Loading...

Ketika Suara Kaum Ibu Menjadi Kekuatan Politik

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Tingginya tingkat populasi (jumlah) kaum perempuan di Indonesia ternyata menjadi target tersendiri dalam dunia politik terutama saat pilpres. Tak heran dari setiap kubu capres yang bertarung biasanya memiliki relawan perempuan yang terdiri dari kalangan ibu-ibu (emak-emak) dan remaja putri. Ini membuktikan bahwa suara perempuan sangat potensial untuk menambah suara. Hal itu diakui pula oleh pendiri sekaligus pembina Badan Emak-emak (BEM), Prof. Tri Erni di Markas besar GL Pro 08, jl.Menteng Dalam I, Menteng – Jakarta Pusat, Senin malam (14/10/2018).

Menurutnya dalam sebuah pemilu kekuatan Badan Emak Emak (BEM) itu hampir 80% dari perolehan suara yang diperoleh. Angka itu berasal dari seluruh Indonesia. BEM memahami kekuatan dukungan terhadap pasangan Prabowo-Sandi ibarat sebuah tubuh dengan nafasnya adalah para emak-emak militan.
Langkah para emak-emak yang turun kejalan adalah cara mereka untuk menggantikan anak-anaknya berdemonstrasi menyuarakan aspirasi sekaligus membuktikan kecintaan mereka terhadap NKRI.
“Dahulu 2014 mahasiswa turun ke jalan, kenapa 2018 justru gerakan emak-emak yang turun ke jalan? Karena para mahasiswa akan terkena undang-undang apabila dia berorasi di jalan,  dia akan diberhentikan dari kampusnya,” ujar Tri yang juga merupakan dosen mata kuliah ekonomi bisnis disejumlah perguruan tinggi di Jakarta.
Sebagaimana layaknya formasi sebuah elemen pendukung paslon capres/cawapres yang hendak bertarung, tingkat militansi emak- emak rupanya tidak bisa diabaikan begitu saja. Bagi Tri kekuatan itu luar biasa dan bisa untuk potensi kedepan. Sekarang saja BEM sudah memiliki Barisan Siaga Emak Emak,  ibarat aparat, yang harus siap siaga.
Dalam menanggapi sebuah isu yang terjadi dimasyarakat, contohnya pada lonjakan/kenaikan harga-harga yang terjadi saat ini. Jika pada umumnya kaum perempuan (ibu-ibu rumah tangga) akan menangis atau selalu berkeluh kesah, namun BEM berusaha menyikapinya dengan bijak dan mengatur strategi untuk bisa turun aksi diberbagai instansi terkait milik Pemerintah yang dianggap harus bertanggung jawab terhadap kenaikan harga-harga tersebut.

Figur capres Prabowo Subianto mau tidak mau juga harus dikaitkan dengan alasan terbentuknya BEM ini.
“Profil Prabowo itu seperti apa, sih yang harus kita bela? Prabowo adalah seorang yang sabar yang tahan banting, dalam menghadapi apapun beliau tetap sabar. Inilah kita emak-emak yang kuat tidak lemah. Sedangkan yang buruh saja yang kita tuju adalah yang gagah perkasa yang kuat mentalnya yang sabar ya, kan?”, tutur Tri, nenek yang sudah diaruniai empat orang cucu.

Selama mendirikan BEM, tentu ada suka-dukanya yang ia temui. Menurutnya rasa suka muncul manakala berkumpul dengan seluruh barisan emak-emak militan dari berbagai kalangan lintas profesi dan jabatan. Kalangan emak-emak entah itu istri jenderal, dosen, perwira ataupun ibu rumah tangga ternyata bisa berkumpul menyatukan visi dan misi tanpa ada perbedaan. Sementara dikatakan duka adalah manakala mendengar ada anggota BEM yang tengah sakit namun berdomisili jauh.
“Kekuatan emak-emak (the power of emak-emak) itu luar biasa, pagi jam 3 sudah bangun, menyapu, mengepel dan memasak. Sudah bangun pagi-pagi dengan tujuan utama adalah mengurus keluarga. Tetapi dengan ridha dari suami seorang istri untuk mengurus membela NKRI seperti ini lah, Alhamdulillah kita bersemangat untuk membagi kekuatannya membagi waktu”, ungkap Tri.

