Loading...

Kemenag akan Klarifikasi BIN Soal 50 Penceramah Radikal

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Kementerian Agama (Kemenag) Prof Amsal Bakhtiar akan menanyakan kepada Badan Intelejen Negara (BIN) mengenai temuan 50 penceramah yang terindikasi radkalisme. Kemenag pun berencana mengundang BIN.

“Perlu klarifikasi dulu ke BIN ya. Ada rencana saya memang mau mengundang BIN juga ke kantor untuk mendapatkan informasi itu,” ujar Amsal kepada Republika.co.id di sela-sela kegiatan regional workshop di Ayana Midplaza Hotel Jakarta, Rabu (21/11).

Menurut dia, BIN perlu memberikan klarifikasi terkait hasil temuan tersebut sehingga masyarakat, khususnya umat Islam, tidak saling mencurigai satu sama lain. Namun, kata dia, BIN biasanya tidak terbuka dalam memberikan nama-nama penceramah dengan alasan bukan konsumen publik.

“Tapi kan kemudian BIN atau BNPT dalam penanganannya tidak mau terbuka mengasih nama, itu yang sulit, sehingga masyarakat saling curiga,” ucapnya.

Dia menuturkan, Balitbang Kemenag sebelumnya juga sudah biasa mengundang lembaga-lembaga riset yang terkait dengan pendidikan agama dan keagamaan. Misalnya, PPIM UIN Jakarta, Wahid Institute, LP3M, dan Setara Institute.

“Kami undang mereka untuk memaparkan hasil penelitian mereka, benar apa gak? Dan bagaimana metodenya? Kan kita tidak bisa mengklaim dulu. Kemudian berapa kali dia melakukan dan mendengar ceramah?” katanya.

Kemudian, dia menambahkan, jika temuan BIN tersebut benar maka perlu melakukan klarifikasi terhadap penceramah yang terindikasi radikal tersebut. “Dalam prinsip kami di penelitian tidak boleh marah-marah. Yang boleh kalau tidak setuju, ya teliti lagi dengan metode mereka. Itu namanya cek dan ricek,” jelasnya.

Sebelumnya, BIN melakukan pendalaman terhadap temuan 41 masjid yang terpapar paham radikalisme. Berdasarkan penelusuran BIN, ada 50 orang penceramah yang menyampaikan materi ceramah terindikasi mengandung unsur radikalisme.

Juru Bicara BIN Wawan Hari Prabowo menjelaskan, survei yang menemukan 41 masjid terpapar paham radikalisme itu dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Survei ini menyasar kegiatan khutbah yang disampaikan oleh penceramah.

“Kemudian kami sudah mendalami temuan ini. Yang jelas ada ceramah seperti itu, dan kami lakukan pendekatan pada penceramahnya,” ujar Wawan kepada wartawan di Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (20/11).

Berita Lainnya
Australia Harus Batalkan Kebijakannya Soal Ibukaota Israel JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kebijakan Australia yang mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel ...
Indonesia Diminta Berperan Lebih Stategis Hentikan Diskiriminasi Terhadap Suku Uighur JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Sekitar 1 juta suku Uighur yang merupakan warga Xinjiang, Tiongkok yang be...
Tanamkan Jiwa Bahari, PJ91 Gelar Reuni diatas KRI 591 SURABAYA, TAJUKTIMUR.COM, - Purna Jambore Nasional 1991 (PJ91) provinsi Jawa Timur kembali menggela...
Kreativitas Jurnalis Muda Meningkatkan Literasi Warga BEKASI, TAJUKTIMUR.COM - Kaum muda millennial harus kreatif, karena perkembangan ilmu dan teknologi ...
Inilah Wilayah Jabodetabek yang Berpotensi Banjir di 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan D...
Kanal: Nasional