Loading...

KontraS Kecam Pembubaran Aksi Kamisan di Surabaya dan Malang

SURABAYA, TAJUKTIMUR.COM – Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) mengecam keras tindakan ormas dan aparat kepolisian yang membubarkan aksi kamisan di Surabaya dan Aksi Kamisan di Malang.

Kronologi di Surabaya, pembubaran aksi tersebut terjadi pada Kamis (27/9/2018) sekitar pukul 16.00 WIB sebelum aksi kamisan dimulai di Taman Apsari. Pukul 16.10 WIB massa aksi kamisan yang berjumlah sekitar 20 orang memulai aksi.

Pukul 16.35 WIB, tiba-tiba dari belakang massa yang tidak diketahui dari mana asalnya melakukan orasi dan meneriaki massa aksi dengan menyebut massa aksi sebagai antek PKI. Karena hal tersebut aparat kepolisian kemudian memaksa massa aksi untuk segera membubarkan diri. Alasannya, tidak ada surat pemberitahuan aksi. Sempat tejadi adu mulut antara massa aksi dengan ormas yang tidak mau menyebutkan identitasnya.

Pukul 17.00 WIB, aparat kepolisian dan ormas membubarkan paksa masa aksi dengan mengeluarkan ancaman kalau tidak bubar akan dilakukan tindakan kekerasan.

Hal serupa terjadi di Malang. Pada Kamis (27/9/2018), pukul 16.30 WIB, sekitar 8 orang baru tiba di Balai Kota Malang untuk melakukan Aksi Kamisan. Ternyata sudah ada ormas yang menunggu di depan Balai Kota dengan jumlah sekitar 20-an orang. Sementara polisi berjumlah sekitar 30-an orang. Aksi kamisan Malang kali ini mengangkat isu “Hentikan Hoax 65”.

Lima menit kemudian peserta aksi memulai aksinya dengan berdiri tepat di samping kerumunan ormas. Saat baru membuka poster serta payung, massa aksi langsung dihampiri oleh ormas dengan menanyakan maksud aksi tersebut. Mereka menuduh massa aksi separatis (karena ada kawan-kawan Papua) dan komunis.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjend) Federasi KontraS, Andy Irfan Junaidi, aksi kamisan adalah aksi damai yang telah dimulai sejak 18 Januari 2007 di depan Istana Negara di Jakarta oleh para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM serta aktivis HAM di Indonesia. “Di antaranya adalah korban ’65, korban Tragedi Trisakti dan Semanggi ’98, Penculikan aktivis 98, Pembunuhan Munir dan lain-lain,” katanya, Jum’at (28/9/2018)

Aksi Kamisan juga dilakukan di sejumlah kota-kota lain di Indonesia. Di antaranya Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Medan, dan beberapa kota lain. Aksi Kamisan dilakukan pada setiap Hari Kamis Pukul 16.00 WIB hingga 17.00 WIB. “Dengan terjadinya pembubaran aksi kamisan di Malang dan Surabaya, makin menambah jumlah kasus pembatasan dan pelanggaran hak kebebasan untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat,” tandas Andy.

Andy menegaskan, pihaknya mengecam keras tindakan aparat kepolisian yang membubarkan Aksi Kamisan di kota Surabaya dan Malang.Dengan seringnya terjadi peristiwa semacam ini di Jatim, menunjukkan bahwa personel Kepolisian dibawah Polda Jatim belum mampu menerapkan model Polisi Profesional yang menghormati prinsip-prinsip HAM.

“Kami mendesak agar pemerintah segera menyelesaikan berbagai peristiwa pelanggaran HAM Masa lalu di Indonesia,” ujarnya

Berita Lainnya
Santri Pondok Tahfiz Baiturrahim Kolaka Juara II MHQ Tingkat ASEAN KOLAKA, TAJUKTIMUR.COM - Santri Pondok Tahfiz Baiturrahim Kolaka, Sulawesi Tenggara Inggit Rahma Sar...
Klarifikasi Tiga Isu di Media, PP Muhammadiyah undang Dubes Arab Saudi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengundang Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi ...
Ini Harapan Gubernur DKI kepada 225 Pejabat Administrator dan Pengawas JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengharapkan 225 administrator dan pen...
Pejaten Village Terbakar, 14 Damkar Dikerahkan untuk Padamkan Api JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Sebanyak 14 unit pemadam kebakaran (damkar) Jakarta Selatan dikerahkan unt...
Ma’ruf Amin: Pembangunan Ekonomi harus dimulai dari Umat JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Calon wakil presiden KH Ma'ruf Amin mengatakan pembangunan ekonomi seharus...
Kanal: Nasional