Loading...

Ma’ruf Amin Imbau Pendukung Capres Selalu Rukun

MEDAN, TAJUKTIMUR.COM – Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 1 KH Ma’ruf Amin menyerukan, agar para pendukung capres-cawapres untuk terus menjaga sikap toleran dengan tidak saling bertengkar. Apalagi, Nabi Muhammad SAW juga sudah menunjukkan jalan kelembutan adalah yang bisa merubah.

Hal itu disampaikan Kiai Ma’ruf dalam tausiahnya dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadalah oleh Relawan Jokowi-Ma’ruf Amin (Jamin) di Kota Medan, Selasa (20/11). Acara itu dihadiri oleh lebih dari 4000 ribuan warga dan majelis taklim setempat. Hadir Menantu Presiden Jokowi Bobby Siregar, Ustad Yusuf Mansur, dan Walikota Binjai H. Muhammad Idaham.

“Jadi berbeda partai pun, harus toleran juga. Sesama anggota partai tidak perlu bertengkar. Berbeda capres, sebagai bangsa, kita harus tetap rukun. Inilah namanya toleran,” kata Kiai Ma’ruf dalam keterangan resminya, Selasa (20/11).

Kiai Ma’ruf mengatakan, perilaku cinta dan kasih sayang diantara sesama harus terus dikedepankan dan diutamakan. Kiai Ma’ruf mengibaratkan seluruh rakyat Indonesia seperti satu badan. Jika satu anggota badan merasa sakit, maka anggota badan yang lain pun juga akan sakit.

“Ini yang kita pahami. Maka berbeda agama, berbeda suku, tetap kita membangun mawaddah wa rahmah. Bukan saling membenci dan saling memusuhi,” ujarnya.

Kiai Ma’ruf bercerita bagaimana memprihatinkannya di sejumlah negara di Timur Tengah. Sesama umat Islam di sana, bisa saling terlibat konflik. Hal itu terjadi di Suriah, Yaman, dan Afghanistan. Kiai asal Banten dan punya darah Madura itu menegaskan, bahwa umat Islam Indonesia tak boleh seperti itu.

“Karena kita berpegangan pada prinsip ukhuwah islamiyah, sesama umat Muslim, sesama warga negara Indonesia,” ucapnya.

Diceritakan oleh Kiai Ma’ruf, bahwa Nabi Muhammad SAW mampu mengubah perilaku umat di jamannya dalam waktu 21 tahun. Dan dalam mengajak untuk berubah, Nabi Muhammad melakukannya dengan sangat santun.

Cara nabi itupun dipakai oleh para kiai pada jaman Nusantara. Ulama-ulama itu menasehati, bukan memaki-maki. Mengajak, bukan mengejek, dan merangkul bukan memukul, kata Kiai Ma’ruf. Dengan cara santun itulah Indonesia bisa menjadi negara Muslim terbesar di dunia seperti saat ini.

“Sebagian besar kita ini adalah umat Muslim. Dengan kesukarelaan, tidak ada paksaan. Tidak ada paksaan dalam agama. Tidak ada intimidasi. Tidak ada teror,” kata Kiai Ma’ruf.

Berita Lainnya
Inilah Wilayah Jabodetabek yang Berpotensi Banjir di 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan D...
KPU Tetapkan DPT Hasil Perbaikan untuk Pemilu 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar rapat pleno terbuka Daftar Pemilih T...
Polisi Tangkap Perusak Atribut Partai Demokrat di Pekanbaru PEKANBARU, TAJUKTIMUR.COM - Polisi telah menangkap seorang terduga perusak atribut Partai Demokrat d...
Kapendam Cendrawasih: Situasi Nduga Berangsur Normal JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, mene...
SBY Sayangkan Perusakan Atribut Demokrat di Pekanbaru RIAU, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyayangkan perusa...
Kanal: Nasional Pemilu