Loading...

Hadiri ASCC Meeting, Menko PMK Tekankan Pentingnya Pembinaan Kaum Muda Untuk Keberagaman

SINGAPURA (TAJUKTIMUR.COM) – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani menghadiri ASCC (ASEAN Socio-Cultural Community) Meeting di Singapura, yang diselenggarakan pada tanggal 21 Maret 2018. ASCC Meeting merupakan konferensi tingkat menteri ASEAN. Pertemuan ini dihadiri oleh menteri-menteri dari 10 negara ASEAN.

Dalam forum ini, Menko PMK Puan Maharani menyampaikan pandangan Indonesia dalam The ASCC Ministerial Retreat on Advancing the ASEAN Declaration on Culture of Prevention for a Peaceful, Inclusive, Resilient, Healthy and Harmonious Society di Singapura. Menko PMK juga menyampaikan beberapa contoh baik (good practices) dari Indonesia terkait upaya menanamkan toleransi dalam keberagaman untuk kaum muda.

“Di Indonesia, sejak dini para pemuda telah mempelajari prinsip-prinsip kebersamaan, toleransi, dan keberagaman yang tertera dalam landasan filosofis negara Indonesia, PANCASILA, atau Lima Sila. Mereka telah dibiasakan untuk hidup berdampingan dengan perbedaan serta menghormati perbedaan. Kebiasaan ini telah menciptakan pemahaman bagi para pemuda bahwa keberagaman itu adalah sesuatu yang alami, namun toleransi adalah sesuatu yang perlu terus diupayakan,” ujar Menko Puan.

Salah satunya dilakukan melalui kegiatan ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) yang merupakan kegiatan pertama di bawah lingkup Deklarasi ASEAN tentang Culture of Prevention. Perkemahan Remaja Antaragama ASEAN di Jombang, Jawa Timur ini dihadiri lebih dari 100 pemuda dari 10 negara ASEAN dan negara mitra lainnya. Hasil dari perkemahan pemuda ini adalah Deklarasi Jombang : Toleransi Keanekaragaman untuk ASEAN dan Harmoni Dunia serta rencana aksinya.

Lebih lanjut, Menko PMK menyampaikan bahwa lebih dari 160 juta populasi ASEAN adalah kaum muda berusia 15-35 tahun. Oleh karena itu, sangat penting bagi ASEAN untuk melanjutkan prakarsa dari Deklarasi Culture of Prevention ini sebagai investasi pada kaum muda agar berpartisipasi dalam upaya menciptakan masyarakat yang damai dan harmonis.

Hal ini sejalan dengan tujuan Retret yang membahas pentingnya mengubah pola pikir reaktif menjadi preventif untuk mempromosikan budaya damai, seperti pendidikan berbasis nilai-nilai toleransi dan keterlibatan kaum muda akan memainkan peran penting mencegah bahaya dari kekerasan ekstremisme atau bentuk kekerasan lainnya.

(dw)

Berita Lainnya
Habibie: Sasaran Reformasi adalah Peradaban Indonesia JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM -- Mantan Presiden BJ Habibie mengatakan reformasi di Indonesia sudah berjalan sesuai rencana. Namun pencapaiannya masih jauh ...
KPK Periksa Idrus Marham Terkait Kasus Bakamla JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM -- Komisi Pemberantasna Korupsi (KPK) memeriksa politisi Partai Golkar Idrus Marham sebagai saksi dalam penyidikan kasus suap ...
KA Minangkabau Ekspres Diresmikan Presiden PADANG, TAJUJTIMUR.COM — Setelah menjalani masa uji coba melayani penumpang sejak 1 Mei 2018 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi), didampingi Ibu Negar...
Survei Indikator: Ganjar-Taj Yasin 72,4 persen, Sudirman Said 21 persen JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM — Pasangan calon Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo-Taj Yasin mengungguli pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah dalam survei e...
Kritik Menag, Said Aqil: Yang Dirilis Harusnya yang Dicekal JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj mengatakan Kementerian Agama seharusnya merilis daftar nama...
Kanal: Nasional