Loading...

Syahbandar Tual Masih Berlakukan Larangan Berlayar

TUAL, TAJUKTIMUR.COM – Ketinggian gelombang di perairan Kepulauan Kei dan Aru beberpa hari terakhir ini mencapai 2-4 meter, sehingga pihak Kesyahbandaran Tual masih melarang kapal-kapal kecil, ferry dan speedboat untuk melakukan pelayaran.

“Hingga kini kami masih melarang kapal-kapal kecil, ferry dan speedboat dengan kapasitas kecil melakukan pelayaran karena cuaca ekstrem,” kata Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Laut Tual, Yahya Usia di Tual, Selasa.

Hal itu, kata dia, sesuai dengan maklumat dari Kementerian Perhubungan bahwa cuaca di hampir seluruh perairan Indonesia mengalami kondisi ekstrem.

Khusus di perairan Kepulauan Kei, menurut BMKG, tinggi gelombang mencapai 2-4 meter dengan kecepatan angin tinggi.

“Kita sebagai Syahbandar mulai tegas melarang keberangkatan kapal-kapal terhitung 21-26 Juli, akibat cuaca buruk sesuai informasi cuaca oleh BMKG, dan hasil pantauan kami sendiri yang memang menunjukkan gelombang di daerah ini dan laut Arafura masih tinggi,” katanya.

Ia mengakui pihaknya belum dapat memberi ijin keberangkatan bagi kapal kecil, ferry dn speedboat, dan menunggu laporan cuaca dari BMKG.

Jika laporan menyatakan tinggi gelombang 0,5-1,5 meter, maka pelayaran dimungkinkan.

“Kapal dengan draf rendah tetap kita tidak berangkatkan, apa lagi speedboat yang umumnya digunakan untuk perhubungan laut di wilayah ini, termasuk juga kapal ferry tujuan Dobo,” kata Yahya.

Koordinasi dengan Dinas perhubungan baik Tual maupun Maluku Tenggara terus dilakukan untuk terus memantau keberangkatan speedboat oleh masyarakat di perairan kepulauan Kei.

“Prinsipnya kami tidak selamanya menahan keberangkatan kapal-kapal muapun speedboat, namun menunda keberangkatan hingga cuaca sudah memungkinkan,” katanya tegas.

Ia menambahkan, larangan keberangkatan kapal itu bersifat sementara, menunggu cuaca kondusif berdasarkan laporan BMKG.

“Saya sebagai Kepala UPP menghimbau agar pihak pemilik transportasi laut maupun masyarakat dapat bersabar untuk tidak memaksakan untuk berangkat ?akibat cuaca yang cukup ekstrim di wilayah ini, faktor keselamatan adalah hal yang harus diutamakan,” kata Yahya.

Laporan BMKG menyatakan, hingga tanggal 26 Juli 2018 kecepatan angin timur 37 km/jam masih berlangsung, dan tinggi gelombang laut di perairan kepulauan Kei dan kepulauan Aru mencapai 2,5 meter.

Berita Lainnya
Tim Sar Cari Nelayan yang Hilang di Perairan Nusalaut Maluku Tengah AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Seorang nelayan yang diketahui bernama Laplap (45) dilaporkan hilang saat em...
Harga Kopra di Ambon Terus Bergerak Turun AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Harga kopra yang ditawarkan para pembeli kepada perajin di daerah ini terus ...
Bisnis Perbengkelan Panca Karya Merosot AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Perusahaan Daerah (PD) Panca Karya memastikan target penerimaan dari bisnis ...
Dinas PMD diminta Kontrol Penggunaan Dana Desa AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Maluku diminta menjalankan fungsi k...
Penyaluran BPNT di Ambon Terkendala Kartu Identitas AMBON, TAJUKTIMUR.COM - Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di kota Ambon terkendala warga ya...
Kanal: Maluku