Loading...

Fahri Hamzah: Pemerintah Jangan Ikut Bikin Tegang #2019GantiPresiden

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengimbau agar pemerintah memfasilitasi para pendukung gerakan #2019GantiPresiden beserta kelompok yang menentangnya. Perbedaan pandangan jelang Pemilihan Presiden 2019 perlu disikapi pemerintah dengan bijak. Negara harus tenang dan jangan terpancing.

“Bagus difasilitasi. Biarkan orang belajar mengorganisir diri secara damai. Pokoknya, apapun perbedaan pendapat itu harus dikasih tempat,” kata Fahri kepada wartawan usai Sidang Paripurna di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (29/8).

Fahri mengatakan, pemberian tempat kepada seluruh kelompok masyarakat menceminkan sifat demokrasi di Indonesia. Setiap perbedaan pendapat dalam perpolitikan harus dihormati dan tidak boleh ada pelarangan sedikitpun. Fahri mengatakan, itu semua adalah mekanisme politik biasa dan tak perlu ada kekhawatiran berlebih.

Di sisi lain, kandidat pasangan calon presiden dan calon wakil presiden hanya dua pasang. Alhasil, perdebatan pun akan berkutat seputar dua pasangan tersebut. Berbagai dinamika yang terjadi di Indonesia juga dialami oleh negara-negara di dunia yang sudah menerapkan sistem demokrasi.

“Jangan pemerintah ikut bikin tegang. Negara harus tenang, pakai nahan, macem-macem, tidak usah. Santai saja,” katanya.

Sementara, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan menilai, hal itu merupakan hal biasa sebagai ruang dari proses demokrasi. Perdebatan untuk ‘ganti’ atau ‘tetap’, dia mengatakan, merupakan isu yang tak bisa terhindarkan dalam siklus lima tahunan pergantian pemimpin. Dia menilai, justru menjadi aneh jika tak ada ajakan atau seruan mengganti presiden.

“Agak aneh juga kalau tidak ada isu itu (ganti presiden). Jadi lihatlah susbtansinya dan memang sudah ruangnya. Maksud gerakan itu kan bila tiba 2019 maka ganti presiden,” ujarnya.

Hinca mengatakan, tidak mungkin kubu pejawat Joko Widodo-Ma’ruf Amin yang menyerukan ganti pemimpin dan kubu penantang, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyerukan tetap Jokowi. Oleh karena itu, dinamika yang terjadi di masyarakat saat ini merupakan suatu masa yang wajar. Ia mengatakan, tinggal bagaimana selanjutnya kedua pasangan calon dan pengusungnya menyiapkan gagasan ide untuk kemajuan bangsa.

Tren penggunaan hastag atau tanda tagar di media jejaring sosial, lanjut dia, mulai populer sejak tiga tahun terakhir. Bertepatan dengan kemajuan teknologi, era demokrasi pun semakin terbuka dan fasilitas hashtag ikut dimanfaatkan dalam menyuarakan aspirasi. “Jadi tagar itu hanya salah satu bagian saja. Buat saya asyik-asyik saja,” ujar dia.

Berita Lainnya
Pakar Hukum: Pembebasan Baasyir Bisa Kacaukan Sistem Hukum JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar menilai pembe...
Menkominfo Dorong Anak Muda Buat Konten Kreatif di Medsos JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengajak anak-anak muda, ter...
Presiden Jadi Peserta Acara Cukur Massal di Garut GARUT, TAJUKTIMUR.COM - Presiden Joko Widodo mendatangi lokasi wisata Situ Bagendit yang terletak di...
KPU tak lagi Bocorkan Kisi-Kisi Debat Pilpres JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI tidak lagi memberikan kisi-kisi pertanyaan ...
Ustaz Abu Bakar Ba’asyir Bebas, TKN: Bukti Jokowi Cinta Ulama JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syad...
Kanal: Nasional