Loading...

Ini Kata Forum Pekerja Media Soal Pemecatan Jurnalis Topskor

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Forum Pekerja Media menyesalkan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak yang dilakukan PT Topskor Indonesia terhadap jurnalis Zulfikar Akbar. Forum Pekerja Media juga mengecam praktik intimidasi atas kebebasan berekspresi.

“Tulisan Zulfikar Akbar di media sosial Twitter semestinya tidak dibalas dengan ancaman terhadap perusahaan Topskor yang berujung PHK sepihak kepada Zulfikar Akbar,” kata Ketua Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSPMI) Sasmito Madrim, Rabu (27/12).

Dia mendesak pihak manajemen Topskor menyelesaikan hubungan kerja secara baik-baik dan tidak melanggar hukum, serta mengakomodir Zulfikar Akbar untuk melakukan pembelaan diri terhadap vonis bersalah yang dijatuhkan oleh sidang redaksi.

PHK yang disampaikan melalui akun twitter tersebut dinilai dilakukan secara sewenang-wenang dan tidak sesuai dengan UU Ketenagakerjaan Nomor 13/2003. Antara lain, Pasal 151mengatur putusan PHK harus melalui perundingan antara perusahaan dan karyawan, yang jika tidak menghasilkan persetujuan, harus melalui Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Lalu Pasal 152, permohonan penetapan PHK ke PHI permohonan tertulis dan harus sudah melalui proses perundingan.

“Kami juga menuntut Kementerian Tenaga Kerja turun ke lapangan melindungi para pekerja media yang dilanggar hak-hak pekerjanya karena aktivitas mereka di media sosial,” katanya.

Sementara, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Abdul Manan menilai bahwa ini bentuk persekusi model baru.

Menurutnya, Zulfikar menjadi korban persekusi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok intoleran, yang hendak memaksakan kepentingannya, di media sosial (medsos).

“Perlu ada penelusuran, untuk menentukan siapa sebenarnya dalang di balik terjadinya persekusi itu,” katanya.

Manan khawatir kejadian yang menimpa jurnalis seperti Zulfikar akan semakin banyak terjadi beberapa tahun mendatang. Apalagi, ada akan ada peningkatan suhu politik saat Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019.

“Menurut saya ini warning (peringatan) buat kita, organisasi seperti AJI, dan wartawan untuk lebih waspada terhadap bahaya dari kelompok intoleran. Ini mungkin akan jadi salah satu yang banyak mewarnai di tahun-tahun mendatang,” jelas Manan.

Guna mencegah terulangnya peristiwa yang dialami Zulfikar itu, ungkapnya, AJI Indonesia meminta perusahaan media mulai membuat panduan bermedsos untuk wartawannya. Manan mencatat langkah seperti itu sudah dilakukan oleh banyak perusahaan media di luar negeri.

(dwisan/ttcom)

Berita Lainnya
Kemenag Uji Coba Sistem Daftar Nikah Online JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Agama telah meluncurkan Sistem Informasi Pernikahan Berbasis W...
KPI minta PRSSNI Dorong Anggotanya Hindari Pelanggaran Siaran JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta Persatuan Radio Swasta Siaran Nas...
Pengamat: Publik Harus Pertanyakan Program Capres-Cawapres JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Feri Amsari mengatakan...
Satgas Pangan Pantau Stok Menjelang Natal dan Tahun Baru 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Satgas Pangan akan melakukan pemantauan untuk memastikan stok kebutuhan po...
Sandiaga Doakan Calon Penggantinya di DKI BEKASI, TAJUKTIMUR.COM - Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01, Sandiaga Uno menghadiri acar...
Kanal: Nasional