Loading...

Pemerintah Menjamin APBN Dalam Kondisi Sehat

YOGYAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Pemerintah menjamin Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam kondisi sehat berkat strategi perencanaan sekaligus memastikan penyaluran keuangan negara secara konsisten ditujukan untuk mencapai tujuan pembangunan ekonomi Indonesia yakni masyarakat yang adil dan makmur.

Tentu saja untuk memahami APBN dan tujuan pembangunan ekonomi Indonesia dibutuhkan generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai agen perubahan di masyarakat yang memahami APBN secara holistik.

“Dengan memahami APBN, mahasiswa menjadi paham pemerintah secara konsisten mewujudkan cita-cita masyarakat yang adil dan makmur yaitu mengentaskan kemiskinan, mengurangi ketimpangan dan meningkatkan produktivitas dan daya saing,” tutur Dr. Luky Alfirman, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu dalam Kuliah Umum bertema “Membangun APBN yang Kuat dan Generasi Muda yang Cerdas APBN” di Yogyakarta, (23/7/2018) kemarin.

Dalam Kuliah Umum yang digelar Program Magister Sains dan Doktor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada ini Dr. Luky Alfirman memaparkan optimisme Indonesia di masa mendatang berkat pencapaian sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar dengan pertumbuhan tertinggi.

Hingga kuartal pertama 2018, pertumbuhan PDB Indonesia mencapai 5,06% atau lebih tinggi dibandingkan Q1 2017 yang menandakan membaiknya aktivitas produksi.
Sementara dari sisi pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pengeluaran untuk barang modal sebagai investasi (PMTB) menjadi penyumbang utama pertumbuhan pada kuarta lI 2018, terjadi peningkatan kontribusi ekonomi domestik yang berasal dari investasi yang artinya ekonomi dalam negeri yang lebih produktif.

Hal ini didukung kontribusi investasi yang mengalami peningkatan yang sangat signifikan seiring pembangunan infrastruktur fisik yang tetap berjalan dan pertumbuhan barang modal yang terus membaik.

Kondisi ini membuat berbagai institusi dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia akan meningkat pada 2018. Faktor pendorong tersebut antara lain konsumsi yang masih terjaga, inflasi yang terkendali, investasi yang tumbuh stabil, dukungan akselerasi infrastruktur, perbaikan iklim usaha dan paket-paket kebijakan, ekspor dan impor yang terus membaik didorong peningkatan demand dan harga komoditas.

“Tidak diabaikan adanya dorongan dari beberapa kegiatan penting berskala besar antara lain Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, Pilkada Serentak, dan IMF-World Bank Annual Meeting di Bali,” tuturnya.

Meski demikian, dia melanjutkan, tetap terdapat tantangan seperti ketidakpastian perekonomia global, moderasi Tiongkok dan kerentanan pasar keuangan, normalisasi kebijakan moneter negara maju, geopolitik dan perubahan iklim.

Hingga saat ini terdapat tantangan pembangunan infrastruktur Indonesia yang masih di bawah rata-rata negara yang setara, kualitas SDM Indonesia hingga riset dan teknologi yang masih tertinggal dibanding negara lain.

“Untuk itu pemerintah merancang APBN sebagai instrumen untuk menciptakan pertumbuhan, kesejahteraan dan pemerataan yang mendorong investasi SDM dan infrastruktur yang merupakan hal vital di era industri 4.0,” tuturnya.

Penguasaan tentang struktur ekonomi sangat penting karena bisa menjadi dasar dalam menentukan kebijakan. Dengan itu mahasiswa bisa memahami sejumlah kebijakan ekonomi masyarakat. Tak terkecuali kebijakan terkait hutang Indonesia yang akhir-akhir ini banyak menuai kritik.

Utang yang dilakukan diperlukan agar pemerintah dapat menjalankan fungsi penting dan mendesak dengan lebih cepat tanpa penundaan. Utang dapat meningkatkam pertumbuhan ekonomi. Karena dalam kondisi perekonomian melamban, stimulus fiskal melalui utang dapat mendorong pertumbuhan.

“Pertumbuhan itu dapat mendorong peningkatan penerimaan pajak di masa mendatang, untuk dapat kembali membayar utang tersebut. Utang juga untuk investasi sebagai pemerataan tanggung jawab antargenerasi dalam penyediaan aset,” paparnya.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM Yogyakarta Eko Suwardi mengatakan bahwa APBN merupakan sebagai instrumen pembangunan. Mahasiswa sebagai kaum muda intelektual harus memiliki bekal yang cukup akan pemahaman APBN, terkait dengan pengelolaan maupun sumber anggarannya.

Dia berharap mahasiswanya bisa cerdas APBN dengan mendapatkan kuliah tersebut. Karena dengan cerdas APBN, pasti akan memanfaatkan APBN dengan sebaik-baiknya, baik ketika kelak sebagai pengusaha yang menjadi rekanan pemerintah atau sebagai pelaksana di pemerintahan.

“Karena Pak Dirjen termasuk orang pertama yang menjalankan APBN, sehingga tahu persis apa APBN itu. Kami mendorong generasi muda agar cerdas APBN, agar ke depan bisa memanfaatkan APBN sebaik-baiknya ketika sudah terjun ke lapangan baik di pemerintahan maupun swasta,” terangnya.

Berita Lainnya
Pakar: Jokowi-Prabowo Pilih ‘Main Aman’ di Debat Capres SURABAYA, TAJUKTIMUR.COM - Pakar komunikasi politik asal Universitas Airlangga Suko Widodo menilai k...
Kementerian LHK Digabung, Ini Penjelasan JK JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan penggabungan Kementerian Lingkungan...
KPU: Debat Kedua Pilpres Lebih Lancar JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, mengatakan pelaksanaan d...
Indef: Visi Jokowi Terkait B100 Sulit Dicapai JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly ...
Soal Ledakan, Wiranto: Ada pihak yang iseng dan usil sengaja membuat kericuhan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wi...
Kanal: Nasional