Loading...

Aliansi Buruh Indonesia Tolak Long March Said Iqbal dan KSPI

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Puluhan massa dari Aliansi Buruh Indonesia melakukan aksi demo di perempatan jalan raya arah Bundaran HI dan KPU, Jl. Jenderal Sudirman, Kebon Melati, Jakarta Pusat menolak aksi Long March yang dilakukan oleh massa KSPI. Menurut Doni, koordinator Aliansi Buruh Indonesia, pihaknya sangat menolak upaya politisasi buruh. Sebab tidak semestinya buruh yang berjuang murni untuk kepentingan pekerja, lantas keluar rel dengan melakukan dukungan terhadap salah satu calon presiden (capres). Aksi yang berlangsung sekitar pukul 14.30 wib itu sempat mendapat pengawalan dari aparat kepolisian, namun kemudian dibubarkan oleh aparat demi mencegah terjadinya bentrokan antara pendukung Prabowo yang saat itu tengah mengantarkan dukungannya ke kantor KPU di jl. Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat.
Dalam aksi tersebut massa Aliansi Buruh Indonesia sempat membentangkan spanduk besar bertuliskan : “Terima Kasih Jokowi Presiden-Ku”. Ungkapan dalam spanduk itu menurut Doni merupakan bentuk penilaian buruh terhadap kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama ini, yang masih memikirkan nasib para pekerja (buruh).
“Tidak semua kebijakan Jokowi tidak baik untuk buruh, bahkan di era Jokowi ini terjadi perbaikan infrastruktur,” ungkap Doni disela-sela aksi.

Dihadapan ratusan massa, Doni juga meneriakan orasinya dan mengajak para buruh untuk menolak politik praktis. “Apa yang dilakukan KSPI jelas bukan cerminan seluruh buruh Indonesia, dan bahkan tidak semua KSPI mendukung hal ini (ikut terlibat dalam politik praktis),” tutup Doni di Bundaran HI, Jakarta Jumat siang (10/8/2018).
pesan untuk tetap menolak politisasi buruh, apalagi mendukung salah satu capres-cawapres. Doni sangat menyayangkan Said Iqbal, Ketua KSPI, dan meminta kepada para pimpinan buruh agar tidak membawa gerakan buruh dalam poros pilpres 2019. “Kita melihat dalam pilpres 2019, kita menyayangkan para pimpinan-pimpinan buruh, organisasi-organisasi buruh, yang menjual gerakan buruh hanya untuk demi kepentingan pribadi jabatan dan kedudukan” tegas Doni

Sementara itu, pendapat serupa agar pekerja atau buruh tidak terlibat politik praktis juga diuatarakan oleh
Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Unifah Rosyidi yang pada Selasa lalu (7/8/2018) telah menyatakan bahwa PGRI sebagai induk organisasi tenaga kerja pendidik (guru) terhitung sejak tanggal 4 Mei 2018, tidak lagi berafiliasi dengan organisasi buruh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Dengan demikian menurut Unifah, semua atribut PGRI baik berupa lambang, panji, pakaian, seragam, bendera, hymne dan mars dilarang digunakan dalam semua aktivitas KSPI. Keputusan keluarnya PGRI dari KSPI tersebut dikatakan oleh Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi sebagai bagian dari upaya PGRI untuk kembali ke marwah organisasi. “Sesuai dengan Anggaran Dasar PGRI Bab IV Pasal 4 (1) PGRI bersifat independen dan non partisan. Tidak menjadi bagian dan tidak berafiliasi kepada partai politik,dan tidak berpolitik praktis,” papar Unifah, Selasa (7/8/2018) di Jakarta.
Dengan keluarnya PGRI dari keanggotaan KSPI, lanjut Unifah maka PGRI menyatakan tidak bertanggungjawab dan tidak terlibat dalam perencanaan dan tidak akan terlibat dalam aksi yang akan digelar KSPI pada 9 Agustus 2018.
“Saya berharap untuk KSPI bahwa kita bertemu baik-baik dan sekarang kita, antara PGRI dengan KSPI bercerai dengan baik pula,” tambah Unifah.
Ia sendiri sudah meminta pengurus KSPI agar menghormati keputusan PGRI dan mengedepankan sikap saling menghormati dan menghargai.
Seperti diketahui KSPI sejak jauh-jauh hari telah mengumumkan rencana aksi longmarchnya (unjukrasa) pada10 Agustus 2018 dengan agenda mengawal pendaftaran salah satu pasangan Capres/Cawapres ke kantor KPU. Aksi bermuatan politik tersebut dalam surat edaran KSPI diperkirakan akan diikuti 20.000 orang pekerja yang datang dari berbagai daerah.
Meskipun sempat terjadi ketegangan dengan aparat kepolisian, namun aksi buruh yang damai ini kemudian disudahi dengan tertib.

Berita Lainnya
Gunung Anak Krakatau alami 49 kegempaan Letusan BANDARLAMPUNG, TAJUKTIMUR.COM - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung sepanjang Kamis (18/10) hingga Jumat dini hari mengalami ...
Heli MI-8 Lakukan ‘Water-Bombing’ Wilayah Terdampak Likuifaksi Sulteng PALU, TAJUKTIMUR.COM – Helikopter MI-8 mulai melakukan kegiatan water-bombing atau pengemboman material disinfektan di wilayah terdampak likuifaksi, seperti Petobo, Balar...
Iklan Rekening Dianggap Curi Start Kampanye, Ini Komentar Erick Thohir JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin menanggapi soal adanya dugaan pelanggaran kampanye dalam pemasangan iklan berisi nomor reken...
Istri Meninggal Dunia Saat Suami Tunaikan Tugas SAR di Palu PALU, TAJUKTIMUR.COM — Alfrits Rottie, anggota Basarnas Gorontalo sedang sibuk melakukan misi kemanusiaan terhadap korban gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah, tiba-...
Ketika Suara Kaum Ibu Menjadi Kekuatan Politik JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Tingginya tingkat populasi (jumlah) kaum perempuan di Indonesia ternyata menjadi target tersendiri dalam dunia politik terutama saat pilpres. Ta...
Kanal: Nasional