Loading...

Dianggap Melecehkan Ormas Islam, Kapolri Tito Meminta Maaf

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI) Indonesia, Hamdan Zoelva mengatakan bahwa Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian telah menyampaikan permintaan maaf atas video pidatonya, yang menjadi polemik.

“Beliau mengatakan kalau memang ada yang kurang, ada yang salah, ‘saya mohon maaf’. Beliau sampaikan begitu,” kata Hamdan di rumah dinas Kapolri, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu.

Hamdan bersama delapan petinggi DPP Syarikat Islam menemui Kapolri untuk meminta penjelasan mengenai video pidato Kapolri yang menjadi polemik. Hal itu dilakukannya untuk memahami maksud sebenarnya dari isi pidato itu.

“Tabayun, untuk mendapat klarifikasi terkait pernyataan Kapolri yang menjadi viral. Karena ini menjadi pembicaraan umat di kalangan ‘grass root’,” katanya.

Dari pertemuannya dengan Kapolri, diketahui bahwa ada pemenggalan durasi video yang tersebar di internet sehingga terjadi kesalahpahaman dalam memaknai video pidato Kapolri. Hamdan menambahkan, setelah mendapat penjelasan dari Kapolri, pihaknya bisa memahami bahwa tidak ada niat Kapolri untuk mengesampingkan ormas-ormas Islam di Indonesia.

Menurut dia, video berisi pidato Kapolri itu merupakan pidato lawas yang disampaikan di Pondok Pesantren Annawawi, Serang, Banten dalam acara Nahdlatul Ulama pada 8 Februari 2017. Diketahui, Ponpes tersebut milik Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma’aruf Amin.

Sebelumnya, Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnain membuat surat terbuka yang diunggah di akun Facebook-nya untuk menanggapi pidato Kapolri tersebut.

Dalam surat terbuka itu, Zulkarnain mengatakan memprotes keras perkataan Tito yang tidak menganggap perjuangan umat Islam di luar ormas Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

“Saya sangat kecewa dan berkeberatan atas pidato Kapolri yang saya nilai provokatif, tidak mendidik, buta sejarah, tidak berkeadilan dan rawan memicu konflik,” kata Zulkarnain.

Pihaknya meminta Kapolri Tito untuk segera meminta maaf kepada umat Islam dan menarik isi pidato tersebut. “Saya dan umat menunggu pernyataan maaf dari Kapolri,” kata dia.

Adapun potongan pidato Kapolri yang menjadi kontroversi adalah sebagai berikut: Perintah saya melalui video konferens minggu lalu saat Rapim Polri, semua pimpinan Polri hadir, saya sampaikan tegas, menghadapi situasi saat ini, perkuat NU dan Muhammadiyah. Dukung mereka maksimal.

Semua Kapolda saya wajibkan untuk membangun hubungan dengan NU dan Muhammadiyah tingkat provinsi. Para Kapolres wajib membuat kegiatan-kegiatan untuk memperkuat para pengurus cabang di tingkat kabupaten/kota.

Para Kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah. Jangan dengan yang lain. Dengan yang lain itu nomor sekian. Mereka itu bukan pendiri negara. Mau merontokkan negara malah iya, ya. Tapi yang sudah konsisten dari awal sampai hari ini, itu adalah NU dan Muhammadiyah.

Termasuk kami berharap hubungan antara NU dan Muhammadiyah juga bisa saling kompak. Satu sama lainnya. Boleh beda pendapat, tapi kalau sudah bicara NKRI, mohon, kami mohon dengan hormat, kami betul-betul titip, kami juga sebagai umat muslim, harapan kami hanya kepada dua organisasi besar ini.

Ketua MUI Tidak Mempersoalkan

Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ma’ruf Amin, tak mempersoalkan pernyataan Kepala Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menyitir ormas Islam di luar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Menurutnya, pernyataan Tito bukan ingin membedakan beberapa pihak di luar dua ormas keagamaan itu tetapi hanya untuk meyakinkan umat Islam tentang bahaya radikalisme.

“Jadi yang dimaksud oleh Kapolri, setelah saya ingat-ingat, ternyata konteksnya itu dalam rangka menghadapi radikalisme, isu-isu khilafah,” kata Ma’ruf Amin, Rabu, (31/1).

Ma’ruf mengaku telah ditemui Tito Karnavian untuk mengklarifikasi pernyataannya. Ucapan Tito yang kemudian diprotes sebagian kalangan itu ternyata disampaikan di sebuah forum di kompleks sebuah pesantren NU di Banten, 8 Februari 2016. Saat itu Tito masih menjabat Kepala Polda Metro Jaya.

Ma’ruf, yang merupakan Rais Am NU, menganggap tak ada masalah dengan pernyataan Tito. Video yang menampilkan pidato Tito dengan pernyataan itu seolah ada masalah ketika diputar sekarang karena sudah berbeda konteks.

“Cuma ketika itu diputar sekarang, konteksnya jadi lain. Saya kira begitu,” katanya.

(as)

Berita Lainnya
Presiden Jokowi Lantik Andika Perkasa sebagai KSAD JAKARTA, TAKUKTIMUR.COM - Presiden Joko Widodo pada Kamis, 22 November 2018, melantik Letnan Jendera...
Menag Menyayangkan Maraknya Tebar Kebencian BOGOR, TAJUKTIMUR.COM - Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyayangkan maraknya fenomena ...
PKS Usul Hapus Pajak Sepeda Motor dan Berlakukan SIM Seumur Hidup TAJUKTIMUR.COM, JAKARTA  -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjanjikan jika menang pada pemilu 2019...
82 Korban Lion Air JT 610 Belum Teridentifikasi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Hingga kini masih tersisa 82 orang korban Lion Air JT 610 yang belum terid...
IKKT: Pendidik PAUD Merupakan Ujung Tombak Dalam Pembinaan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan ujung tombak dalam pem...
Kanal: Nasional