, namun terdakwa mengambil uang tanpa diketahui teller sebesar Rp400 juta dan tidak tercatat pada buku register termasuk uang sisa di kas induk Rp100 juta.

Untuk mengelabui petugas audit, terdakwa melakukan transaksi pengambilan uang tersebut pada transaksi awal hari, di mana terdakwa melakukan penarikan fiktif uang sebesar Rp400 juta, namun fisik uangnya tidak diserahkan terdakwa.

Terdakwa juga meniru atau memalsukan tanda tangan teller untuk penarikan uang kas dimaksud di dalam slip penarikan fiktif sehingga menimbulkan kerugian Rp1,544 miliar.

Berita Lainnya
BPJS Tenagakerjaan beri Penghargaan untuk Pemkot Tual TUAL, TAJUKTIMUR.COM - BPJS Ketenagakerjaan memberi penghargaan untuk Pemerintah Kota (Pemkot) Tual ...
Tradisi Toleransi di Maluku harus Dipertahankan AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Uskup Diosis Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagie menyatakan tradisi toleran...
BPOM Maluku Minta Pengusaha Penuhi Standar Kebersihan AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Maluku meminta pelaku usaha untuk m...
Harga Barang Meroket, Ini Komentar BI Maluku AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Pedagang di Pasar Tradisional Kota Ambon, diminta tidak menaikan harga terla...
Bupati Malra dukung Kebijakan Bakar Kapal Ikan Ilegal LANGGUR, TAJUKTIMUR.COM - Bupati Maluku Tenggara (Malra) M. Thaher Hanubun menyatakan pihaknya setuj...
Kanal: Maluku