Loading...

Adhyaksa Dault: Tradisi Api Unggun Perlu Diminimalisir

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM)  – Tradisi upacara Api Unggun pada setiap akhir kegiatan perkemahan Pramuka yang nyaris tidak pernah ditinggalkan.

Tradisi api unggun jika tidak dilakukan dengan hati-hati dan cermat bisa membahayakan dan berdampak negatif pada kelestarian lingkungan hidup. Apalagi jika dilakukan pada lahan hutan kering yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan. Belum lagi jika setelah pelaksaan api unggun sampah- sampah sisa bakaran tidak di bersihkan dengan baik tentu akan mencemari lingkungan sekitar.

Meski demikian kegiatan api unggun yang sudah identik dengan kegiatan perkemahan Pramuka perlu dicari alternatif pengganti agar kegiatan tetap semarak.

“Tradisi Api Unggun dalam Gerakan Pramuka perlu diminimalisir dan dicarikan alternatif pengganti sehingga tetap semarak”, ujar Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Dr. H. Adhyaksa Dault, SH, M.Si saat membuka Workshop/Semiloka Juknis Pramuka Peduli Lingkungan Kamis (4/12) lalu di Hotel Grand Cempaka, Jakarta.

Menurut Adhyaksa Dault, banyak cara lain pengganti tradisi Api Unggun untuk dapat diterapkan. Dan para Pembina Pramuka diharapkan melakukan inovasi agar acara pengganti itu tetap semarak dan disenangi peserta didik.

Terkait kegiatan api unggun, berikut Ini penjelasan tertulis Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault yang dikeluarkan di Jakarta, Minggu, 10 Desember 2017 dan ditujukan kepada para Pramuka :

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam Pramuka. Saya diberitahu, kemudian membaca di media sosial tentang adanya kekhawatiran dari beberapa Kakak-Kakak bahwa api unggun akan dihilangkan dari kegiatan kita di Gerakan Pramuka, dan itu disampaikan di media sosial. Saya sampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas masukan dan perhatian Kakak-Kakak terhadap hal ini.

Untuk itu, perlu saya sampaikan beberapa hal. Pertama, kegiatan api unggun memang sebaiknya kita kurangi, bukan berarti dihilangkan. Tujuannya, menjaga kelestarian lingkungan sebagaimana masukan dari beberapa senior-senior kita di Gerakan Pramuka. Ada ribuan perkemahan dilakukan Pramuka di seluruh Indonesia setiap minggunya (oleh Gudep, dll). Tentu kita berharap tidak setiap perkemahan membuat api unggun. Ini perlu kita atur dengan baik.

Kedua, diperlukan alternatif lain selain api unggun, agar tujuan api unggun dan kegiatan tetap menggembirakan Pramuka. Di sini diperlukan kreatifitas.

Ketiga, intinya kegiatan api unggun boleh dilaksanakan asalkan sesuai waktu dan tempat. Hal yang dikhawatirkan adalah sebagian kecil masyarakat umum yang ikut membuat api unggun tapi tidak mengerti makna api unggun itu sendiri, akibatnya beberapa kebakaran hutan di gunung  diakibatkan oleh api unggun yang dinyalakan dan tidak terkontrol. Seperti istilah Jambore yang sekarang sembarang dipakai sebagian kecil masyarakat umum tanpa mengerti arti dan maknanya.

Demikian penjelasan singkat dari saya. Nomor HP saya selalu terbuka dihubungi untuk mendiskusikan berbagai hal demi kemajuan Gerakan Pramuka. Terima kasih Kakak-Kakak. Salam Pramuka.

Kalibata, Jakarta Selatan, 10 Desember 2017. Salam Hormat, Adhyaksa Dault

(dwisanti/ttcom)

Berita Lainnya
10 Pemerhati Anak Terima Penghargaan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Nasional Perlindungan Anak pada Minggu memberikan penghargaan kepad...
BMKG: Hujan Ekstrim Berpotensi Terjadi hingga Desember BOGOR, TAJUKTIMUR.COM - Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Bogor...
Ma’ruf Amin: Program Jokowi dirasakan Masyarakat LEBAK, TAJUKTIMUR.COM - Calon Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengatakan program yang dijalankan Presi...
Soal Perda Keagamaan, Maarif Institute Sayangkan Kriminalisasi Grace Natalie JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhd Abdullah Darraz menyayangkan krim...
KPPPA: Mengatasi Narkoba Pekerjaan Bersama JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindung...
Kanal: Nasional