Loading...

Pemerintah Targetkan Angkutan Umum Mendominasi Tahun 2029

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Salah satu masalah utama yang dihadapi oleh Jakarta adalah lalulintas yang sangat padat dan tanpa disiplin.

Begitu banyak kerugian yang disebabkan olehnya, diantaranya waktu tempuh yang sangat panjang dan tak masuk akal lagi, kualitas udara yang buruk yang mengganggu kesehatan, pemborosan bahan bakar minyak yang bisa lebih dari seratus persen penggunaan normal, dan masih banyak lagi kerugian material yang membuat kota ini menjadi kehilangan daya saing.

Bahkan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) telah mengkalkulasi kerugian akibat kemacetan di Jakarta pada tahun 2017 saja mencapai Rp 67,5 triliun.

Seperti yang disampaikan oleh Direktur Rembang BPTJ, Sigit Irfansyah di Jakarta (21/02/2018) , bahwa kegiatan transportasi dijalan raya kini didominasi sepeda motor yang mencapai 75%. Kendaraan bermotor setiap tahun meningkat tajam dengan rata-rata pertumbuhan diatas 5% selama 5 tahun terkahir.

Sedangkan panjang jalan hanya bertambah kurang dari 0,1%, komposisi lalulintas secara umum berdasar statistik BPS DKI Jakarta 2016 : Sepeda motor (73,92%), mobil penumpang (19,58%), mobil beban (3,83%), mobil bus (1,88,%), dan kendaraan khusus (0,79%).

Dengan jumlah kendaraan bermotor lebih dari 18 juta unit, jika ditempatkan secara berjejer di seluruh jalan raya di Jakarta, maka mustahil bagi kendaraan tersebut bergerak alias “berhenti total”.

Masih banyaknya lintasan rel kereta api yang sejajar dengan jalan raya masih menimbulkan kemacetan. Jika saja seluruh proyek underpass selesai ditambah lagi dengan meningkatnya layanan angkutan massal Trans Jakarta (busway), kemacetan yang disebabkan oleh lintasan sejajar kereta api tersebut diharapkan bisa terurai.

“Ada 17 stasiun yang akan disinergikan dengan Trans Jakarta. Masalahnya kita tidak punya cukup lahan. Trans Jakarta sendiri mempunyai target bisa mengangkut 700 ribu penumpang/hari tapi sampai sekarang baru bisa mengangkut 400-500 ribu penumpang/hari,” jelas Direktur Rembang BPTJ, Sigit Irfansyah di Jakarta (21/02/2018).

Sigit menambahkan, untuk meningkatkan cost share dari angkutan umum Trans Jakarta sudah sampai Jabodetabek. Ia meyakini hanya Jakarta yang mampu mengadakan fasilitas transportasi massal dibandingkan daerah lain termasuk Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Kemacetan yang sering terjadi dikawasan Cikarang-Bekasi menurutnya lebih disebabkan karena berkurangnya kecepatan kendaraan yang melintasi Jakarta-Cikampek. Tingginya pengiriman barang melalui darat atau kendaraan angkutan barang dikarenakan ongkos pengirimannya lebih efisien dan ekonomis

“Kami sudah pernah melakukan perhitungan kerugian akibat kemacetan di Jakarta tahun 2017 saja mencapai Rp 67,5 triliun. Oleh sebab itu target 2029 angkutan umum sudah mendominasi, dan kecapatan KRL arah Puncak bisa berada pada 30 km/jam”, harap Sigit.

(dw)

Berita Lainnya
Inilah Wilayah Jabodetabek yang Berpotensi Banjir di 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan D...
KPU Tetapkan DPT Hasil Perbaikan untuk Pemilu 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar rapat pleno terbuka Daftar Pemilih T...
Polisi Tangkap Perusak Atribut Partai Demokrat di Pekanbaru PEKANBARU, TAJUKTIMUR.COM - Polisi telah menangkap seorang terduga perusak atribut Partai Demokrat d...
Kapendam Cendrawasih: Situasi Nduga Berangsur Normal JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, mene...
SBY Sayangkan Perusakan Atribut Demokrat di Pekanbaru RIAU, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyayangkan perusa...
Kanal: Nasional