Loading...

Moment Sumpah Pemuda, Ingatkan Mahasiswa untuk Tetap Bersatu Melawan Hoax

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Moment peringatan hari Sumpah Pemuda yang menggaungkan pentingnya persatuan bangsa dan tahun politik menghadapi pesta demokrasi pemilihan presiden (pilpres) dan para anggota legislatif (pileg) 2019 menjadi bagian tersendiri bagi para mahasiswa untuk kembali mengingatkan masyarakat luas akan pentingnya sikap dewasa dan bijaksana dalam menyikapi berbagai informasi yang tidak benar (hoax). Hoax menjadi perhatian tersendiri bagi mahasiswa, sebab seiring dengan perkembangan teknologi dan banyaknya masyarakat yang menggunakan media sosial (medsos) tentunya akan memanfaatkan oleh sejumlah pihak untuk kepentingan politik. Jika medsos digunakan secara positif tentunya justru akan mendatangkan banyak manfaat bagi masyarakat, tapi jika digunakan secara negatif justru akan menimbulkan gesekan dilapisan masyarakat yang berpotensi memecahbelah persatuan bangsa.

Sebagai pemuda kalangan mahasiswa menghimbau seluruh elemen masyarakat dan pemuda untuk mengadakan diskusi secara umum atau deklarasi yang mengajak masyarakat agar bisa memanfaatkan dan menggunakan berbagai informasi secara positif dan produktif. Sekarang ini banyak isu SARA dan hoax yang dijadikan alat politik, karena itu pemuda dan mahasiswa sekarang harus memiliki wawasan yang lebih luas dan mampu menggunakan informasi dan isu hoax itu secara benar. “Kita harus lebih sering sharing dan mengadakan diskusi dengan masyarakat, bahkan kalau perlu melakukan deklarasi tentang bahaya hoax ini seperti apa dan bahaya/efek yang berkelanjutan dari hoax”, ujar Nadia Yulianda, dari Universitas Jayabaya sekaligus Dewan Pembina Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Indonesia (BEM RI) di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki, Jakarta (28/10/2018).

Dari sisi IT sendiri medsos, website dan apapun itu sebenarnya hanyalah alat, sebab yang paling penting adalah bagaimana si user sendiri dalam memanfaatkan alat tersebut. Dan masyarakat bersama perangkat hukum (POLRI) juga perlu mengantisipasi setiap potensi-potensi dan juga ancaman-ancaman yang beredar melalui medsos. Pentingnya literasi kepada masyarakat untuk menggunakan medsos dengan baik perlu digalakkan lagi oleh Pemerintah.
“Media sosial dan semua perangkat-perangkat teknologi ketika kita gunakan secara positif dia akan menjadi suatu wadah edukasi bagi masyarakat dan bisa digunakan secara luas tetapi ketika digunakan untuk hal-hal yang negatif dia bisa menjadi suatu senjata yang sangat ampuh”, ungkap Anthony Yudha Purba, mahasiswa jurusan Sistem I formasi universitas Gunadarma yang juga aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jakarta di Jakarta (28/10/2018).

Oleh karena itu Anthony menambahkan peran aparat penegak hukum seperti kepolisian dan elemen-elemen masyarakat lainnya sangat penting untuk mengcover (mengantisipasi) setiap potensi-potensi dan juga ancaman-ancaman yang beredar melalui medsos. Pentingnya literasi kepada masyarakat untuk menggunakan medsos dengan baik juga perlu digalakkan lagi oleh Pemerintah.

Menyikapi perkembangan dan situasi dimasyarakat pada tahun politik kini, para mahasiswa pun harus mengingat kembali bahwa tugas pokok mahasiswa adalah belajar dan mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salahsatunya dengan ikut mengabdikan diri didalam lingkungan masyarakat.
“Mahasiswa memang garda terdepan dalam pembangunan bangsa, maka kita juga harus membaur dengan masyarakat. Apalagi sekarang sedang hangat-hangatnya soal hoax, dan tonggak awal filternya itu adalah di tingkat kepolisian secara hukum”, ungkap Feri Andika Saragih, pengurus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur dari Universitas Kristen Indonesia (UKI). Feri juga mengingatkan agar masyarakat dan mahasiswa membantu aparat Kepolisian dalam mengahadapi isu hoax. Salahsatu tips yang bisa dipakai dalam mengantisipasi hoax adalah dengan berusaha memfilter (menyaring) informasi tersebut, dimulai dari pendekatan yang dilakukan terlebih dahulu.

“Bertepatan dengan momen menuju Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober, dimana kita bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, Indonesia, maka jangan hanya karena berbeda pilihan,  lantas kita menjadi lupa asal kita  dari mana. Kita juga harus sadar bahwa founding father kita membangun bangsa ini dengan berbagai macam perbedaan pandangan, suku ras agama dan antargolongan. Jadi ayo, dong  kita bersama-sama untuk membangun bangsa kita yang tercinta ini”, ajak Feri.

Berita Lainnya
SPKKL Kupang Uji Coba Aplikasi Pelaporan Kejadian Laut Berbasis Android KUPANG, TAJUKTIMUR.COM - SPKKL Kupang mengajak peran serta masyarakat pesisir dalam menjaga keamanan...
BMKG: Waspada Potensi Banjir dan Longsor Meningkat JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau masuknya mus...
Kemenag Uji Coba Sistem Daftar Nikah Online JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Agama telah meluncurkan Sistem Informasi Pernikahan Berbasis W...
KPI minta PRSSNI Dorong Anggotanya Hindari Pelanggaran Siaran JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta Persatuan Radio Swasta Siaran Nas...
Pengamat: Publik Harus Pertanyakan Program Capres-Cawapres JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Feri Amsari mengatakan...
Kanal: Nasional