Loading...

Jauh Di Bawah Timor Leste, Transparansi: Korupsi di Indonesia Sangat Parah

BERLIN (TAJUKTMUR.COM) – Korupsi terus menjadi masalah global dan banyak negara yang bergerak telalu lamban dalam memerangi korupsi. Sebanyak dua pertiga negara di dunia dikatagorikan sebagai negara korup, dengan Rusia dan China masuk ke dalam daftar itu. Posisi Indonesia di peringkat 96, jauh di bawah Timor Leste.

Dalam laporan tahunan Transparansi Internasional Selandia Baru berada di puncak negara paling tidak korup, sementara di ujung yang berlawanan ditempati Somalia.

Transparansi Internasional menyusun peringkat korupsi di 180 negara di dunia dengan basis penilaian terkait layanan publik di sebeuah negara.

Setelah Selandia Baru yang menjadi pemuncak tahun lalu, peringkat kedua ditempati Denmark, disusul Finlandia, Norwegia, dan Swiss.

Sedangkan yang didaulat sebagai negara paling korup adalah Somalia, lalu disusul Sudan Selatan, Suriah, Afghanistan, dan Yaman.

Sedangkan dari Asia, Singapura yang menempati peringkat dunia nomor 6 sebagai negara paling tidak korup di seluruh Asia. Peringkat kedua Asia ditempati Jepang yang berada di posisi ke-20 peringkat global, lalu disusul Uni Emirat Arab, Bhutan, Qatar, dan Taiwan.

Peringkat Indonesia dalam daftar terbaru Transparansi Internasional ini, berada di urutan ke-96 bersama Brasil, Kolombia, Panama, Peru, Thailand, dan Zambia.

Di Asia Tenggara Indonesia berada di bawah Singapura (6), Brunei Darussalam (32), Malaysia (62), dan bahkan Timor Leste (91). Di bawah Indonesia terdapat Filipina (111), Myanmar (130), Laos (135), dan Kamboja (161).

Transparansi juga mengungkapkan, Indeks Persepsi Korupsi 2017 bahkan berimbas terhadap sejumlah masalah yang amat mengganggu.

“Meski banyak negara melakukan upaya memerangi korupsi, sebagian besar negara terlalu lamban untuk bertindak,” ujar lembaga yang berbasis di Jerman itu.

“Memberantas korupsi memang membutuhkan waktu, namun dalam enam tahun terakhir banyak negara yang tak membuat kemajuan,” ucap Transparansi.

Transparansi melanjutkan, menurut Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), disebut bahwa para jurnalis hidup dalam bahaya yang lebih besar di negara-negara korup.

Selama 6 tahun terakhir setidaknya 9 dari 10 jurnalis tewas di negara-negara yang memiliki nilai di bawah 45 dalam daftar.

Dari seluruh jurnalis yang tewas itu, 1 dari 5 orang meninggal dunia karena meliput kasus-kasus korupsi.

(as)

Berita Lainnya
KPU Tetapkan DPT Hasil Perbaikan untuk Pemilu 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar rapat pleno terbuka Daftar Pemilih T...
Polisi Tangkap Perusak Atribut Partai Demokrat di Pekanbaru PEKANBARU, TAJUKTIMUR.COM - Polisi telah menangkap seorang terduga perusak atribut Partai Demokrat d...
Kapendam Cendrawasih: Situasi Nduga Berangsur Normal JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, mene...
SBY Sayangkan Perusakan Atribut Demokrat di Pekanbaru RIAU, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyayangkan perusa...
Bawaslu Catat 192.129 Laporan dan Pelanggaran Kampanye JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) telah menemukan dan menerima setidaknya 19...
Kanal: Nasional