Loading...

Atisipasi Hoax Jelang Pilpres, Desa Perlu Internet

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Perkembangan teknologi yang belum diikuti dengan pembangunan  merata diseluruh Indonesia membuka potensi terjadinya ketimpangan kehidupan antara masyarakat yang tinggal didesa-desa dengan perkotaan. Belum semua kawasan pedesaan terjamah oleh jaringan internet. Padahal adanya jaringan internet ini tetunya akan sangat mendatangkan manfaat, terutama bagi masyarakat yang tinggal didesa agar lebih cepat mendapatkan berbagai informasi dan membuka peluang pengembangan ekonomi. Terbatasnya akses media sosial pun juga akan berdampak negatif terhadap penyebaran hoax yang biasanya banyak bermunculan menjelang Pemilihan Presiden (pilpres).

Seperti yang disampaikan oleh Sergio Grassi, Presiden Direktur Friedrich Ebert Stiftung (FES) Indonesia di Jakarta yang menilai bahwa masyarakat dipedesaan juga memerlukan berbagai informasi yang bisa diperoleh melalui jaringan internet. Dengan terbukanya akses internet tentunya masyarakat desa juga bisa bersikap dewasa dalam menghadapi informasi-informasi yang menyesatkan (hoax). Selain itu dari aspek ekonomi, masyarakat desa diharapkan dapat mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis internet (e-commercial).

“Saya rasa masyarakat di negara Indonesia baik di desa atau diperkotaan kini bisa bersikap lebih dewasa dan bijaksana menghadapi perkembangan jaman. Jadi di dalam menghadapi hoax pun setiap orang saya yakin bisa lebih bijaksana dalam menerima berbagai informasi yang mereka dapatkan,” ujar Sergio di kantornya yang berada dikawasan Kemang, Jakarta Selatan (Kamis, 19/07/2018).

Lebih lanjut Sergio  berharap masyarakat bisa mendapat pengetahuan/kebenaran informasi yang sesungguhnya sehingga berita-berita hoax pun bisa teredam. Terlebih dengan ditetapkannya Undang-undang Desa oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) maka langkah itu perlu didukung mengingat ranah kerja yang digarap oleh Pemerintah Indonesia bersama NGO yang ia pimpin bergerak dibidang pengembangan desa.

“Jaringan internet yang merata hingga ke pelosok desa juga begitu kami harapkan untuk mempermudah kami maupun masyarakat desa mendapatkan informasi lebih cepat dan lebih luas”, ungkap Sergio.

Dengan menguatnya kerjasama dibidang sosial, maka kedepan diharapkan bentuk kerjasama yang ada semakin berkembang hingga ke bidang perekonomian, seperti halnya Jerman dengan Cina yang kini semakin kuat hubungan perekonomiannya.

“Dalam ekonomi yang berkeadilan, seperti yang diinginkan oleh Presiden Jokowi, saya berharap ada keseimbangan yang terjadi antara ekonomi dan demokrasi,” ujarnya saat menanggapi kemajuan pembangunan yang terjadi di Indonesia dengan tahun politik yang akan dihadapi (Pemilu 2019).

Menurut Sergio pembangunan ekonomi yang berkeadilan bisa dimulai dari pembangunan yang dilaksanakan di desa hingga negara secara luas. Ia juga memberikan apresiasi positif atas revolusi industri seperti yang diagendakan (roadmap) oleh Presiden Jokowi. Sebab menurutnya Indonesia tidak hanya diterima dalam kalangan global tapi juga dapat melakukan hal-hak penting dan potensial untuk menghadapi perkembangan global.
“Untuk menghadapi revolusi industri harus ada pengurangan jumlah tenaga kerja yang diiringi dengan teknologi, namun harus dipertimbangkan bagaimana untuk menempatkan kembali para tenaga kerja sebagai tenaga produksi,” saran Sergio.

Pergantian tenaga kerja manusia dengan robot tentunya akan mengurangi pemakaian tenaga kerja manusia. Negara-negara seperti Vietnam, Cina dan Indonesia harus mempertimbangkan bagaimana melatih para pekerja yang tidak memiliki keahlian (yang lebih baik) untuk dipersiapkan menjadi individu yang siap melakukan jenis pekerjaan yang baik dan revolusi yang baik pula.

“Kalau kita tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi revolusi industri, kita akan kehilangan tenaga kerja dan kesempatan”, ujar Sergio.

Sergio menambahkan bahwa Indonesia selalu dipertimbangkan sebagai salahsatu negara demokrasi di Asia Tenggara.
Hal ini juga yang menjadi alasan kuat mengapa FES menjadikan Indonesia sebagai partner penting bagi Jerman.
Dengan membawa pikiran-pikiran besar dalam menghadapi tantangan global, Indonesia sebagai ‘middle power‘ (kekuatan menengah) di Asia, seperti halnya Jerman di Eropa.
Indonesia merupakan negara terpenting dari enam negara lainnya di Asia Tenggara yang menjadi prioritas dalam menjalin hubungan kerjasama dengan Jerman.

“Negara Indonesia sama baiknya seperti Jerman,terutama dalam pelaksanaan Pemilu”, tutup Sergio optimis.

Berita Lainnya
Pakar: Jokowi-Prabowo Pilih ‘Main Aman’ di Debat Capres SURABAYA, TAJUKTIMUR.COM - Pakar komunikasi politik asal Universitas Airlangga Suko Widodo menilai k...
Kementerian LHK Digabung, Ini Penjelasan JK JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan penggabungan Kementerian Lingkungan...
KPU: Debat Kedua Pilpres Lebih Lancar JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, mengatakan pelaksanaan d...
Indef: Visi Jokowi Terkait B100 Sulit Dicapai JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly ...
Soal Ledakan, Wiranto: Ada pihak yang iseng dan usil sengaja membuat kericuhan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wi...
Kanal: Nasional