Loading...

Indonesia Perlu Langkah Strategis Antisipasi Ancaman nuklir

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Jazi Istiyanto, mengatakan, Indonesia memerlukan langkah strategis untuk mengantisipasi ancaman dari radiasi nuklir meskipun saat ini Indonesia belum mempunyai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) komersil.

“Tidak punya PLTN bukan berarti aman. Indonesia bisa saja terkena dampak dari negara lain, contohnya jika PLTN di Bangladesh atau Vietnam bocor,” ujar dia, dalam konferensi pers Konferensi Informasi Pengawasan, di Jakarta, Rabu (25/10) kemarin.

Untuk itu perlu langkah strategis yang melibatkan banyak pihak untuk menyusun standar operasi ketika terjadi ancaman nuklir.

Dia memberi contoh beberapa lalu ada bom di Bandung, yang dibuat dari kaus lampu petromaks. Walaupun kandungan thorium di kaus lampu itu kecil sekali, lanjut dia, itu menunjukkan teroris pun sudah mengerti akan nuklir.

“Untuk itu kita perlu membangun kepedulian semua pihak.”

Dia mengatakan perlu ada kesiapsiagaan akan ancaman nuklir. “Indonesia memiliki 172 titik masuk dalam bentuk bandar udara dan pelabuhan. Dari jumlah itu baru enam pelabuhan yang memiliki radiasi portal monitor atau RPM,” kata Istiyanto.

Jumlah RPM yang sangat minim itu tentu menjadi potensi bagi masuknya radiasi nuklir baik disengaja atau tidak disengaja yang berasal dari negara lain. Ke-6 RPM berada di Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Batu Ampar Batam, Pelabuhan Bitung, Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Penggunaan peralatan sumber radiasi nuklir sudah banyak ditemukan di Indonesia. hingga 2017, setidaknya ada 60.833 ijin yang dikeluarkan pemerintah terkait penggunaan alat yang mengandung radiasi nuklir, baik dalam bentuk radioaktif, sinar X, dan lain-lain.

Dari jumlah itu, 40.000 lebih digunakan kalangan industri, sekitar 20.000 lebih untuk medis dan sisanya untuk penelitian.

Staf Ahli bidang Kedaulatan Wilayah dan Kemaritiman Kemenkopolhukam, Laksamana Muda TNI I Nyoman Nesa, mengatakan, penggunaan nuklir dalam kehidupan manusia telah memberikan manfaat besar baik dalam bidang industri maupun medis. Tetapi sisi negatif penggunaan nuklir tentu juga ada seperti munculnya senjata pemusnah massal dan teror.

“Selama ini masyarakat hanya tahu sisi negatifnya saja. Padahal sisi positifnya banyak sekali,” kata Nesa.

Untuk menghadapi dampak dari radiasi nuklir, memang harus dilakukan secara bersama-sama antar instansi terkait.

(ant/and)

Berita Lainnya
Jumat ini KPK Jadwalkan Ulang pemeriksaan Rommy JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap Romah...
Gempa Bumi Berkekuatan 4,7 Magnitudo Guncang Pangandaran JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Gempa Bumi berkekuatan magnitudo 4,7 terjadi di Pangandaran, Jawa Barat. P...
Penyebar Konten Terorisme Diancam UU-ITE, PKS: Bersikap Bijaklah JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Menanggapi kejadian terorisme yang membunuh puluhan umat Islam yang sedang...
F-PKS Minta Kemenlu dan KBRI Lindungi WNI di Selandia Baru JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini mengutuk penembakan brutal kepada pulu...
Gempa 6,2 Magnitudo Guncang Talaud PALU, TAJUKTIMUR.COM - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa telah t...
Kanal: Nasional