Loading...

Fahira Idris ungkap Tiga Persoalan Utama Guru

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Anggota DPD RI atau Senator Fahira Idris mengungkapkan, ketiga persoalan utama yang masih membayangi kemajuan guru di Indonesia adalah masih rendahnya kesejahteraan guru, kesenjangan kualitas dan kompetensi guru, serta persebaran dan kesenjangan rasio guru dan murid yang masih belum ideal.

“Ketiga persoalan ini ibarat segitiga yang saling terkait atau berhubungan. Oleh karena itu, formulasi solusi atas ketiganya juga harus bergerak bersama atau linear. Bagi saya, segitiga persoalan guru ini menjadi tantangan yang harus ‘dipecahkan’ para capres/cawapres dalam visi misi dan program mereka di bidang pendidikan,” ujar Fahira Idris dalam keterangannya di Jakarta, Senin (26/11/2018).

Soal kesejahteraan guru terutama guru honorer, jelas Fahira, menjadi persoalan klasik yang tidak kunjung mendapatkan solusi komprehensif karena alasan yang juga klasik yaitu kemampuan keuangan negara.

Para capres, sambung Fahira, harus punya formulasi memecahkan persoalan ini. Misalnya, keberanian untuk merealisasikan 20 persen APBN murni hanya untuk pendidikan dan kesejahteraan guru. Karena selama ini anggaran pendidikan juga tersebar untuk 17 kementerian dan lembaga.

Kesenjangan kualitas dan kompetensi guru yang belum merata juga harus segera diretas. Ada daerah, yang kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan kompetensi sosial gurunya secara umum sangat baik.

Namun, di daerah lain terutama di daerah terpencil dan terluar sangat belum memadai. Jika kesenjangan ini terus ‘menganga’ akan menjadi bencana dunia pendidikan.

“Padahal guru-guru di daerah terpencil dan terluar inilah yang harus mendapat prioritas berbagai pelatihan peningkatan kompetensi dan kesempatan melanjutkan pendidikan dari Pemerintah, karena tantangan mereka lebih berat,” ujar Senator DKI Jakarta ini.

Persoalan lain yang juga cukup serius adalah persebaran dan kesenjangan rasio guru dan murid. Menurut Fahira, terdapat dua persoalan mendasar terkait hal ini yaitu pertama, perekrutan guru yang tidak sesuai dengan jumlah pendaftaran murid di segala tingkat pendidikan.

Kedua, distribusi guru yang belum merata. Terjadi surplus jumlah guru di kota-kota besar, sementara, di daerah tertentu terutama di desa-desa, daerah terpencil dan terluar justru mengalami defisit guru yang cukup serius. Akibatnya, rasio antara jumlah guru dan murid di Indonesia tidak pernah ideal.

Capres, lanjut Fahira, harus memiliki terobosan terkait ini. Salah satunya, berani menerbitkan kebijikan penarikan kewenangan pengelolaan guru dan tenaga pendidikan ke Pemerintah Pusat, sementara daerah hanya administratif saja sehingga tidak ada lagi daerah yang kekurangan dan kelebihan guru.

Berita Lainnya
KPU Tetapkan DPT Hasil Perbaikan untuk Pemilu 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar rapat pleno terbuka Daftar Pemilih T...
Polisi Tangkap Perusak Atribut Partai Demokrat di Pekanbaru PEKANBARU, TAJUKTIMUR.COM - Polisi telah menangkap seorang terduga perusak atribut Partai Demokrat d...
Kapendam Cendrawasih: Situasi Nduga Berangsur Normal JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, mene...
SBY Sayangkan Perusakan Atribut Demokrat di Pekanbaru RIAU, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyayangkan perusa...
Bawaslu Catat 192.129 Laporan dan Pelanggaran Kampanye JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) telah menemukan dan menerima setidaknya 19...
Kanal: Nasional