Loading...

Kebijakan Impor Garam Tidak Pengaruhi Harga Garam Lokal

SAMPANG, TAJUKTIMUR.COM – Garam merupakan sektor strategis bagi Pemerintah. Harga garam saat ini sedang mencapai puncaknya akibat musim kemarau dan musim panen. Kebijakan Pemerintah yang melakukan impor garam sebesar 3,7 ton diambil untuk memenuhi kebutuhan produksi. Besaran impor itu dinilai tidak akan mempengaruhi produksi garam lokal. Bagi petani garam, harga yang ada sekarang Rp 1.600/kg sudah cukup menguntungkan. Target produksi garam pada tahun ini sebesar 2 juta ton dengan 70% hasil produksi garam berasal dari Madura. Begitu pula tingkat kebutuhan tertinggi garam produksi berada di Madura mengingat perusahaan-perusahaan yang membutuhkan garam mayoritas berada disekitar Madura yang selama ini memang dikenal sebagai penghasil garam terbesar di Indonesia.
Namun di Sampang, Madura yang merupakan salahsatu daerah produksi garam memiliki permasalahan tersendiri yakni semakin menyempitnya lahan untuk memproduksi garam.

Dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) yang membahas perihal garam dan dihadiri oleh pihak Kementrian Kelautan dan perikanan serta Kementrian Perindustrian di gedung PPKRI, Sampang, Madura pekan lalu Ketua Assosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) Jakfar Sodikin mengungkapkan pihaknya menyadari bahwa Negara membutuhkan garam impor karena ada perusahaan industri yang tidak bisa menggunakan garam rakyat (lokal). Hanya saja ia berharap garam impor yang diperuntukan kalangan industri tidak merembes keluar yang dapat mempengaruhi harga garam milik petani. “Selama itu masih sesuai kebutuhan, importasi tidak masalah, volume juga jangan terlalu banyak”, ujar Jakfar Sodikin di Sampang, Madura (Kamis, 18/10/2018).

Untuk membantu produktifitas para petani garam, khususnya memasuki musim penghujan, secara simbolik Pemerintah menyerahkan gerobak dan paket sembako kepada perwakilan para petani garam di Sampang, Madura serta mesin giling garam untuk mencegah penurunan produktifitas. Dengan adanya mesin tersebut, apabila musim hujan tiba para petani garam tetap bisa bekerja.
“Pemerintah beserta stakeholder akan memberikan perhatian khusus untuk meningkatkan hasil pertanian garam di Sampang”, jelas Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kabupaten Sampang, Drs. EC Saryono dilokasi yang sama.
FGD yang dilakukan secara terbuka antara Pemerintah dengan Forum Petani Garam Madura (FPGM) dilaksanakan untuk memperkuat sinergitas antara petambak garam Madura dengan Pemerintah Pusat dalam rangka mendukung kebijakan Pemerintah untuk kesejahteraan petambak garam. Kebijakan Pemerintah untuk melakukan impor garam sebelumnya sempat mendapat penolakan dari sejumlah elit politik dan petambak garam ditanah air.

Karena itupula untuk mengantisipasi dampak negatif dari kemunculan sebuah informasi negatif (hoax), para petani/penambak garam menggelar deklarasi damai untuk menciptakan situasi yang kondusif. “Kami petambak garam dan asosiasi petani garam se-Madura siap mendukung Polri dalam menciptakan situasi yang kondusif, menolak berita hoax, issue SARA, dan ujaran kebencian dalam rangka mensukseskan Pemilu Tahun 2019”, tegas Ketua Assosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) Jakfar Sodikin
saat deklarasi (Kamis,18/10/2018).

Berita Lainnya
Pakar: Jokowi-Prabowo Pilih ‘Main Aman’ di Debat Capres SURABAYA, TAJUKTIMUR.COM - Pakar komunikasi politik asal Universitas Airlangga Suko Widodo menilai k...
Kementerian LHK Digabung, Ini Penjelasan JK JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan penggabungan Kementerian Lingkungan...
KPU: Debat Kedua Pilpres Lebih Lancar JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, mengatakan pelaksanaan d...
Indef: Visi Jokowi Terkait B100 Sulit Dicapai JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly ...
Soal Ledakan, Wiranto: Ada pihak yang iseng dan usil sengaja membuat kericuhan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wi...
Kanal: Nasional