Loading...

Elektabilitas Jokowi Melambung 50 Persen?

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Presidium Persatuan Pergerakan, Andrianto mengakui kalau dirinya tidak percaya sama sekali terhadap beberapa survei yang menyebutkan bahwa elektabilitas Presiden Jokowi melambung sampai di angka 50 persen.

“Kalau menurut survei seperti saat ini, terus terang saya kurang percaya apalagi yang melancarkan Populi (Center), Indobarometer, Poltracking. Yang saya tahu siapa remotnya dari mulai Pilkada sampai hari ini,” katanya dalam diskusi bertajuk ‘Wakil Presiden Pilihan Rakyat’ di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (1/3) lalu.

Menurutnya, mengamati hasil survei yang dilakukan di internalnya, didapati bahwa elektabilitas Jokowi sebenarnya hanyalah cuma sekitar diangka 30 persen saja.

“Saya punya laporan internal, kisaran elektabilitas Jokowi itu cuma 30-an, bahkan 40 persen aja nyaris tidak pernah,” ungkapnya.

Oleh karena itu, sambung Andrianto,?saat ini para Kolega dan loyalis Jokowi sedang sibuk memburu sosok Cawapres yang ideal untuk mendampingi calon petahana yang diusung oleh PDI-P itu.

“Terakhir PDIP melakukan deklarasi Jokowi, tidak ada efeknya tiba-tiba langsung melonjak,” imbuhnya.

Dia menambahkan, demi memuluskan jalan Jokowi untuk merebut kemenangan pada Pilpres nanti, minimal harus mengantongi survei sekitar 60 persen.

Hal tersebut sangat berafiliasi seperti momentum pada pilpres RI yang ke VI dimana Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang maju Pilpres untuk kedua kalinya.

“Angka elektabilitas Jokowi hari ini sangat riskan. Karena dia butuh sosok wapres yang bagus. Karena jangan sampai Cawapres itu tak menambah suara,” imbuhnya.

Andrianto menilai, hal tersebut terjadi karena sebenarnya belakangan ini Jokowi sudah tidak lagi fokus terhadap unsur nasionalisme dan nawacita yang menjadi fokus programnya.

Lebih dari itu, Menurutnya, sosok yang paling ideal untuk mendampingi Jokowi ialah dari kalangan ekonom seperti sosok Rizal Ramli. Sebab sosoknya selain ekonom dia juga aktivis senior.

“Pemerintahan Jokowi kita lihat sudah keluar dari ideologi nasionalisme Bung Karno, dan nawacita. Sosok Rizal Ramli justru dialah yang lebih memiliki ideologi Bung Karno dan nawacita. Sayangnya dia ga punya partai,” ujarnya.

(fr)

Berita Lainnya
SPKKL Kupang Uji Coba Aplikasi Pelaporan Kejadian Laut Berbasis Android KUPANG, TAJUKTIMUR.COM - SPKKL Kupang mengajak peran serta masyarakat pesisir dalam menjaga keamanan...
BMKG: Waspada Potensi Banjir dan Longsor Meningkat JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau masuknya mus...
Kemenag Uji Coba Sistem Daftar Nikah Online JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Agama telah meluncurkan Sistem Informasi Pernikahan Berbasis W...
KPI minta PRSSNI Dorong Anggotanya Hindari Pelanggaran Siaran JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta Persatuan Radio Swasta Siaran Nas...
Pengamat: Publik Harus Pertanyakan Program Capres-Cawapres JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Feri Amsari mengatakan...
Kanal: Nasional