Para emak-emak yang terhabung dalam BEM seringkali mengadakan pertemuan secara rutin untuk berpolitik cerdas dalam rangka memenangkan paslon Prabowo-Sandi, diantaranya membahas berbagai isu terkini, terutama yang bisa disikapi bersama seperti isu kasus Ratna Sarumpaet, hingga kenaikan harga-harga, hingga rencana untuk berunjukrasa didepan gedung DPR RI dan mengikuti pertemuan akbar di Hambalang, Bogor pada tanggal 28 Oktober nanti.

Tri menegaskan bahwa kekuatan Barisan Emak-emak (BEM) saat ini sudah ada di 34 provinsi. Ia berharap para emak-emak yabg tetgabung didalamnya jangan sampai diricuh diributkan oleh keadaan atau kesenjangan sosial ekonomi.

Sementara itu saat diminta sikap dan penilaiannya terhadap kinerja Pemerintahan Jokowi, ibu yang juga pebisnis dibidang properti ini berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus lebih tanggap dalam mendengarkan aspirasi yang sudah disampaikan oleh para emak-emak pada sejumlah aksi unjukrasa di Jakarta. Ia juga berharap Presiden Jokowi bisa melakukan hal yang sama seperti cawapres Sandiaga Uno yang mundur dari jabatannya sebagai wakil gubernur. Jokowi yang sudah mencalonkan diri sebagai capres juga seharusnya tidak lagi menggunakan berbagai fasilitas negara.

“Pengennya emak-emak itu Presiden saat ini sudah menjadi capres makanya Presiden itu harus turun, tidak boleh menjabat. Tapi pak Jokowi masih menduduki jabatan Presiden dan masih menggunakan fasilitas negara, sedangkan pak Sandi mundur dari jabatan wakil gubernur. Maunya kita fair,lah”, serunya.
Sementara kepada KPU, ia berharap KPU netral dan independen, tidak boleh mendukung salahsatu paslon. Ia juga berharap aparat TNI dan POLRI dapat menjalankan tugasnya dengan baik dalam menjaga keamanan selama Pilpres berlangsung.
“Harapan saya untuk pilpres ini berjalan dengan damai, tidak ada lagi saling sikut-menyikut. Siapun yang menang harus ada perubahan”, harap
Tri .
Saat menanggapi berbagai program Pemerintahan Jokowi yang sudah diterapkan, dalam evaluasinya Tri mengakui BPJS dan KIP merupakan program pemerintah yang positif dan bagaimanapun telah dinikmati oleh masyarakat luas. Meski disayangkan pada peogram BPJS merugi hingga Rp 40 triliun tanpa ada kejelasan penggunaannya. Sedangkan program beasiswa atau bantuan pendidikan yang dikemas dalam KIP atau KJP menuritnya maaih seimbang sebab Kalau KJP 50 50 itu begini ibaratnya seimbang bahjan boleh dikatakan bagus. Menurutnya pada program Kartu Indonesia Pintar (KIP) itu program yang bagus. Karena itu program Presiden Jokowi yang manfaatnya dirasakan oleh anak-anak kalangan menengah kebawah. Para siswa yang berasal dari kelas ekonomi menengah kebawah sampai tingkat mahasiswa bisa melanjutkan pendidikannya dengan beasiswa.
“Program ini bagus, terutama untuk mahasiswa juga positif. Hanya saja untuk persyaratan IPK-nya sebaiknya diturunkan sedikitlah, jangan 3 lebih. Kalau sekarang bisa lah 2,7 dan seterusnya. Pokoknya dari program beasiswa pendidikan ini banyak manfaatnya, saya suka”, ungkap Tri, ibu dari empat orang anak yang sudah 14 tahun menjalani profesinya sebagai dosen.

Berita Lainnya
Kemenag Uji Coba Sistem Daftar Nikah Online JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Agama telah meluncurkan Sistem Informasi Pernikahan Berbasis W...
KPI minta PRSSNI Dorong Anggotanya Hindari Pelanggaran Siaran JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta Persatuan Radio Swasta Siaran Nas...
Pengamat: Publik Harus Pertanyakan Program Capres-Cawapres JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Feri Amsari mengatakan...
Satgas Pangan Pantau Stok Menjelang Natal dan Tahun Baru 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Satgas Pangan akan melakukan pemantauan untuk memastikan stok kebutuhan po...
Sandiaga Doakan Calon Penggantinya di DKI BEKASI, TAJUKTIMUR.COM - Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01, Sandiaga Uno menghadiri acar...
Kanal: Nasional