Loading...

Lapak Depan Stasiun Tanah Abang, Gratis Atau Sewa ???

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Ratusan lapak gratis didepan stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat yang awalnya disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk para pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berdagang di trotoar jalan raya  berubah menjadi ajang bisnis bagi pemilik lapak/tenda.
Para pemilik tenda banyak yang menyewakan lokasi lapaknya kepada pihak lain yang hendak berdagang didepan stasiun Tanah Abang.

Dari hasil penelusuran dan wawancara langsung dengan sejumlah pedagang didepan stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat baru-baru ini, tajuktimur.com menemukan fakta banyak pedagang yang ternyata menyewakan lapak milik mereka kepada pedagang lain. Rata-rata harga sewa perbulan Rp 3 juta. Angka itu belum ditambah dengan ongkos bongkar pasang tenda sebesar Rp 500 ribu/bulan dan sewa gudang untuk menyimpan barang-barang dagangan berserta tenda yang rata-rata dikenakan Rp 10 ribu perhari. Total biaya yang dikeluarkan untuk dapat berdagang di area lapak tersebut sekitar Rp 3,8 juta setiap bulannya. Harga sewa tentunya semakin bervariasi manakala lapak yang dipilih berlokasi strategis, misalnya dekat dengan pintu keluar-masuk stasiun atau pintu keluar masuk gang lapak. Pada lokasi strategi itu harga sewa bisa menjadi Rp 3,5 juta/bulan sampai Rp 5 juta/bulan.

Menurut keterangan salah seorang pemilik lapak ibu A, mengaku dirinya lebih memilih untuk menyewakan kios milik kedua anaknya lantaran lelah berdagang. Lain lagi ceritanya dengan seorang pedagang asal Cirebon yang menyewa lapak bersama teman-teman sekampungnya. Ia sengaja menyewa lapak disekitar pasar Tanah Abang yang terkenal selalu ramai, terutama menjelang hari raya. Maka berapapun harga sewa lapak sejauh ramai pembelinya, ia dan kawan-kawan patungan menyewanya. Para pedagang juga merasa aman karena ada tokoh masyarakat dan ormas setempat yang sering mengontrol para pedagang dan situasi disekitar lapak.

Pedagang yang berjualan di lapak depan stasiun Tanah Abang sebenarnya berasal dari berbagai daerah dan bagi penyewa lapak kebanyakan dari luar Jakarta, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jabodetabek, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Kebanyakan mereka berdagang pakaian, asesoris, tas dan sepatu.

Seorang pedagang asal ranah Minang (Sumatera Barat), dengan inisial A mengatakan tidak semua calon penyewa bisa menyewa lapak disitu, hanya orang-orang tertentu saja yang memegang informasi lapak-lapak mana yang siap untuk disewakan beserta harga yang ditawarkan.

“Ada 300-an lapak disini, bisa over sewa tapi tidak banyak orang yang tahu jalurnya. Penyewa boleh join (bergabung dengan pedagang lain) untuk menyewa lapak”, terangnya sembari menjajakan dagangan, di lapak pasar Tanah Abang depan stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat (Selasa,24/07/2018).

Lain halnya cerita ibu M, pedagang minuman yang hanya membutuhkan separuh dari luas lapak yang ada untuk meletakkan box minumannya. Ia patungan menyewa setengah lapak seharga Rp 1,5 juta/bulan ditambah Rp 250 ribu/bulan untuk ongkos bongkar-pasang tenda. Separuhnya lagi ditanggung oleh pedagang lainnya yang menggunakan sisa lahan lapak.

Ibu M sendiri merupakan warga asli Jakarta dan ber-KTP Jakarta, namun ia tidak mengetahui kalau ternyata asal-usul lapak yang disewanya adalah gratis disediakan oleh pemprov yang kemudian ditempati oleh penyewa.

“Saya asli Jakarta dan pastinya memiliki KTP Jakarta, tapi saya tidak tahu kalau Pemprov menyediakan lapak ini gratis dulunya,” ungkap ibu M.

Lapak gratis yang disediakan khusus bagi warga Jakarta terutama PKL yang tinggal dikawasan Tanah Abang dibenarkan oleh ibu A, yang merupakan orang kepercayaan tokoh masyarakat diwilayah pasar Tanah Abang, sekaligus pengurus RT sekitar lapak.

“Menyewa lapak disini tidak ada kutipan/pungli macam-macam. Penyewa cukup membayar sewa bulanan beserta ongkos bongkar pasang tenda dan sewa gudang jika hendak menitipkan barang dagangannya”, terang ibu A.

Menurutnya, beberapa pemilik lapak menyewakan tempat usahanya karena bosan berdagang. Dan ia juga mengakui awalnya lapak yang ada ditempat itu memang disediakan gratis bagi PKL yang merupakan warga kecamatan Tanah Abang.

“Warga yang sudah bosan dagang, lebih memilih untuk menyewakan lapak miliknya. Kalau sewaktu-waktu ada pemeriksaan dan ditanya kepemilikannya maka penyewa tinggal meminta KTP pemilik lapak. Bagi pedagang yang baru menyewa juga tidak perlu lapor ke PPM (sebuah ormas pengendali kawasan lapak pasar Tanah Abang) atau siapa saja, sebab lapak yang ada menjadi tanggung jawab pemiliknya,” jelas ibu A.

Setidaknya 400 PKL Tanah Abang diperbolehkan berjualan di Jalan Jatibaru Raya (persis depan stasiun Tanah Abang)  mulai Jumat 22 Desember 2017. Setiap hari sebagian  jalan raya tersebut ditutup mulai pukul 08.00-18.00 WIB. Dan setelahnya jalan akan dibuka kembali untuk dapat dilalui oleh pengguna kendaraan.

Informasi yang beredar dikalangan pedagang, lapak pasar Tanah Abang tersebut akan dibuka hingga Oktober mendatang. Setelah itu dilokasi dagang akan dibuat fly over, dan pedagang akan dipindahkan kebawah fly over Jatibaru.

Berita Lainnya
Panglima Kogasgabpad Serahkan Kunci Rumah Kepada Warga Lombok LOMBOK, TAJUKTIMUR.COM - Panglima Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Rehabilitasi dan Reko...
PKS Targetkan Keterwakilan Perempuan di DPRD Sukabumi Naik SUKABUMI, TAJUKTIMUR.COM - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Sukabumi menargetkan keterwakilan pe...
Lion Air: Identifikasi Korban Masih Tetap Dilakukan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro m...
BIN: Tujuh PTN di 15 Provinsi Terpapar Paham Radikal JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Juru Bicara Badan Intelijen Nasional (BIN) Wawan Purwanto mengatakan, ada ...
Ma’ruf Amin Imbau Pendukung Capres Selalu Rukun MEDAN, TAJUKTIMUR.COM - Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 1 KH Ma'ruf Amin menyerukan, agar...
Kanal: Nasional