Loading...

Kemenhub Dinilai Harus Intervensi Pemda Soal ASDP

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM — Kementerian Perhubungan dinilai harus bisa melakukan intervensi kepada pemerintah daerah soal angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP), menyusul kejadian kecelakaan kapal penyeberangan beruntun akhir-akhir ini.

“Jika melihat kemampuan APBD dan SDM yang ada, rasanya perlu intervensi pusat. Sekarang sudah ada BPTD (Badan Pengelola Transportasi Darat) di setiap provinsi, dapat membantu mendata ulang keseluruhan yang meliputi SDM, sarana dan kondisi lingkungan se-Indonesia,” kata pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Kecelakaan beruntun yang dimaksud adalah tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, pada 18 Juni, yang membawa penumpang sekitar 180-an orang serta puluhan kenderaan sepeda motor.

Kemudian, tenggelamnya KM Lestari Maju di perairan Pulau Selayar di Sulawesi Selatan pada Selasa, 3 Juli 2018. ?

KM Lestari Maju membawa penumpang sebanyak 139 orang dan 29 orang di antaranya tidak berhasil diselamatkan.

Menurut Djoko, Kemenhub dan pihak terkait lainnya perlu membangkitkan peran Pemerintah Daerah (Pemda) dalam hal keselamatan ASDP.

“Pemda Provinsi Kalimantan Timur misalnya, sudah merespon untuk membentuk Forum Keselamatan Pelayaran Kalimantan Timur. Daerah lain juga dapat melakukan hal yang sama dalam rangka peduli keselamatan transportasi air,” kata Setijowarno.

Forum semacam itu penting, kata dia, karena ASDP lebih banyak dikelola pemda, sementara dia sendiri belum serius menata transportadi di daerahnya, sehingga ada pengabaian urusan keselamatan dan pelayanan.

“Pemda selama ini lebih urus dan peduli dengan target PAD dari usaha angkutan perairan. Jarang ada pemda yang peduli transportasi perairan,” katanya.

Padahal, standar keselamatan transportasi sungai, danau dan penyeberangan telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25/2015.

Dalam PM Nomor 25/2015 itu sudah mengatur SDM, sarana dan lingkungan. SDM yang dimaksud untuk pengelola pelabuhan, awak angkutan dan pengawas alur. Sarananya pada kapal, alur sungai dan pelabuhan.

Ia katakan, setelah ada pemetaan, maka selanjutnya adalah bisa dilakukan penjadwalan aksi.

“Peningkatan kualitas SDM sangat penting untuk menambah wawasan tentang kelola transportasi perairan yang lebih profesional,” katanya.

Pengelolaan transportasi perairan bisa meniru transportasi udara dan perkeretaapian yang sudah lebih dulu maju.

“Harusnya, keselamatan bukan sekedar ucapan tetapi harus menjadi kebutuhan. Keselamatan adalah utama dalam penyelenggaraan transportasi,” kata dia.

Berita Lainnya
Artis Inneke Koesherawati Diamankan KPK JAKARTA, -TAJUKTIMUR.COM -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut mengamankan artis Inneke Koesherawati, istri terpidana perkara korupsi, Fahmi Dar...
Ciptakan Kebersamaan dan Integritas, TNI-Wartawan Outbond Bersama BOGOR, TAJUKTIMUR.COM - TNI bersama Wartawan lakukan outbond yang diselenggarakan sebagai upaya untuk menjaga dan menciptakan kebersamaan serta integr...
Aturan Listrik Surya Atap Bakal Segera Diterbitkan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal segera menerbitkan aturan atau regulasi terkait pemasangan Pembangki...
Negara Anggota FAO Apresiasi Kebijakan Indonesia di Bidang Kehutanan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Demi menjaga kemaslahatan umat manusia, PBB telah mencanangkan Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkela...
Pemerintah Ajukan Geopark Maros ke Unesco JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM — Kementerian Pariwisata akan mengajukan Geopark Maros ke UNESCO sebagai taman bumi kelas dunia atau UNESCO Global Geopark. ...
Kanal: Nasional